KOCHUU: LALU LINTAS RUANG DARI ARSITEKTUR SUNYI



John Heryanto

Kochuu (2003)
Sampai hari ini, Jepang masih menjadi ikon bagi bangsa Asia sebagai sebuah negara maju, dimana ekonomi, teknologi, sain, industri, perdagangan, urbanisasi dan lain sebagainya berlangsung sangat singkat. Meski mengalami peristiwa dibomnya Nagaski dan Horosima, ditambah dengan bencana alam yang datang tiap tahun. Tapi dengan cepat Jepang mampu mensejajarkan dirinya dengan negara-negara maju lainnya di dunia. Paska Perang Dunia II inilah, titik bangkitnya kebudayaan Jepang termasuk asitektur didalamnya. Meski sebelumnya telah dimulai sejak  Restorasi Meiji (1868), setelah politik isolasi atau sakoku. Dan salah satunya yang terlihat jejaknya secara fisik yaitu berkaitan dengan bentuk dan pengelolan ruang. Lantas bagaimanakah tata ruang dibentuk hari ini, dalam ruang yang global?

Salah satu adegan dalam "Kochuu" (2003)

Estetika bagi orang Jepang tentunya berbeda dengan pandangan estetika yang berkembang di barat sebab  ia terkait dengan falsapah dan pandangan hidup yang   diwariskan secara turun temurun dari leluhur zaman shinto. Sehingga melihat jepang tidaklah bisa meminjam mata orang lain. Hal pertama yang muncul dalam kepala saya ketika menyebut Jepang ialah kesederhaan, efektif, simple dan tepat waktu. Berkaitan dengan waktu inilah, meski sangat subjektif. Tapi  hidup saya akan menjadi singkat dan sia-sia, jika menonton film yang membuat saya tidur. Melalui film “kochuu: japanese architecture/influence & origin”(2003) garapan Jesper Wachtmeister selama 52 menit serasa berada di Jepang. Diajak berkeliling mengenal kebudayaan kotemporer  melalui tatapan mata. Ihwal tata ruang dalam masyarakat urban berkaitan dengan falsafah hidup dan visi kebudayaan. Dimana tradisi dirawat sebagai yang tumbuh  dan sekaligus berhadapan langsung dengan masa depan.
 
Salah satu adegan dalam "Kochuu" (2003)

Bagi orang Jepang, konsep ruang hadir sebagai sesuatu yang mendasar. Terkait dengan roh atau jiwa, pikiran, badan, tubuh, indra, memori, sejarah dan berbagai perangkat lainnya yang terhubung dengan keaslian ‘organik’  dan tercermin dalam kebudayaan yang berjalan. Sedangkan estetika itu sendiri hadir sebagai mujo atau ketidakpastian. Senantiasa bergerak, berubah-ubah dan tak pernah selesai sebagai sebuah ketaksempurnaan siklus alam.

“kochuu: japanese architecture/influence & origin”(2003) selain menghadirkan berbagai arsitektur yang subur juga menghadirkan wawancara dari para arsitek Jepang masa kini seperti Tadao Ando, Toyo Ito, Kazuo Shinohara, Sverre Fehn, Juuhani Pallasma dan Kristian Gulichen terkait dengan pandangan hidup dan manifesto arsitek-nya sehingga Jepang menjadi sangat dekat sekaligus hal yang pribadi. Kiranya Film dokumenter ini menjadi tontonan wajib, terutama bagi mahasiswa arsitek. Apalagi bagi mahasiswa Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang berakar pada tradisi. Selamat Menonton.

Related

Seni Rupa 2742716699869694043

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item