POST HASTE: INDONESIA DARI RUANG DARURAT DAN KEMATIAN YANG BERULANG



John Heryanto

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur. Foto: John Heryanto
Seorang pedagang angkringan sedang menggoreng, tiba-tiba saja barang-barang di warungnya seperti serokan, katel dan lain-lain jatuh begitu juga dengan warung dan pedagangnya ikut ambruk. Lantas sebuah lampu bohlam jatuh dari langit, tepat di atas tumpukan ambruknya warung. Tak lama kemudian seorang perempuan duduk di atas televisi bergambar seorang laki-laki memakai kopeah berjas di samping bendera, layaknya foto pejabat. Perempuan itu memakan koran hingga muntah. Ada apa dengan media televisi dan koran di rumah, hingga pembaca menjadi muntah berita? 

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara: Rachman Sabur. Foto: John Heryanto

Rupanya ketika tubuh berhadapan dengan media masa, ia menjadi tidak berdaya. di Televisi dan koran-koran itu, di rumah, di ruang paling rahasia yang dimiliki setiap orang menjadi hilang atau yang Rachman Sabur sebut sebagai ‘tubuh palsu’ yang diam-diam tumbuh menjadi yang lain, menjelma robot yang diprogram berdasarkan modal.  Begitu juga dengan kehidupan lainnya, dimana setiap orang dipenjarakan, dibariskan dan diseragamkan berdasarkan kepentingan penguasa sebagai mana yang diperlihatkan dalam adegan paduan suara, sumbang, suara-suara ditundukan, kemanusiaan dibunuh dan dihilangkan atas nama nasionalisme. 

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur. Foto: John Heryanto
Begitulah gambaran singkat pertunjukan ‘Post-Haste’ garapan Rachman Sabur, yang dipentaskan oleh Teater Payung Hitam dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-34 di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (20-22/12/16). Sebelumnya ‘Post-Haste’ sempat dipentaskan di AJang Teater Sumatra (ATS) di Anjung Seni Indrus Tintin Riau (18/9/2016) dan rencananya akan dipentaskan  pada International Art Festival Europalia di Brusels, Belgia mewakili teater Indonesia di tahun depan.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Post-Haste' Sutradara Rachman Sabur. Foto: John Heryanto
Sebuah televisi, digantung di langit-langit yang menyala sepanjang pertunjukan, berbagai barang-barang berjatuhan menimpa tubuh sejak awal hingga akhir pementasan. Pada berbagai kesempatan itulah berkali-kali manusia dikubur, dihadapkan pada kenyataan hidup yang buntu. Pintu yang roboh, balok-balok kayu yang berjatuhan, kursi dan meja yang patah dan lain-lain semuanya berbenturan dengan tubuh. Panggung menjadi chaos dan skizoprenik dari menumpuknya benda dan tubuh yang saling merebut ruang untuk berbicara.

Apa yang disebut sebagai sejarah disini hanyalah kuburan masal dari monumen benda-benda yang dibangun setiap menitnya di atas tubuh, pada sepanjang sejarah Indonesia itulah dunia hanyalah tempat untuk bunuh diri dan ‘Post-Haste’ pada akhirnya menjadi laporan tubuh atas matinya bernama manusia.



Related

Teater 7424009520109397986

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item