KESENIAN BRINGBRUNG DAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Menari menjadi salah satu  peristiwa dari kesenian Bringbrung 
(Foto :Hadi)
Daunjati, Bandung — Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1434 Hijriyyah, sekelompok warga Sersan Surip, Ledeng, melangsungkan kegiatan rutin setiap tahunnya, yaitu kesenian Bringbrung, Minggu (11/12). Abah Oon sebagai pimpinan kelompok kesenian Bringrung sudah siap-siap sejak dari pukul 21.00. Sejak sore hujan terus turun, mengguyur sekitaran Ledeng, namun hal itu tidak menyurutkan kesenian bringbrung untuk tetap melakukan ritual yang sudah turun temurun dilakukan oleh karuhun (sesepuh).

Bringbrung merupakan kesenian berupa ritual. Kesenian ini berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dalam satu lingkungan masyarakat yang masih memiliki hubungan keluarga dan tinggal dalam satu wilayah yang sama, yaitu kampung Cidadap Hilir, Ledeng. Seni Tradisi Bringbrung merupakan hasil pengembangan dari Seni Terebang yang pada awalnya berfungsi sebagai media penyebaran agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya seni terebang ini mengalami perubahan menjadi Seni Bringbrung. Perubahan tersebut terjadi karena adanya tuntutan masyarakat yang menghendaki bentuk seni tradisional itu lebih banyak memberi nilai hiburan dengan tidak mengesampingkan nilai estetisnya. Kesenian Bringrung tersebut diperkirakan sudah ada sejak tahun 1910, ketika itu Asmareja atau yang lebih dikenal dengan Abah Enja menemukan sebuah alat musik terebang dan sebuah kitab Barzanji dari makam caringin yang terletak di sebelah timur kampung Cidadap Hilir.

Karena merasa tertarik, akhirnya Abah Enja meminta seorang kiyai yang berasal dari Cirebon untuk mengajari dan melatih dirinya memainkan alat musik terebang serta melantunkan shalawatan yang ada dalam kitab Barzanji, akhirnya atas usaha yang dipelopori oleh Abah Enja lambat laun sebuah kesenian pun terbentuk. Materi ‘lagu’ dalam kesenian ini merupakan Shalawat Nabi yang berasal dari kitab Al-Barzanji, akhirnya kesenian ini dikenal dengan nama Nyalawatan. Nama Nyalawatan sendiri merupakan nama yang dipakai oleh generasi pertama yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1910 hingga tahun 1940, sayangnya narasumber, Abah Oon, tidak mengetahui nama-nama pemain lainnya dalam generasi ini, namun pemain dalam kesenian ini pada umumnya masih memiliki hubungan keluarga dengan Abah Enja.

Alat musik yang dipakai Bringbrung
(Foto: Hadi)
Sekitar pukul 22.00 WIB, Bah Oon sebagai dalang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an (bubuka) sebagai pembuka dimulainya ritual kesenian Bringbrung tersebut. Setelah selesai membacakan ayat-ayat pembuka, para personil dan warga yang hadir tidak langsung melanjutkan ke sesi ritual selanjutnya. Abah Oon sebagai dalang mempersilahkan semuanya untuk menyantap tumpeng yang sudah disediakan. Di sela-sela menyantap tumpeng, Abah Oon pun mempersilahkan siapa saja yang barang kali membawa air untuk disimpan di tengah-tengah bersama kukusan sajen untuk di \doakan, dengan harapan air yang didoakan tersebut bisa membawa berkah untuk yang meminumnya, ataupun yang membasuhkannya. Setelah semuanya selesai makan, Abah Oon mulai memberikan pangkat dimulainya kembali kesenian Bringbrung dengan membacakan kitab Barzanji (shalawatan), laras sunda, diiringi oleh alat musik (waditra) terebang yang menyerupai rebana besar, yang terbuat dari kayu dan kulit sapi. Penamaan Bringbrung sendiri diambil dari bunyi alat musik terebang yang jika dibunyikan menimbulkan kesan bunyi seperti “bring” dan “brung”. Sebelum istilah “Bringbrung” dipakai, dalam perkembangannya kesenian ini mengalami empat kali perubahan nama yaitu: Nyalawatan, Nerembang, Barjanjian, kemudian Bringbrung.

Selanjutnya hidangan dan sajen yang berada di tengah lingkaran diangkut dan diamankan dan di tengah-tengah lingkaran kini menjadi area yang kosong untuk para penari. Satu demi satu, mulai anak kecil usia 10 tahun sampai yang tertua mulai mengisi area tempat mereka menari. Sambil memejamkan kedua matanya para penari mulai tampak tak sadarkan diri. Mereka mulai menari dengan lincahnya dengan tempo bringbrung yang mulai tinggi. Di antara salah satu penari, ada seseorang yang menjadi maskot kesenian bringbrung ini. Dia adalah Yedi, atau warga setempat biasa menggilnya “Uu”. Uu seringkali menjadi pusat perhatian karena tariannya yang unik nan lincah—sering kali juga ia terus menari, pada sesi itu tabuhan musik berhenti, tetapi ia selalu meminta para pemain bringbrung untuk terus memukul waditranya. Ia juga sering memakan daging mentah, meminum dewegan, dan menghisap cerutu lalu memakannya dalam keaadan bara yang masih menyala. Pada sesi akhir dia disadarkan oleh salah satu personil. Uu sadar. Waditra tak lagi ditabuh. Bringbrung pun berakhir tepat pukul 02.00 WIB.

[Penulis : Hadi|Mahasiswa Teater ISBI Bandung 2015]

[Editor : Mohamad Chandra Irfan] 

Related

Luar Kampus 6675331504930463856

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item