TEATER REMAJA, FESTIVAL DAN PANGGUNG DARI TAHUN KE TAHUN


John Heryanto*
Salah satu pertunjukan dalam Festival Teater Remaja se Jawa Barat ke-5. Foto: Arsip panitia Festival (KMT).
Dalam sebuah festival teater remaja; seorang  seniman  Bandung tidak mempercayai adanya teater remaja di Jawa Barat sebab dibelakangnya tetaplah orang tua atau teater yang bangkotan[1].  Untuk mengetahui keberadaan teater remaja di Jawa Barat tentunya tidak cukup dengan melihat berdasarkan usia yang rata-rata duduk di bangku sekolah menengah semata. Maka mestilah dimulai dari hal yang dekat; Kapankah teater masuk dalam tubuh remaja? Bagaimana teater remaja tumbuh? Kiranya dari kedua pertanyaan tersebut dapat diketahui kondisi teater remaja berkaitan dengan panggung yang dibangun dan kehidupan sehari-hari yang di jalani. 

Kelahiran teater modern di Bandung tentunya berbeda jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Dimana teater modern lahir disertai dengan seperangkat teori yang memapankan kehadirannya di atas panggung dengan berdirinya sekolah seni seperti Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang digagas oleh Umar Ismail dan Asrul Sani di Jakarta, di Yogyakarta ada Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Di Bandung sendiri kelahiran teater modern bermula dari kelompok diskusi beberapa mahasiswa seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Jim Lim, Suyatna Anirun dan beberapa orang lainnya yang kemudian mendirikan Studiklub Teater Bandung (STB) tahun 1958 yang rutin menyelengarakan acting course sejak tahun 1962. Dari acting course inilah kemudian teater modern menyebar dikalangan remaja dan  pemuda di Kota Bandung  dan kota lainnya di Jawa Barat. 

Sedangkan nama atau istilah teater remaja sendiri muncul atau mulai digunakan pada  tahun 1973 ketika Dewan Kesenian Jakarta membuat “Festival Teater Remaja”   untuk merangsang dan wadahi kreatifitas teater dikalangan generasi muda Jakarta.  di Bandung sendiri geliat teater remaja mulai terlihat setelah adanya “Festival Teater se- Jawa Barat”  yang diselenggarakan oleh  Komunitas Seni Budaya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (kini menjadi UPI) tahun 1977 yang diikuti oleh 15 kelompok teater remaja atau pemuda. Salah satu juaranya yaitu Teater Ge-eR (Gelanggang Remaja) dan kini berganti nama menjadi Teater Bel Bandung. Dan juara keduanya kelompok teater dari Cirebon yang mayoritas pelajar SMA, salah satu aktornya yang kini masih aktif berteater yaitu Artur S. Nalan. Namun sayangnya festival tersebut tidak bertahan lama, hanya sampai dua kali penyelenggaraan. Tahun berikutnya Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung  berdiri yang diinisiasi oleh Saini KM dan dan Suyatna Anirun. Lantas beberapa tahun kemudian diselengarakan “Festival Teater Antar Perguruan Tinggi se-Bandung Raya” (1983) dan “Festival Teater Antar Perguruan Tinggi se Jawa Barat” (1985) yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Teater (IMT) Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Salah satu juaranya yaitu Teater ASB dari Akademi Sinematografi Bandung dengan sutradara Yusef Muldiyana. Namun lagi-lagi festival ini hanya mampu bertahan dua kali penyelenggaraan. Tapi dengan adanya festival ini, Teater kemudian dipilah menjadi Teater Umum, Teater Mahasiswa dan Teater SMA atau Remaja. Hal ini diperkuat dengan lahirnya “Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) se- Jawa Barat” (1990) yang disenggarakan oleh Teater Sunda Kiwari  yang diikuti 8 kelompok Teater umum di Jawa Barat dan “Festival Teater Remaja se-Bandung Raya” (1990) yang disenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung dengan 11 peserta dari teater SMA di Bandung.

Sejak tahun 2000-an banyak festival yang disenggarakan khusus untuk remaja di Jawa Barat semisal: “Festival Teater Remaja (FTR) se-Jawa Barat”  yang diselanggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sejak 2008, “Festival Drama Bahasa Sunda Pelajar (FDBS-P) se-Jawa Barat” oleh Teater Sunda Kiwari sejak 2012, “Festival  Longser Tingkat Pelajar se-Jawa Barat” oleh Teater Toonel Bandung sejak 2010. ditambah dengan Festival yang diselengarakan dalam kota seperti “Festival Drama Musikal Tingkat SMA/Sederajat Se-Bandung Raya”,“Festival Teater Pelajar Bekasi”, “Festival Drama Perjuangan Tingkat SMA se Bogor”,dan lain-lain.  Belum ditambah dengan festival teater SMA yang bersekala nasional. 
  
Setelah merunut berbagai festival yang ada, khususnya untuk remaja atau SMA di Jawa Barat. Rasanya sulit sekali bila Teater Remaja dipisahkan dari sebuah festival. Sejak kumunculannya hingga kini, teater remaja ada dan tumbuh bersama festival teater itu sendiri. Apa yang akan terjadi bila teater remaja hadir tanpa ada festival? Sungguh tak bisa dibanyangkan. Sebab bukan hanya teater remaja yang memerlukan festival tapi teater mahasiswa dan teater umum juga banyak yang lahir dan hidup dari festival. Maka festival disini bukan lagi persoalan siapa yang menjadi juara semata, melainkan bagaimana teater itu tumbuh. Lewat festival itulah berbagai hal dapat dilakukan untuk pengembangan teater mulai dari pertemuan gagasan,  strategi media, jaringan dan lain sebagainya sehinggga teater tidak lantas ketinggalan kereta.  Maka tanpa festival teater remaja, diluar dari sekolah teater seperti Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI). Kemungkinan besar teater remaja pun tidak akan pernah ada.  Lantas teater bagi remaja itu apa? Apakah remaja memang membutuhkan teater atau karena tuntutan dari luar dirinya?

Sebuah kelompok teater di Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan rumah  kumpulan dari orang-orang yang memiliki ketertarikan dan keinginan yang sama sebagai sebuah kesenangan atau hobi. Bagi sekolah-an, pendidikan seni budaya khususnya teater memiliki fungsi ‘untuk mengasah kemampuan dan keterampilannya siswa minimal berani menyatakan pandangan atau pendapat sendiri kepada siapapun atas apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran’[2]. Pada satu sisi, teater tiba-tiba menjelma menjadi tongkat atau senter bagi seseorang yang berjalan di kegelapan. Pada sisi yang lainnya teater sejenis biji-bijian dalam sebuah pot yang setiap hari memerlukan perawatan dan berbagai ketelatenan lainnya.

Teater Remaja sering disebut sebagai teater yang patah tumbuh, dimana seluruh personilnya akan berganti menjadi baru setiap ajaran baru atau setidaknya tiga tahun sejak masuk sekolah sampai kelas 3. Tapi seorang penonton teater selalu berharap agar tontonannya dapat memuaskan minimal tidak ngantuk. Disinilah orang-orang yang bergelut dalam teater remaja memerlukan kerja lebih, minimal mampu mempertahankan sebuah pemanggungan yang dibagunnya selama ini. 
Dari penyelenggaraan “Festival Teater Remaja se Jawa Barat” yang diselenggarkan dua tahun sekali sejak tahun 2008 oleh Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ditambah dengan naskah yang dibikin oleh masing-masing peserta sejak FTR ke 4. Maka Pertumbuhan teater remaja di Jawa Barat telah memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan lain yang selama ini luput dari pandangan mata semisal Teater Nur Cianjur, Teater Citra Subang, Teater Awal Garut, Teater Tasbe Bale Endah, Teater Senapati Bandung,  Teater 13 Senja Cimahi, Teater Cermin Sukabumi, Teater Kipas Bekasi, dan Teater Gawe Tasikmalaya. Mereka adalah kelompok teater yang tidak hanya sekedar merawat dan memelihara teater dalam tubuh remaja tapi juga mampu memperlihatkan pemanggungan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan teater yang bukan remaja, mungkin setara atau bahkan bisa jadi lebih.

Tulisan ini tentunya hanyalah gambaran kecil dari perkembangan teater remaja di Jawa Barat, hingga kini. Dari awal kemunculanya teater remaja sejak tahun 70-an hingga 2016. Dari yang awalnya hanya 8 kelompok di Kota Bandung, kini hampir di setiap sekolah yang ada di Jawa Barat telah ada kelompok teater. Apakah teater remaja akan terus tumbuh dan berkembang? Semuanya tergantung hari esok?


*Mahasiswa penelitian, Jurusan Teater ISBI Bandung dan penonton teater remaja.
[1] Film dokumenter perjalanan Festival Teater Remaja Jawa Barat “ Buah Batu & Festival Teater Remaja Jawa Barat” by John Heryanto 2014-2016. 
[2] Deden Haerudin “Dilematika Bidang Studi Seni Budaya”, Makalah Seminar Nasional Dididik Teater, ISBI Bandung 2015.  

Related

Teater 2989183157376357431

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item