Headlines News :
Home » , » DAN GEMBALA DARI TUBUH DAN KATA SERTA TOSHIKI OKADA

DAN GEMBALA DARI TUBUH DAN KATA SERTA TOSHIKI OKADA

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 12 Desember 2016 | 01.58.00

John Heryanto
Waktu Itu?. Gambar: John Heryanto

Tubuh seperti pula kata ia memiliki cara dan bahasanya sendiri dalam memperlihatkan dirinya, kata memiliki kamusnya sendiri begitu juga dengan tubuh yang menyimpan susunan geraknya serupa abjad. Keduanya memiliki sejarahnya sendiri dan caranya sendiri dalam menjalani hidup. Sejak kecil aku tumbuh bersama kata dan tubuh ini. Pada umumnya ketika seorang bayi lahir, ia menjerit karena kekagetan tubuh yang di dorong dan ditarik ke tempat yang belum pernah di tinggali, asing memang rasanya. Kaki ini ditarik oleh paraji atau bidan. Tangisan itu adalah bahasa pertama yang aku kenal ketika hidup sebagai manusia.  Apakah tangisan itu adalah bahasa yang lahir dari kata-kata, atau bahasa yang lahir dari tubuh? Lantas belajar berjalan, berkata-kata hingga aku terbiasa menggunakan tubuh ini untuk apa saja begitu juga kata-kata ini. Tapi  sungguh aku tidak ingat bagaimana mulanya aku akrab dengan tubuh sendiri, juga dengan kata-kata yang aku ucapkan setiap hari. Bagaimana jadinya bila aku dipisahkan dari tubuh dan kata-kata? Dimanakah aku harus berdiam ketika tubuh dan kata telah berpisah? Kiranya begitu juga dengan teater, dimana ia akan meminjam tubuh dan kata-kata untuk menyapa penontonnya. Kalau pun tidak, teater akan memilih salah satunya yaitu teater tubuh atau teater yang bertumpu pada kata-kata.

Pentingkah kata-kata dan tubuh ini dalam teater? Bila pertanyaan itu diajukan kepada Toshiki maka jawabannya: tidak penting! Lantas mengapa kata-kata dan tubuh tidak lagi dibutuhkan dalam teater? Inilah kiranya yang membedakan teaternya Toshiki dengan teatar yang lainnya. Setiap hari aku terbiasa menggunakan tubuh dan kata-kata ini dalam berkomunikasi dengan orang lain maupun ketika sendirian membuka laptop atau mandi sambil menyanyi semuanya biasa-biasa saja. Tapi ketika bermain teater tiba-tiba aku mencari-cari caranya berucap, mencari-cari gerakan tubuh ketika berkata, mencari-cari gaya pengucapan, mencari-cari cara begerak, mengeraskan suara dan kadang-kadang sedikit berteriak agar terdengar, membesar-besarkan gerakan agar terlihat juga oleh penonton di ujung sana dan kadang-kadang mengecilkan gerakan, serta berbagai hal terus dicari agar terlihat bagus, enak diliat, dan lain sebagainya bahkan sebelum melakukan apa-apa kepala ini malah berpikir estetis dan tidak esetis dengan setumpuk literatur. Sunguh aneh memang, tiba-tiba saja aku seperti orang yang tidak pernah bertemu dengan tubuh dan kata-kata padahal melekat di badan dan setiap hari digunakan dalam menjalani aktifitas. 

Tubuh seperti halnya kata-kata ia memiliki kebiasaannya sendiri-sendiri dan masing-masing memiliki teritorinya. Bahasa Indonesia atau pun bahasa Sunda memang akrab denganku tapi sejak kapankah kata-kata dari bahasa tersebut tinggal dalam diriku dan bagaimana kata-kata itu hidup didiriku. Ada begitu banyak hal yang terlewatkan bahkan lupa bagimana sebetulnya mulut ini melapalkan kata-kata tersebut. Begitu juga tubuh ini, ia begitu dekat denganku. Disana ada begitu banyak kenangan dan catatan-catatan yang ditulisnya setiap kali bergerak dan sepanjang hidup itulah tubuh terus mencatatnya. 

Bagi Toshiki hal yang utama dalam menciptakan teater adalah ‘image’ sebab ‘image’ itu pula yang akan dilihat oleh penonton. 'Image' adalah gembala bagi kata-kata dan tubuh. ‘Image’ ini tentunya tidak seperti ‘image’ dalam bahasa Inggris. Ia adalah sesuatu yang tak ter-apakan, ia hanyalah padanan kata yang dipilih Noriko untuk menjelaskan sesuatu dari keyakinan Toshiki agar mudah ditangkap oleh peserta lokakarya. ‘Image’ ini serupa gudang penyimpanan arsip kata-kata, arsip tubuh, dan setumpuk arsip-arsip lainnya yang tersimpan di badan. Seperti kita menuliskan sebuah kata dalam pencarian google. Maka akan banyak muncul, hal-hal yang berkaitan dengan kata yang kita tuliskan. Begitulah kiranya 'image' tersebut tinggal bersamaku. Persoalannya kapankah aku menggunkan ‘image’ dalam kehidupan sehari-hari selain tubuh dan kata? Itulah yang selama ini luput dari badanku, sehingga belum akrab atau bahkan belum berkenalan sama sekali dengan sang ‘image’. 

Waktu Itu Juga. Gambar: John Heryanto


Hal pertama yang dilakukan untuk bertemu dengan ‘image’ ialah memulai dari hal dekat denganku yaitu sebuah rumah. Maka aku pun akan bercerita tentang rumah. Rumah dimana aku pernah tinggal di dalamnya, dimana tubuh itu sempat rebahan, menyentuh dinding-dinding temboknya, menatapnya setiap hari sehingga aku tidak merasa asing ketika berada di dalamnya.  Apakah kata-kata pernah tinggal di rumahku? Inilah soalnya, kata-kata tidak sempat tidur di kasur, menyentuh tembok, duduk dan bermalas-malasan di tikar seperti halnya tubuh. Bagaimana aku bisa bercerita tentang rumahku secara akrab bila hanya tubuh ini saja yang sempat tinggal di dalam rumah sementara kata-kata tidak. Aku pun akan bercerita tentang rumah dengan meminjam tubuh dan kata-kata yang ada di mulutku saja, barangkali huruf itu telah bertegur sapa dengan gigi dan lidah sehingga lancar bercerita. Tapi persoalannya aku terlalu percaya pada tubuh dan kata-kata padal ia belum tentu aku yang sebenarnya bernama John dan yang tinggal di rumah John. Mestinya membiarkan sang ‘image’ menuntun huruf-huruf di mulutku berserta tubuhku ini kepada sesuatu yang tak ter-apakan. Lantas kenapa aku mesti percaya pada ‘image’? ‘image’ berkaitan dengan data, bawah sadar dan lain lain. Bila diumpamakan 'image' dalam sebuah kamar, maka 'image' itu adalah ruang hampa di bawah kolong ranjang, di antara dinding yang satu dengan dinding yang lainnya yang tidak berwujud seperti ranjang maupun dinding tembok. 

Untuk akrab dan bersahabat dengan 'image' tentunya harus dijadwalkan bertemu setiap hari, bertegur sapa layaknya pertemuan aku dengan kata dan tubuh yang menempel di badan tentunya berdasarkan kebiasaan. Sebab kebisaan inilah yang membedakan aku dengan orang lain. Sejauh ini menurut Toshiki ketika ngobrol santai setelah lokakarya bahwa perbedaan yang mendasar antara orang Indonesia dengan orang Jepang berdasarkan pengamatnya adalah orang Jepang ketika bicara rumah adalah sebuah benda yang kotak atau persegi panjang, kalau orang Indonesia ketika bicara tentang rumah maka akan bicara tentang ibu, bapak, rutinitas dan setumpuk kisah yang panjang. Lantas bagaima sosok ‘image’ ketika setiap orang berbeda? Ternyata ‘image’ juga memiliki batasan teritori seperti pula tubuh dan kata-kata maka tentunya tidak bisa disamakan atau dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Persis seperti penggembala satu dengan pengembala yang lainnya dimana domba yang digembalakan juga berbeda. Secara teknis tentunya ada bayak cara yang dapat dilakukan untuk menghadirkan ‘image’ sehingga sampai secara utuh kepada penonton dan bukan hanya sekedar gerakan tubuh dan kata-kata semata.  Tulisan ini tentunya hanyalah bagian terkecil yang terlihat dari ‘image’, ini hanyalah lembaran kata-kata selebihnya tidak tertuliskan. 

------------
# Catatan Peserta "Lokakarya Tubuh dan Kata dalam Kerja Penyutradaraan Toshiki Okada" pada Art Summit ke 8 di Selasar Sunaryo art space Bandung. 
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger