TUBUH BIDIKAN DALAM TU(M)BUH TONY BROER*



John Heryanto

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh Tony Broer. Foto: John Heryanto
Bagi seorang Broer, Teater merupakan dunia yang dijalani setiap hari seperti yang dilakukannya dulu ketika menetap di Bandung maupun ketika sekarang tinggal di Yogya. Di kedua kota tersebut, setiap harinya Tony Broer berolah raga mengelilingi kota. Di Bandung sendiri Broer mengabiskan usianya sebagai aktor Teater Payung Hitam selama 25 tahun sejak tahun 1988 dan dosen olah tubuh di Jurusan Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sejak 2005 hingga kini. Sedangkan di Yogya, Broer membuat labolatorium tubuh ‘tubuh kata tubuh’ sebuah ruang pengajian khusus untuk mengkaji tubuh dengan dunia keseharian dimana teater bukan lagi hadir di saat pementasan semata melainkan teater berada dalam dunia yang dijalani sebagai latihan ‘tubuh training’ di jalan - jalan kota sebagai tubuh jalanan. Pengajian ‘tubuh kata tubuh’ sendiri digagas bersama teman-teman mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan beberapa seniman Yogyakarta sejak tahun 2007 ketika menempuh pendidikan S2 hinga kini.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto
Pertunjukan ‘Tu(m)buh’ di Studio Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada peringatan 34 tahun Teater Payung Hitam (20-22/12/16)  sebelumnya dipentaskan di Bangkok pada The 11 th International Butoh Festival Thailand 2016: Evolution-Revolution (8-19/12/16). ‘Tu(m)buh’ sendiri merupakan kelanjutan dari ‘Tubuh Tumbuh Terbalik’ yang dipentaskan pertamakalinya di halaman Paska Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pertunjukan tersebut bermula dari proses menanam pohon secara terbalik seperti singkong, umbi-umbian dan lain-lain di tanah kosong belakang kelas paska sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di tahun 2015.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto.
Setiap pagi, selepas bangun tidur. Broer akan pergi ke ruang belakang, sebuah kebun kecil berukuran 4 x 6 untuk sapu-sapu dan menyiram tanaman hingga akhirnya tanaman yang di tanam secara terbalik itu tumbuh seperti yang lain. Disinilah Broer merasa terheran-heran sendiri melihat apa yang ada dihadapannya sehingga timbul berbagai pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri atas keintiman yang dibangun bersama tanaman tersebut. Menanam pohon pada akhirnya bukan lagi peroasalan bertani semata melainkan bagaimana tubuh berkoneksi dengan objek di depan mata.  Lantas kenapa dalam pertunjukan ‘Tu(m)buh’ ada drum, masker, bakiak, payung bolong,  selendang berwarna merah bukan tanaman?  Bagaimana tubuh dengan benda-benda tersebut saling bertegur sapa?  

Benda-benda yang dihadirkan dalam ‘Tu(m)buh’ tentunya tidak serta merta hadir dengan tiba-tiba  atau sengaja disediakan untuk pertunjukan. Melainkan berangkat dari keseharian di Yogyakarta, dimana Broer memiliki tiga drum untuk dipakai latihan setiap hari begitu juga dengan benda-benda lainnya yang sering digunakan dalam pengajian ‘tubuh kata tubuh’.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto
Keresahan yang didapat dari menanam pohon secara terbalik, bagi Broer sendiri sebagai cerminan atas apa yang dirasa dalam kehidupan sehari-hari yang rusak dan jungkir balik. Pada kenyataan sehari-sehari itulah tubuh menjadi terancam, ia bukan lagi milik dirinya sendiri melainkan setiap jengkalnya telah direnggut oleh berbagai kontruksi yang membangun citra tubuh itu sendiri. Sehingga pemilik tubuh yang sesungguhnya tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengunakan tubuh karena telah diatur oleh orang lain. Tubuh menjadi tidak aman, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi ketika seluruhnya direnggut oleh publik, pasar dan lain-lain sebagai tubuh bidikan. Selain itu kekerasan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah hal yang biasa bahkan sesuatu yang menyenangkan seperti halnya bermain video game. Hal itulah kiranya yang menjadikan berbagai benda juga layar infokus bergambar sasaran tembak hadir dalam pertunjukan ‘Tu(m)buh’.

Pertunjukan Teater Tubuh 'Tu(m)buh' Tony Broer. Foto: John Heryanto
Apa yang dihadirkan dalam ‘Tu(m)buh’ tentunya bukalah sebuah akhir dari proses, yang usai diujung tepuk tangan penonton ketika  pemenatasan selesai lantas hilang. ‘Tu(m)buh’ merupakan bagian dari proses sehari-sehari sebab bagi Tony: “pertunjukan teater seringkali jauh dari kenyataan sehari-sehari ” maka apa yang dilakukan di panggung dalam ‘Tu(m)buh’ sama pula dengan latihan setiap hari dalam pengajian ‘tubuh kata tubuh’ di Yogyakarta atau sebagai pemindahan jadwal latihan dari sore ke malam hari, dimana kata-kata akan dilontarkan setiap hari kepada tubuh sendiri sebagai ruang introgasi.

---------
*Catatan kecil tentang proses ‘Tu(m)buh’  berdasarkan percakapan santai dengan Tony Broer.

Related

Teater 8742553326457202399

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item