CATATAN KECIL : YOGYAKARTA, BANDUNG DAN PESANTREN (POLA PENDIDIKAN)

Mohamad Chandra Irfan

Ilustrasi : https://3.bp.blogspot.com/-wikSw50WxOU/WIWAcHhnbjI/AAAAAAAABng/pM9JR7E5yz0LFym4iA0W3qF1vfQdfv3BQCEw/s1600/ilustrasi-pendidikan-online-Foto-Corbis.jpg

"Sebuah Universitas yang mahal biayanya, tidak menjamin mutu pendidikannya bagus. Tetapi, seseorang yang mempunyai kecerdasan (kognitif, sosial, spritual) dan berusaha mengejar kecerdasan (kognitif, sosial, dan spiritual), ia akan selalu siap ditempatkan di mana saja. Pada akhirnya, jika ingin kuliah lalu tidak berani bertarung dan menentang apa-apa yang tidak kita sepakati menurut hati nurani dan keyakinan kita—lebih baik tak usah kuliah di kota. Kota itu predator. Kuliahlah di hutan; bersama cericit burung dan merdunya gemericik air

Kata kunci: Yogyakarta, yang dicirikan dengan pola pengaturan keraton yang melayani rakyat (pemerintahan-terpusat), dengan tidak adanya pusat pemerintahan (konsepsi tradisi) dalam masyarakat kota Bandung yang cenderung meng-afirmasi dan mengungkapkannya secara luaran. Di situ pula Pesantren tetap memegang teguh nilai-nilai yang sudah dianutnya, untuk menjawab hegemoni-globalisasi, yakni dengan memperkuat di wilayah internal; struktur dan infrastuktur. Agama (yang bersifat dogma) dan ilmu pengetahuan (yang bersifat plural/majemuk) saling bertatutan menjadi sebuah ilmu yang semakin tidak bisa dipisahkan; keduanya mempunyai akar yang berbeda tetapi daun dan buah yang sama—mencipta individu-individu yang kuat secara nalar, rasa, dan kreativitas.

Komunikasi yang Berjalan Satu Arah

Pesantren dalam pembicaraan yang lebih mafhum bisa diberi pengertian sebagai lembaga pendidikan yang terkonsentrasi pada pengajaran keagamaan. Disiplin ilmu yang diajarkan pun masih satu “payung”, yaitu hubungan antara manusia-tuhan, tuhan-manusia, manusia-alam, manusia-manusia. Semuanya terpusat pada satu tujuan; dunia atas—untuk mencapai sesuatu yang sifatnya bahagia. Hakikat manusia hidup adalah mencari “kebebasan”; bebas berpikir, bebas berkomunikasi, bebas berwicara, bebas berwacana, bebas bergerak, dan masih banyak lagi “kebebasan-kebebasan” lainnya, yang itu meliputi kebutuhan primer maupun sekunder. Untuk mencapai sebuah kebebasan, maka dengan sendirinya manusia akan menggerakkan akal dan perasaannya, dengan caranya masing-masing.  Pertanyaannya; kebebasan apa yang dikehendaki tubuh manusia? Lalu, jika memang kebebasan itu bisa tercapai, masih perlukah akal kita menjadi “satpam” yang berbicara baik atau buruk?

Dalam sejarahnya, manusia tidak bisa terpisah dengan the other (yang lain). Manusia di hadapan lingkungannya, tidak bisa menyatakan hasratnya tanpa mempertimbangkan yang liyan. Manusia akan saling-sambung dengan yang lain. Terbukti, dari peradaban yang tercipta di jagat raya ini, seluruh manusia akan selalu hidup komunal, tidak individual. Dalam sejarah Islam, ketika Adam tercipta; awalnya memang sendirian. Tapi sebetulnya tidak sendirian, jika kita mau melihatnya dengan kacamata yang lain. Adam hidup dengan yang lain. Ia hidup dengan “makhluk” lain, tumbuhan, dsb. Sekalipun, menurut nalar-logic kita Adam tetap sendirian. Karena persepsi kita masih menganggap manusia harus berdampingan dengan manusia yang lainnya. Baik jika maunya begitu, manusia itu dianggap hidup; jika ia berhubungan dengan manusia lainnya.

Karena manusia membutuhkan yang lain, sudah tentu akan terjadi yang namanya komunikasi. Banyak sekali jenis-jenis komunikasi, dari mulai komunikasi verbal, komunikasi virtual, komunikasi isyarat, dsb. Komunikasi menjadi syarat penghubung manusia bisa mengetahui keinginan manusia lainnya. Komunikasi pula yang menjadi jembatan manusia bisa tahu fungsi dan kedudukannya sebagai manusia.  Selama ini kekacauan hidup manusia, salah satunya tidak terciptanya komunikasi yang baik. Yang terjadi justru chaos komunikasi. Untuk tercipta hidup yang ideal, sudah barang tentu kita tak bisa hidup dalam aturan sendiri. Semuanya mesti mengarah dan berpatok pada hukum yang berlaku. Baik hukum ke-tata-negara-an, hukum adat, maupun hukum agama. Semuanya harus diaplikasikan secara berimbang. Tidak saling tumpang-tindih. Kita menemukan keyword-nya, yaitu berimbang atau bahasa kuliahannya simetsris. Sudahkah komunikasi kita terjait dengan baik? Atau komunikasi yang terjadi hanya satu arah? Ataukah tidak pernah diketemukan apa yang diharapkan aku yang satu dengan aku yang liyan, atau tidak pernah terjadi dialektika atau saling-silang pendapat, antara insitusi dengan manusia yang menjadi bagian dari insitusi tersebut, karena tidak terajut komunikasi?

Semuanya serba parsial, karena manusia membutuhkan tidak didasarkan atas oleh kebutuhan yang memang itu sebuah panggilan jujur. Jutru yang terjadi adalah sebuah kebutuhan yang dibebani dengan tuntutan-tuntunan. Hal ini pula yang menajdikan momen pertemuan manusia diam-diam tersekat.

Pertanyaan untuk Beberapa Jawaban

Pemahaman tentang etika (akhlak) banyak sekali diajarkan di pesantren, terutama yang menyangkut bagaimana cara ber-akhlak terhadap manusia yang lainnya. Yang lebih kentara, pesantren telah membawa pikiran dan tubuh kita ke dalam lautan ajaran yang bersifat benar dan salah, boleh dan tidak boleh, tepat dan tidak tepat. Semuanya menubuh dalam tindakan keseharian. Apa-apa yang tidak boleh menurut ajaran agama, maka sudah tentu tidak boleh dilakukan. Apakah tidak ada keringanan, jika kita melanggarnya? Pertanyaan fundamental itu akan muncul dengan sendirinya dalam benak seorang santri. Pertanyaan itu akan mengakar terus-menerus selama pesantren masih dijadikan dasar kebenaran yang tunggal.

Seyogyanya sebuah aturan itu tidak untuk memperumit, tapi untuk mempermudah segala tindak dan laku. Kenapa sering bermunculan pertanyaan; “aturan itu untuk dilanggar!”. Barangkali ini hipotesis saya, dalam batok kepala manusia-nya itu (subjek) tersebut masih mem-persepsi bahwa pesantren dengan segala aturannya masih diproduksi sebagai sebuah “penjara suci”. Pesantren masih diasumsikan sebagai tempat bermukim manusia yang bengkok secara kelakuan, pesantren masih diasumsikan sebagai laboratorium akhlak. Padahal jika ditarik pengertiannya secara mendalam, pesantren tidak hanya untuk itu, pesantren dalam narasi yang lebih besar dan mendalam adalah sebagai pusat studi keilmuan. Ironisnya, yang sadar akan hal itu beberapa gelintir orang saja. Banyak yang menganggap pesantren masih berpikiran ortodoks (kolot), tidak kontekstual. Sejarah mencatat banyak sekali ulama-ulama islam yang menjadi pelopor ilmu pengetahuan, sebut saja ath-Thabari, ar-Razi, dan Ibnu Sina (dari kalangan kedokteran), Al-Khawarijmi, Al-Jabar (matematika), al-Fazari, al-Farghani, al-Battani, dan al-Biruni (astronomi), Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Haitsam (optik), dan lain sebagainya. Makanya benar apa yang dikatakan ilmuwan Prancis, Lebon, ilmu sekarang ini berkembang melalui tangan ulama-ulama Islam (Fauz Noor: 163-164).

Kebanggaan macam apa lagi yang tidak bisa dibanggakan orang-orang pesantren melihat kenyataan history-nya seperti diungkapkan di atas? Pesantren harus kembali lagi ke jalan muasalnya, sebagai garda pertama dalam menjawab segala macam persoalan, terkait isu-isu yang disuguhkan realitas sekarang. Sebetulnya jika saya mau menelaah lebih dalam, bagaimana kiprah pesantren di dalam mempertaruhkan wacana-wacana yang ada dan tumbuh, itu sudah jelas banyak sekali kiprahnya. Saya ambil contoh; kita tidak bisa menghapus sejarah yang telah tercatat dan kita tak bisa menghilangkan jejak pesantren dalam turut serta pembangunan negara ini. Ketika kolonialisme masih mendominasi orang pribumi, maka orang-orang pesantren sudah mempunyai sikap. Setidaknya pada saat itu sudah berbicara atas nama kebenaran. Kebenaran yang tidak hanya milik segolongan kelompok saja, tetapi pada dasarnya untuk kepentingan kelompok yang lebih besar. Pada saat pra-kemerdekaan di tiap penjuru, di tiap sudut, banyak sekali yang menginginkan kebebasan dalam pengertian yang lebih kongkrit. Setidaknya bangsa kolonial yang menjajah kita selama 310 tahun, dan sebetulnya selama 40 tahunnya dipakai untuk mempertaruhkan segala hal; kekuasaan dan nyawa, masyarakat kita sudah ingin keluar dari sangkar penjajah. Dan pesantren berada di lini tersebut.

Masih perlukah kita berkaca atau ber-romantisme dengan sejarah? Jawabannya ya dan tidak. Ketika saya menyatakan harus ya, maka selamanya kita akan selalu mengingankan yang ideal versi sejarah, yang jika kita kaji-ulang tentu saja kebenaran sejarah tidak mutlak suatu kebenaran yang patut dipegang. Jika saya bilang tidak, maka sudah pasti saya termasuk orang yang tidak bertolak pada hitsory, dan lagi pula manusia mana yang tidak punya sejarah masa-lalu? Semuanya punya!

Apa yang perlu diambil dari nilai-nilai pesantren? Apa yang mesti ditambah dari nilai-nilai pengajaran di pesantren? Siapa yang keliru jika kita tak dapat apa-apa dari pesantren? Kenapa kita selalu leutik burih, péot hulu jika berhadapan dengan orang yang belajar di luar pesantren? Masihkah kita mau menggerutu dan ngomel-ngomel mengenai aturan pesantren yang selalu dengan serampangan kita bilang “aturan téh beuki ketat waé euy!”. Dan masih banyak lagi pertanyaan di kepala saya mengenai semua problematika ini, yang menurut saya bukan saja sukar untuk dituntaskan dalam satu hari bahkan satu tahun dua tahun, karena fenomena tersebut sudah menggejala dan sudah masuk pada wilayah yang semakin kompleks

Bandung, Jogja, dan Manusia di dalamnya

Ini hanya ekspektasi saya mengenai keinginan (hasrat) individu santri yang menginginkan sesegera mungkin ingin menikmati bagaimana berkuliah di kota yang besar. Kota yang sudah dicitrakan oleh banyak media (cetak maupun elektronik), banyak sekali tawaran yang memanjakan mata, menggiurkan, dan juga menyuguhkan berbagai kesenangan. Kota sudah menjadi wacana sendiri bagi otak manusia. Jika libur tiba, kini orang-orang lebih betah piknik ke tempat-tempat yang serba praktis dan seakan-akan bisa dibeli dengan harga yang murah (padahal secara nominal bagi orang-orang berpenghasilan menengah ke bawah, cukup besar)—dibanding berlibur ke sawah-sawah, berladang, atau memerhatikan gerak ikan di kolam. Dan jangan heran, jika saat ini desa sudah tidak lagi menjadi citra yang memesona bagi manusia saat ini, sebab orang-orang desanya pun sudah pergi ke kota, menjadi masyarakat baru, yaitu masyarakat urban.

Kota cenderung bertumbuh ke arah yang lebih kompleks. Ketika pertumbuhan kota tak terkendali lagi, yaitu ketika kompleksitasnya tidak dapat lagi dipahami dan dimaknai, maka kota akan menimbulkan berbagai masalah kota/urban problems (kemacetan, limbah, polusi udara, pengangguran, gelandangan, sampah, kelangkaan air bersih, kriminalitas). Kota lalu berubah dari order menjadi disorder; dari keberaturan menjadi chaos (Yasraf Amir Piliang: 227). Kota menjadi predator bagi manusia sebagai mangsanya. Kota kehilangan kompasnya, tak jelas kiblatnya. Apa yang mesti dihadapi dengan kondisi kota saat ini?

Paul Virilio yang dikutip oleh Yasraf melukiskan dalam Lost Dimension, kondisi kota post-modern yang telah kehilangan berbagai dimensi arsitektural. Inilah kota yang telah kehilangan interaksi, tatap muka, aura, ingatan. Kota dalam bentuk fisik selalu meninggalkan semacam memori (bahkan memori kolektif) tentang sebuah tempat, sudut, ruang, atau jalan. Bertemu di bawah lampu jalan atau bertatapan di sudut jalan adalah di antara memori-memori yang ditinggalkan oleh kota pada diri setiap orang  (Yasraf Amir Piliang: 231). Lalu, bagaiamanakah dengan potret pendidikannya? Dan manusianya?

Pertanyaanya; Kenapa akhirnya Bandung lebih peduli terhadap fashion dan gaya dibanding masyarakat Yogyakarta? 1) Pola berladang masyarakat Jawa Barat, terutama Kota Bandung, menyebabklan kota ini tidak memilik pusat pengaturan. Karena tidak adanya pusat pengaturan (keraton seperti di Yogya) maka kultur yang dibangun adalah kultur terbuka, maka seluruh kebudayaan yang datang tidak ter-enkulturasi tapi ter-resepsi. Contoh: budaya skateboard, budaya musik punk, budaya tatto dan tindik dimulai dari kota Bandung. Kultur Barat itu secara terbuka ter-resepsi oleh masyarakat kota Bandung. 2) Kota Yogyakarta memiliki keraton sebagai pusat pengaturan. Sebagai komparasi, tipologi kultur yang berada di Yogyakarta adalah pola terpusat dan pengendali seluruh pola pengaturan adalah keraton. Maka, budaya yang datang dari luar secara tidak langsung mengalami proses censorship. Artinya, keraton melakukan pola terbuka yang sifatnya lebih ber-difusi. Contoh: agama kebathinan asli Jawa mengalami difusi dengan religi katolik yang datang. Di gereja Ganjuran kita dapat mendengar lagu-lagu misa dan penyaliban dengan memakai gamelan, demung, dan disisipi kisah-kisah pewayangan. Mengapa akhirnya keraton selalu membaca ulang akan kebutuhan rakyatnya. 3) Cuaca kota Bandung yang cenderung dingin membuat masyarakat kolonial betah bermukim di kota Bandung, juga pola pendidikannya lebih banyak berselimut dan diam di dalam rumah. Banyak sekali individu-individu yang lebih betah mengurung diri di dalam rumah, daripada ‘bepergian’ dan bertemu gagasan. 4) Kota Yogyakarta yang cenderung lebih panas dan banyak menyediakan ruang-ruang “tatap-logika”, sehingga pertumbuhan wacana lahir dari ruang-ruang tersebut. Cuaca yang panas membuat geliat edukasi pun panas di dalam ruang diskursus.

Filosofi Pendidikan

Yogyakarta; Lebih mengulik ke dalam dan tidak terlalu mementingkan citra luar, filosofi-nya abdi dalem diterapkan (melayani pengetahuan). Masyarakatnya, cenderung kumuh secara tampilan tapi mewah secara pengetahuan—dan ini berpengaruh kepada harga makanan, harga biaya pendidikan, dan harga kost-kost-an. Keraton masih memerankan pola terpusatnya dan pola censorship-nya, sehingga pengetahuan di Yogyakarta akan selalu nyaman di dompet mahasiswa. Sebagai contoh; sejarah lahirnya UGM karena keraton Yogya memerlukan  lembaga didik yang tidak hanya mengajarkan filsafat kejawaan. Di sini kasusnya UGM lahir atas permintaan Raja untuk meng-enkulturasi pendidikan Barat. Fakultas yang pertama kali muncul adalah kedokteran, karena praktek perdukunan dan mantera-mantera sudah dianggap tidak konteks lagi pada saat itu. Dan sampai saat ini UGM tetap dalam pengawasan keraton. Sedangkan kota Bandung; adalah performativitas, artinya; unjuk tampilan. Banyaknya perpustakaan yang ada di kota Bandung, ruang-ruang diskusi yang ada di kota Bandung, bandingkan dengan banyaknya jumlah distro, kafe, mall, tempat-tempat nongkrong, taman-taman yang memanjakan kultur tampilan, dengan wacana pendidikannya yang berhenti di tempat. Kita bisa membandingkan dari kultur busana dan kultur gaya-hidup masyarakat kota Bandung dan masyarakat kota Yogyakarta.

Kedua pemdeda di atas, mungkin Bandung bisa dikategorikan sebagai kota yang malas untuk dijadikan tempat diskursus. Sebab menurut pengamatan saya sendiri, Bandung saat ini begitu serentak menyediakan ruang-ruang publik yang dengan masyarakat tidak menyadari dengan kritis; penciptaan ruang publiknya itu untuk meredam suara kritisisme masyarakat. Ini bentuk hegemoni baru dari sebuah ‘rezim’ yang berkuasa. Hampir di beberapa ruas jalan di Bandung, sudah disediakan taman-taman yang difungsikan senyaman mungkin, singkatnya hanya untuk nongkrong saja. Tidak ada produksi wacana yang lahir. Tetapi tidak bisa dinisbikan juga, bahwa Bandung adalah kota yang cukup eksploratif. Mulai dari kuliner, olah raga, kesenian, terutama fashion. Hampir kesemuanya itu selalu menjadikan kota-kota lain ‘iri’ akan keberadaan Bandung. Memang, Bandung adalah kota yang menawarkan eksotisme yang kita tidak bisa membicarakan dalam waktu sehari-dua hari, sebab selalu ada kebaruan yang lahir dari Bandung. Kini Bandung bagi para pelancong, ataupun bagi siapa pun manusianya yang pernah bermukim (kuliah, berdagang, dsb) tidak lagi Bandung sebagai ‘kata tempat’, tetapi Bandung sudah menjadi ‘kata sifat’. Bandung adalah ‘kenangan/katineung’. Bagaimana dengan Yogyakarta?

Konklusi yang Tidak Menemui Akhir

Pada akhirnya kehidupan di mana pun akan tetap sama. Sepanjang tubuh kita mampu beradaptasi dengan kultur yang ada, maka kita akan mampu mengatasinya. Semua kota mana pun, di Indonesia, khususnya yang menjadi fokus tulisan saya ini adalah Yogyakarta dan Bandung, manusia yang menghuninya sekarang ini mempunyai potret yang sama. Transformasi potret kota dari kota kovensional ke arah kota kapitalistik dan kini ke arah kota digital, telah mengubah pula bersamanya manusia yang hidup di dalamnya. Wajah manusia kota merupakan cermin dari wajah kotanya, dan sebaliknya. Kini kita berhadapan dengan dengan wajah manusia kota yang cenderung sama di kota manapun ia hidup dalam skala global (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat)

Filsafat Islam menjawab bahwa manusia merupakan jiwa dan badan, materi dan ruh, sebagai kesatuan substansial. Manusia bukan merupakan jiwa dan badan saja, melainkan jiwa-badan seratus persen (Fauz Noor: 424). Yang disebut badan itu bukan semata-mata dimensional massa dan eksistensi murni, melainkan kompleksitas atau wujud manusia itu sendiri. Kongkritnya, badan adalah perilaku (behavior) seorang pribadi atau sering kita sebut “kebudayaan pribadi”. Perilaku meliputi seluruh cara seseorang berbicara, bertingkah laku, bergaul, dan sebagainya. Perilaku itulah yang memberi kejelasan dan kejerniahan pada identitas manusia manusia sehingga manusia dapat dibedakan dari jenis yang lain.

“Sungguh neraka jahanam dipenuhi jin dan manusia, yaitu mereka berhati tapi tak merasakan, mereka bermata tapi tak melihat, mereka seperti binatang bahkan lebih dari binatang, (Q.S. al-A’raf: 179)”. Dari ayat tersebut, hakikat manusia itu dilihat dari karyanya, dari perbuatannya, dari satuan waktu yang membentuk dirinya sendiri, ada yang diperjuangkan. “Sesungguhnya yang dilihat dari manusia adalah amal perbuatan, pekerjaan , atau karyanya. (QS. at-Taubah: 105; QS. Hud: 7; QS. al-Kahfi: 17 dan 30; QS. Al-Mulk: 2). Jadi, tugas di dunia ini “karya manusia harus menjadi karya Tuhan” (Fauz Noor: 425-426).

Yang mampu menjawab tantangan zaman ini, salahsatunya adalah pola hidup di pesantren. Menurut saya, masih cukup relevan untuk dikombain dengan kultur di  mana nanti kita bertempat tinggal. Dengan menjadi sederhana dalam hal apapun. Seperti kata Korep di naskah Tengul: Hidup sederhana lebih kaya daripada hidup kaya!” 

Related

Pendidikan 6951716167943569335

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item