Headlines News :
Home » , » HIMAKA TUTUP TAHUN DENGAN MEMBACA TARLING

HIMAKA TUTUP TAHUN DENGAN MEMBACA TARLING

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 27 Desember 2016 | 15.29.00


John Heryanto

Penampilan Tarling dari Dewan Kesenian Indramayu pada acara P-KAS - HIMAKA. Foto: John Heryanto
Momen akhir tahun, tentunya bagi sebagian orang menjadi sayang untuk dilewatkan begitu saja. Minimal sebagai refleki untuk membaca ulang langkah yang terlewatkan selama ke belakang. Dengan begitu tahun depan menjadi lebih sigap dalam menghadapi kenyataan yang berbeda dari yang sebelumnya. Dipenghujung tahun inilah  Himpunan Mahasiswa Karawitan (HIMAKA) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kambali menggelar Pentas Kreativitas dan Apresiasi Seni (P-KAS) Ke-10 di  GK. Sunan Ambu (26-27/12/16) sebagai ruang untuk bertukar kabar ihwal perkembangan musik yang tumbuh di tengah-tengah kehidupan. Hal ini sebagai mana dinyatakan Nazmi, Ketua Himpunan: “Pentas Kreativitas dan Apresiasi Seni (P-KAS) ini merupakan acara yang sengaja diselanggaran untuk hiburan masyarakat sekitar kampus dan khususnya bagi mahasiswa  karawitan sendiri.” Ini tentunya menjadi penting dilakukan, bagaimanapun kehadiran seni tentunya tidak dapat dilepaskan dari masyarakatnya baik sebagai penikmat maupun sebagai pelaku itu sendiri.  Hal ini pula yang mendorong Pentas Kreativitas dan Apresisi Seni (P-KAS) menghadirkan kesenian Tarling  dari Dewan Kesenian Indramayu (DKI) sebagai puncak acara sekaligus untuk mengkampanyekan Tarling di Bandung.  Secara bahasa, sosial dan kebudayaan antara Sunda dengan jalur Pantura sangat berbeda begitu juga dengan Jawa Tengah sehingga Tarling menjadi kesenian yang memiliki keunikannya sendiri. 

Tarling merupakan kesenian yang mulai dikenal oleh  dimasyarakat pada tahun 1950-an dalam acara “Irama Kota Udang” di RRI Cirebon dan mengalami puncak keemasannya pada tahun 70-80an. Namun jauh sebelum itu Tarling pertama kali muncul tahun 1930-an di Indramayu yang diciptakan oleh Ki Sugra  dan disebut sebagai ‘Teng Dung’. Secara kata Tarling lebih dikenal sebagai kependekan dari gitar dan suling. Namun bagi masyarakat Indramayu sendiri Tarling memiliki makna ‘yen wis mlatar kudu eling’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari, hal inilah yang menjadikan Tarling sering tampil diberbagai acara syukuran anak, kawinan dan lain-lain dari rumah ke rumah. Sedangkan unsur yang terdapat dalam tarling terdiri dari musik, tembang dan kisah  atau drama. Namun ketiga unsur tersebut dapat dipisah, tergantung permintaan pemilik hajatan. 

Penampilan Tarling dari Dewan Kesenian Indramayu dalam acara P-KAS - HIMAKA. Foto: John Heryanto
Dalam perkembangannya, Tarling  dibagi menjadi dua yaitu:


1     Tarling Klasik (1930-1970an)

Tarling dengan bunyi gitar  suling yang berlaras gamelan bersipat pentatonik. Dengan tembang-tembang klasik dermayoran seperti bendrong, bayeman, kedongdog dan lain-lain, sedangkan lagu-lagunya bermula dari pupuh.  Dan kisah-kisahnya diadopsi dari cerita-ceritanya bersumber dari sastra lisan yang berkembang dimasyarakat seperti legenda, mitos dan berbagai cerita-cerita tutur lainnya menjadi drama keluarga seperti drama ‘Saedah-Saeni’ di Tarling Indramayu yang mengisahkan tentang Ronggeng Ketuk tilu di Indramayu, atau di Cirebon seperti drama ‘Kemat Jaran Guyang’, ‘Baridin Suratminah’ dan lain sebagainya.

2   Tarling Modern (1970-sekarang)

Jenis Tarling berirama dangdut atau lebih dikenal dengan Organ Tarling Dangdut, yang ditandai masuknya organ dan telah meninggalkan laras gamelan begitu juga dengan lagu-lagunya dan kisahnya berdasarkan situasi yang berkembang di masyarakat. Jenis Tarling ini tidak terpaku pada pakem, terbuka terhadap berbagai situasi yang berkembang berdasarkan tuntutan zaman.

Kiranya dengan hadirnya Tarling dalam Pekan Kreativitas dan Apresiasi Seni (P-KAS) yang disenggarakan Himpunan Mahasiswa Karawitan (HIMAKA). Setidaknya dapat memperkenalkan kembali Tarling kepada masyarkat sekitar kampus khususnya mahasiswa karawitan dengan begitu Tarling tidak lantas dilupakan setelah tersisihkan ditengah-tengah perkembangan industri musik tanah air yang menggila. 
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger