HISTRIONIK: SELAMAT TINGGAL SOSIAL DEMOKRAT*



Poster 'Histrionik' Ujian Kapita Selekta Jurusan Teater ISBI Bandung.

“Sedikitpun kita tak bisa lepas dari membaca kabar tentang orang lain” Begitulah nyatanya, ketika di tangan ada handphone atau laptop. Sepanjang hari kita akan membuka instagram, facebook, twitter, line, youtube, bigo, pacth, tumblr, snapchat, Vkontakte, sina weibo, LinkedLin, WhatAppt, BBM dan  sebagainya. Pada setiap menitnya, diwaktu yang kosong atau berkesan kita akan menulis status, berfoto mengabadikan momen, unggah video atau foto dan kadangkala semalaman hanya melihat-lihat status orang lain, video orang lain, foto orang lain dan lain-lain. Bahkan untuk sekedar selfie, orang rela mati. Sepanjang 2014-2016 berdasarkan liputan berbagai media masa, ‘sekitar 147 orang mati ketika sedang selfie’[1]. Ada yang jatuh dari gedung, ada yang masuk ke kawah,  masuk jurang, ada yang terkena ombak dan banyak lagi, semuanya tidak terduga sebelumnya. Selain penomena orang mati ketika selfie. Ada juga yang mendadak menjadi selebritis karena mengunggah video atau foto-foto di sosial media seperti briptu Norman, Aukarin, Young Lex dan lain sebagainya cukup dengan dua menit orang langsung seleb dan bahagia.  
Salah satu adegan dalam 'Histrionik'  ketika latihan. Foto: John Heryanto 
Media sosial, kini perlahan tumbuh menjadi pulau tanpa tanah bahkan tanpa manusia, tapi laksana impian setiap orang. Jika orang mau sejahtara dan berdaulat tinggal main clash of clan,  untuk berjuang tinggal main Doom and Destiny Advanced atau Curse of the Gold kalau menang langsung jadi pahlawan, sampai pada bercocok tanam, tunangan, bertetangga, bersahabat, perang, merawat lingkungan dan lain sebagainya semuanya sudah ada dalam game.  Pada titik inilah dunia virtual menjadi pilihan hidup ideal ketimbang menjalani kenyataan yang sebenarnya. Sungguh mengerikan, bukan hanya lingkungan hidup semata yang mati tapi juga beserta segala apa yang menyertainya juga ikut terkubur. 

“Histrionik” sendiri merupakan sebuah pertunjukan yang bertolak dari pengalaman  di atas. Dimana setiap orang yang terlibat dalam pertunjukan, sepanjang aktifitas yang dijalanai sehari-sehari dan 1/2 nya dihabiskan dengan memegang handphon atau laptop  untuk bertegur sapa di dunia virtual dengan orang asing. Pada sepanjang besentuhan dengan virtual itulah, arus informasi membanjir yang menenggelamkan sipengguna mulai dari persoalan agama, negara, sosial, politik, seks,  patah hati, perang, bunuh diri, dan lain-lain sampai pada yang remeh-remeh. saling menindih setiap menitnya di kepala sehingga para pemilik handphon atau laptop lupa akan halaman rumah atau orang yang duduk disamping kita sejak dari tadi, bahkan sampai lupa pada hidupnya sendiri.

Sedangkan dramaturgi pertunjukan, berjalan diantara tubuh yang terkontaminasi dunia virtul dengan kenyataan hidup yang tak dapat dihindarkan lagi bahwa media tersebut di zaman sekarang bukan lagi menjadi nikmat lebih tapi telah berpindah menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Barangkali satu-satunya yang tersisa dari hidup kita hanyalah Sosial-media (sosmed). Selamat menjadi orang lain.

(John Heryanto)


*Catatan proses 'Histrionik'
[1] http://lampung.tribunnews.com/2016/11/19/daftar-negara-yang-paling-banyak-mencatat-kasus-kematian-akibat-selfie

Related

Teater 639188060117954268

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item