Headlines News :
Home » » 34 TAHUN TEATER PAYUNG HITAM: RAHMAN SABUR DAN TEATER DARI KEBISINGAN KATA-KATA

34 TAHUN TEATER PAYUNG HITAM: RAHMAN SABUR DAN TEATER DARI KEBISINGAN KATA-KATA

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 19 Desember 2016 | 02.14.00



Instalasi Tubuh 34 Tahun Teater Payung Hitam. Foto: John Heryanto

Ini sangat personal dan pribadi sekaligus  menjadi refleksi bagi saya, disitu saya belajar bicara kembali’.[1] Begitulah teater bagi Rahman Sabur, yang mulai berkesenian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mulanya menulis puisi yang dikirim ke radio-radio lantas ke kolom ‘pertemuan kecil’ di Pikiran Rakyat (1979) yang diasuh oleh Saini KM . Rahman Sabur sendiri meyebut keberangkatan teaternya dari verbal ke non verbal[2]. Sebagaimana halnya teater modern pertama di Indonesia yang bersandarkan pada naskah drama, Begitu juga dengan Teater Payung Hitam yang mulai dengan pertunjukan pertamanya ‘Aduh’ (1982) dari Putu Wijaya lantas memulai pertunjukan nonverbal pertamanya dengan ‘Tuhan dan Kami’ (1987) karya Rachman Sabur dan Harry Roesly. 

Bila melihat kedekatan Rahman Sabur dengan puisi dan teater disini ada kesamaan dimana ketika Rachman Sabur berhenti menulis puisi yang dikirimkan ke koran-koran maka berakhir pula pertunjukan Teater Payung Hitam dengan pertunjukan verbal. Meski Teater Payung Hitam juga menggarap teater verbal tapi Teater Payung Hitam lebih sering menggarap non verbal sejak tahun 1987. Ada apa dengan teater pada waktu itu sehingga banyak kelompok teater yang memilih bentuk – bentuk teater eksperimen? Hal ini tentunya sebuah kewajaran bila wacana dan diskusi teater sudah jarang dilakukan. Jika pun ada wacana teater mengalami kemandegan dan hanya berkutat dalam persoalan menimbang dan membaca tradisi, dan identitas ke Indonesia-an atau yang BenJon sebut sebagai ‘Teater tanpa sejarah nasional’sebab identitas dan tradisi merupakan wacana kebudayaan yang berkembang sejak pra kemerdekaan yang diawali oleh  para pujangga lama, angkatan Balai Pustaka dan lain-lain.

Pada masa Orde Baru sendiri bahasa hadir sebagai sebuah kekerasan, dimana hahasa Indonesia ditertibkan dengan diberlakukannya ejaan yang disempurnakan pada tahun 70-an. Lihat saja gaya berpidato di masa Orde Baru yang lantang, tegas dan menekan sehingga tak dapat lagi ditolak dan disana kata-kata berfungsi sebagai perintah. Dimasa Orde Baru itu pula ada begitu banyak larangan, tidak hanya larangan berkesenian tapi juga ada larangan berbicara.  Sungguh mengerikan jika membayangkan itu semua. Hal ini pula pada akhirnya memiliki dampak terhadap berbagai kesenian yang lahir pada masa tersebut dan disitu teater menjadi subversiv.


Karya-karya ketubuhan atau nonverbalnya Teater Payung Hitam sendiri pada masa Orde Baru hingga paska reformasi awal hadir sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap situasi yang berlangsung dan disana ada resistensi. Ada pun karya-karya Teater Payung Hitam pada masa tersebut diantaranya: Tuhan dan Kami (1987) Ritus Topeng Ritung (1989), Meta Teater-Dunia Tanpa Makna (1991), Rupa Gerak Bunyi (1991), Kaspar (1994), Teater Musik Kaleng (1996), Merah Bolong Putih Doblong (1997), Kata Kita Mati (1998), Teater Musik Kaleng (1996), Tiang ½ Tiang (1999), Dom dan Orang Mati (2000), Bersama Tengkorak (2001), Etalase Tubuh yang sakit (2002), Awas Awas (2003) dan Choice and Hunter’s Machine (2003). 

Bahasa sehari-sehari nyatanya memang menyakitkan dan pada setiap harinya kekerasan itu berlangsung dimana setiap orang  menertibkan dirinya sendiri atas kata-kata yang dikeluarkannya seolah ada penjara dalam mulut dan disana ada kenyataan hidup yang menyakitkan, situasai yang tidak menentu dan lain sebagainya sehingga bahasa menjadi bising dan Rahman Sabur dengan Teater Payung Hitam-nya memilih kesunyian sebagai cara memurnikan bahasa  dari kekacauan hidup yang berlangsung dihadapan mata. Hingga kini  34 tahun sudah Teater Payung Hitam berjalan di jalan yang sepi, jalan konfrontasi pada kenyataan Indonesia yang sakit dan tak sembuh-sembuh dan selamat ulang tahun, panjang umur perlawanan.


(John Heryanto)


[1] Video Dari Kata Menuju Tanpa Kata –Teater Payung Hitam tentang proses pertunjukan Puisi Tubuh Runtuh.
[2] Berdasarkan obrolan santai dengan Rahcman Sabur ketika terlibat dalam proses pertunjukan Teater Payung Hitam di tahun 2012.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger