DISKUSI TUBUH TEATER TUBUH: JEJAK DAN BAHASA DALAM TEATER TUBUH INDONESIA



John Heryanto

Para Pembicara dalam 'Diskusi Tubuh Teater Tubuh' dalam 34 tahun Teater Payung Hitam. Foto: John Heryanto

Bagaimanakah mulanya kehadiran tubuh di atas panggung, sehingga ia disebut dengan Teater tubuh? Ihwal tubuh itu sendiri, hadir dengan seabreg narasi yang dibawa mulai dari keterkaikan dengan jiwa, pikiran, spiritual, persentuhan dengan segala apa yang ada dihadapan termasuk yang melekat di badan sampai pada apa yang tersimpan di tubuh itu sendiri sehingga tubuh mudah memunculkan bahasa. Lantas bagaimanakah bahasa dalam teater tubuh? Kiranya ‘Diskusi Tubuh Teater Tubuh’ yang diadakan dalam peringatan  34 tahun Teater Payung Hitam di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (21/12/16) sebagai upaya membongkar kehadiran tubuh dalam teater tubuh guna menemukan bahasa di atas panggung.  Diskusi ini menghadirkan pembicara: Afrizal Malna (Kurator Seni Pertunjukan), Dr. Benny Yohannes Timmerman S,Sen., M.Hum (Akademisi Teater), Rachman Sabur (Sutradara Teater Payung Hitam) dan Tony Broer (Aktor Teater) dengan moderator Dr. Jaeni B. Wastap S.Sen., Msi (Peneliti Teater).

'Instalasi Tubuh' Bulqini + 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto

Fenomena teater tubuh di Indonesia mulai marak sejak tahun 80-an yang sebelumnya diawali oleh ‘Bip-Bop’ dari WS. Rendra tentunya dengan cara dan proses yang berbeda dalam memunculkan kehadiran tubuh di atas panggung. Namun berdasarkan temuan Jakob Sumardjo dalam ‘Ekologi Sastra Drama Indonesia’ mengenai keberadaan teater tubuh diperkirakan telah ada sejak tahun 1600-an di Batavia, ketika orang-orang Prancis membeli sebuah gudang dari VOC yang dijadikannya sebagai tempat untuk pertunjukan dan disitulah teater mulanya hadir sebagai pelepas penat setelah bekerja. Sedangkan menurut penuturan Afrizal mengenai kelahiran teater tubuh di Indonesia dimulai sejak: ‘adanya pertujukan  Butoh’. Hal ini kiranya menjadi wajar bila kebanyakan aktor teater tubuh hadir dengan kepala botak, sebab pada butoh itu sendiri kehadiran tubuh mendapatkan  monumennya sendiri yang bebas dari segala apa yang mengikatnya, tubuh yang terluka, gelap dan lain sebagainya.


‘Diskusi Tubuh Teater Tubuh’ meruncing menjadi dua pemabahasan  diantaranya:


Teater Masuk Dalam Tubuh 

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur. Foto: John Heryanto

Kehadiran teater dalam tubuh tentunya bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja, dimana tubuh itu layaknya panggung yang memiliki dinding pembatas dan disitu pula tubuh akan memilih dan menimbang kehadirannya. Mau melakukan apa tubuh, ketika di dalam dirinya ada teater? 

Afrizal Malna membagi tubuh dalam penalaran dengan produksi kebudayaan yang menuntut pilihan hulu atau hilir juga berkaitan secara langsung dengan medan produksi tubuh. Tubuh itu sendiri ketika berhubungan dengan sebuah objek maka pada keduanya keterikatan memiliki hubungan yang komplek, tidak hanya persoalan tekstur semata tetapi juga berkaitan dengan gerak, bentuk, fungsi, beban yang dipikul, dan lain sebagainya sehingga tubuh menjadi terbuka dimana objek dihadapannya memiliki narasi dari rekaman yang dimiliki tanpa  mencari efek dramatis.  

Salah satu peserta 'Diskusi Tubuh Teater Tubuh' membagi pengalaman workshop bersama Tadashi. Foto: John Heryanto

Ada pun pemecahan tubuh berkaitan dengan bahasa yang dilahirkan, Afrizal memberikan contoh pemilahan tubuh dalam melahirkan bahasa melalui penggunaan tubuh dalam Tadashi. Tubuh, dalam teaternya Tadashi hanya dipecah lewat dua layer yaitu berdasarkan  fungsi indera berupa mata hidung dengan kaki. Sedangkan bagian anggota tubuh lainnya semisal badan dan kepala itu tidak termasuk anggota tubuh untuk teater. Apa yang dilakukan Tadshi tentunya berbeda dengan yang ada di Indonesia terutama berkaitan dengan pemecahan tubuh dengan bahasa semisal praktik kerja Topeng Losari. Dalam Losari, tubuh dipandang secara mendasar, bagaimana berdiri, jatuh dan bangun semacam efek detoks.  Puasa dalam Losari tentunya tidaklah mesti dipandang sebagai sesuatu yang berkaitan dengan agama, melainkan untuk mengenal produksi budaya tubuh dengan makan, lapar dengan makan.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Racham Sabur. Foto: John Heryanto
Bagi Afrizal sendiri, bahasa dari tubuh merupakan teknologi pertama yang dimiliki manusia yang tidak dapat diketahui bagaimana mulanya tercipta, tubuh yang memiliki ekosistem komplek terkait dengan logika, gramatika, strategi, hubungan bahasa dengan tubuh dan tubuh dengan bahasa, pelaku dan wacana, dan lain-lain. Disini Afrizal menekankan pentingnya mengurai keterkaitan bahasa yang lahir dari tubuh maupun bahasa diluar tubuh dengan kode-kode dalam teater tubuh itu sendiri. Apalagi teater hari ini, telah berevakuasi kecara berpikir media, sebagai desain komunikasi.
 
Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur . Foto: John Heryanto
Ihawal teater dalam tubuh, Benny Yohannes membagi kemunculan bahasa dalam tubuh berdasarkan konteks simbol dan fenomena teater tubuh itu sendiri.
Dalam konteks simbolik, teater tubuh terdiri dari: Tubuh spiritual berdasarkan ekspos kesadaran dengan yang subtansial sperti halnya seni ritual; Tubuh Ludik yang berkaitan dengan fleksibilitas tubuh; Tubuh Artistik yaitu tubuh sebagai maifestasi seni, Tubuh Kosmetik yaitu tubuh yang lahir dari legitimasi budaya. Sedangkan Fenomena teater tubuh berkaitan dengan ideology tubuh itu sendiri semisal  introgasi dan pengintiman terhadap tubuh atau tubuh yang dibebaskan dari intrumentasi seperti Butoh, dimana biografi dalam tubuh tidak lantas selesai ketika diberi baju.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto
Bagi Afrizal, Teater Payung Hitam sendiri merupakan teater passion yang memiliki kodevikasi tubuh berkaitan dengan lingkungan seperti orang yang sadar pada kode untuk berhubungan dengan orang lain tentunya berdasarkan kode dalam teater tubuh yang ada. Sedangkan bagi Benny Yohannes, Tetaer Payung Hitam berkaitan dengan tubuh yang dihadirkan di atas panggung merupakan variasi dari tubuh ludik simbolik dan artistik, sejenis teater post verbal  bagian dari kesadaran post dramatic yang melawan struktur. 

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara: Rahman Sabur. Foto: John Heryanto

Tubuh Masuk Dalam Teater.

Bagi Tony Broer, tubuh tentunya tidak selesai ketika berada di panggung, ia mestilah ditempa setiap saat seperti halnya Kazuo Onho di usianya yang ke 97 ketika terkapar di kursi roda dan tak bisa melakukan apa-apa tapi ketika ada yang datang maka ia akan menjatuhkan tubuhnya dari kursi roda. Broer sendiri mengakui perkenalan pertamanya dengan tubuh bersama Teater Payung hitam selam 25 tahun, lantas dengan Butoh.  Yang utama bagi Tonny Broer ialah tubuh mestilah dilahirkan maka dari itu penting setiap orang untuk menciptakan labolatorium tubuhnya sendiri pada tubuh yang dimiliki, hal ini berkaitan dengan  lahirnya teater di dalam tubuh. Satu-satunya cara untuk menciptakan teater bagi seorang Broer ialah “ciptakan teater dalam diri anda, sebab teater bukan di panggung tapi teater ada ketika kita latihan”

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto
Sedangkan Bagi Rachman Sabur, kehadiran tubuh bukan hanya berkaitan dengan teater tubuh semata tetapi juga dengan teater yang mengandalkan kata-kata. Sebab pada teater kata-kata, kehadiran tubuh memperlukan tubuh yang dikenali dan dipahami oleh penonton begitu juga dengan teater tubuh yang memerlukan penanda. Racham Sabur sendiri menemukan kesadaran pada tubuh ketika terkena stroke, sehingga lahir karya “Puisi Tubuh Runtuh”. Pengalaman sakit tersebut membawanya pada cara memperlakukan tubuh dengan bahasa yang dimilikinya.  Guna menghadirkan bahasa melalui tubuh terutama berkaitan dengan kerja ketubuhan di Teater Payung Hitam, Racham sabur memiliki tiga cara diantaranya: “mengenal tubuh sendiri, mengenal tubuh orang lain dan tubuh lingkungan”. Melalui cara itulah Teater Payung Hitam mencari bahasa yang sama, bahasa yang dipahami semua orang, yang universal. 

Pertunjukan Teater Tubuh  'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur. Foto: John Heryanto

Kiranya ‘Diskusi Tubuh Teater Tubuh’ bukan hanya semata untuk merayakan 34 tahun Teater Payung Hitam semata, melainkan sebagai sebuah awal untuk  menelusri dan membaca kembali ihwal teater tubuh di Indonesia dari yang lalu dan yang berlangsung hari ini berkaitan dengan strategi dan politik media. Apalagi bagi Jurusan Teater di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang sedang mempersiapkan Prodi Teater Tubuh di tahun depan. Maka kehadiran diskusi ini menjadi penting sebagai bagian dari upaya memperkenalkan teater tubuh kepada masyarakat luas.

Related

Teater 1437160989081839264

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item