Headlines News :
Home » , » PESONA PELANGI JAWA BARAT: PASAR DAN RUANG BERTEMUNYA TRADISI

PESONA PELANGI JAWA BARAT: PASAR DAN RUANG BERTEMUNYA TRADISI

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 18 Desember 2016 | 15.10.00



Salah satu pertunjukan dalam "Pesona Pelangi Jawa Barat" Foto: John Heryanto


Sebuah masa tentunya memiliki budayanya sediri, dan sebuah kebudayaan akan tumbuh dan hidup bersama-sama dengan orang-orang yang berada dimasanya pula. Lantas bagaimana dengan kesenian yang diwariskan oleh orang-orang dulu tetapi hidup dimasa sekarang? Dapatkah kesenian tersebut bertahan ditengah kenyatan yang berbeda dari sebelumnya? Belum lagi ditambah dengan kesenian yang tumbuh dan lahir hari ini.

Kiranya inilah yang menjadi alasan satu-satunya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menyelenggarakan ‘Pesona Pelangi Jawa Barat’ (18-20/12/16) di area kampus seperti Teater Kebun, Pendopo Mundinglaya, Halaman Mesjid, Lapangan Parkir dan GK. Sunan Ambu.  Berbagai kegiatan pun digelar dalam acara ini mulai dari pameran makanan, kerajinan sampai pada kesenian yang ada di Jawa Barat seperti Wayang Golek, Celempung, Pencak Silat, Tari Topeng Indramayu, Tari Jaipong, Rampak Kendang, Tari Leungiteun, Tari Sinta Obong, Panembahan Kuda Lumping, Tari Baladewa, Longser, Angklung, Tarawangsa, Helaran, Bajidoran, Screning Film tentang tradisi, Kaulinan Barudak Lembur dan lain sebagainya dari Sangar-sanggar yang ada di Jawa Barat. 
 
Salah Satu Pertunjukan dalam "Pesona Pelangi Jawa Barat" Foto: John Heryanto

Sepintas memang acara ‘Pesona Pelangi Jawa Barat’ ini memiliki kesan sebagai ajang promosi pariwisata semata.  Lebih dari itu kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan dan memposisikan kembali kesenian yang berbasis lokalitas kepada generasi selanjutnya mulai dari hal sederhana yaitu ruang tapil. Hadirnya ruang tampil apalagi bersifat perayaan sehingga memilki pengaruh yang lebih akan ketertarikan, dan keterikatan orang-orang untuk dapat terlibat didalamnya. Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Raisa, Darmasiswa dari Malasyia:  “aku suka kesenian Indonesia, makanya aku datang ke sini menonton dan belajar tentang Indonesia”

Guna menghidupkan tradisi tentunya tidak hanya cukup sebatas ruang semata, mestilah ada upaya yang dilakukan secara lebih semisal komodifikasi, rekaya, pengolahan media,  dan seterusnya sehingga kesenian tersebut  tidak lantas berakhir sebagai kenangan masa lalu yang dilupakan. Apalagi bila kegiatan ini hanya berlangsung kali ini saja, tentunya sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi?

(John Heryanto)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger