Headlines News :
Home » , » ORASI TEATER TANPA JUDUL*

ORASI TEATER TANPA JUDUL*

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 23 Januari 2017 | 01.06.00

Oleh : Irwan Jamal

Irwan Jamal, sutradara Teater Piktorial yang juga anggota Keluarga Mahasiswa Teater non-aktif sedang menyampaikan orasinya, pada Malam Akrab, Sertijab dan Pelantikan Ketua KMT periode 2017-2018 (21/1). Foto : MCI

Hari-hari ini, sejak isu tentang perang global, isu kepemimpinan, pilkada dan pemilu dihembuskan, kita seolah masuk pada sebuah labirin perangkap yang menyeret kita pada sebuah medan perseteruan, pertikaian dan permusuhan. Labirin tak berujung ini tercipta karena abad informatika telah mendorong semua informasi untuk berseliweran dalam kepala kita. Kemudian semua orang menjadi pengamat dan sekaligus menjadi yang diamati. Menjadi subjek sekaligus menjadi objek. Di dalam labirin abad informatika, selain di dunia nyata, medan perseteruan berlangsung dan digelar di dunia maya. Ketegangan juga berlangsung di alam tak nyata.

Labirin yang tercipta di hari ini dan juga hari kemarin, bukan tidak mungkin akan terus mengekalkan cengkramannya sehingga ketersesatan kita semakin nyata. Cengkraman jaman telah membuat kita berada di persimpangan jalan yang asing tidak kita kenali. Kita berada pada satu jalan dimana kita kebingungan memilih satu jalan yang kita yakini. Kita pingsan dan siuman di persimpangan jalan. Kekal dalam kemabukan. Tidak sadar dan tidak mengenali jalan sendiri dan asyik menjelajahi jalan-jalan dalam labirin tak bertepi.

Kemudian, waktu berlalu, pikiran kita berganti, hati kita berganti, jiwa kita berganti dan kita lupa pada hakekat pekerjaan kita sebagai penggiat seni. Kita menjadi lupa dan menjadi orang gila yang miskin papa di persimpangan jalan, lupa pada jalan di masa lalu dan jalan menuju masa depan.

Maka sadarlah wahai saudara-saudaraku... Kita adalah penggiat seni, dan sesungguhnya seni telah menyediakan dan menunjukkan satu jalan di dalam jutaan jalan yang telah ditawarkan oleh abad informatika ini. Satu jalan terampuh, teruji dan paling diyakini kebenarannya bagi seorang penggiat seni adalah; Berkarya. Tidak ada jalan lain kecuali berkarya.

Namun, bergerombol orang yang tidak percaya menyangkalnya. Mereka mengatakan situasi dan diri yang terpecah telah hadir di dalam diri kita sendiri. Dan karena kita menjadi diri yang pecah, maka teater yang kita geluti dengan sendirinya berwajah pecah.

Lalu, apakah teater sudah tidak memiliki fungsi sosial dan tidak memiliki daya guna, sehingga banyak seniman yang lebih percaya pada panggung-panggung dunia maya daripada panggung-panggung yang nyata? Dan jika memang teater telah terkikis fungsi sosial dan daya gunanya, lalu mengapa kita masih memilih menjadi orang teater? Mengapa kita berada di sini? Mengapa kita tidak berada di kampus atau sekolah jurusan ekonomi, kedokteran, matematika, keguruan, antropologi, sejarah, sastra, budaya, bahasa, atau jurusan-jurusan lainnya. Mengapa kita berada disini memilih kampus seni dan jurusan teater sebagai rumah tempat bernaung dan tumbuh berkembang. Adakah jalan lain yang bisa kita temukan seandainya kita tidak memilih berada di institusi seni dan jurusan teater?

Saya harus menjawab sendiri pertanyaan saya sebelum jidat saya terbentur dinding kegelisahan tanpa akhir. Jawaban saya, jika teater masih menjadi pilihan maka itu berarti kita percaya bahwa teater dan seni secara keseluruhan masih kita yakini memiliki fungsi sosial dan daya gedor yang hebat untuk perubahan yang lebih baik di masyarakat.  Kita sudah memilih. Kita sudah berada disini. Menjadi orang yang belajar disiplin ilmu teater di bangku pendidikan perguruan tinggi. “… Dalam hidupmu yang hanya sekali, kau harus memilih, di lintasan mana kau akan berjalan”, kata Jean Paul Marat dalam naskah Marat-Sade karya Peter Weiss.   

Tapi teater seperti apa sebenarnya yang memiliki fungsi sosial dan daya guna?... Teater yang memiliki fungsi sosial dan memiliki daya guna adalah teater yang berjuang dan mempersembahkan karyanya untuk masyarakat. Teater jenis ini adalah teater yang sungguh-sungguh, teater yang serius menancapkan namanya sebagai teater. Teater yang sungguh-sungguh tidak akan melakukan manipulasi selera massa untuk kepentingan pribadi atau kepentingan keuntungan semata.  Teater yang sungguh-sungguh tidak akan menjadikan masyarakat sebagai objek yang pasif yang dimanipulasi dan diexploitasi. Bukan sekedar teater penghibur bagi orang yang patah hati atau petualang-petualang yang membutuhkan onani emosional. Bukan.

Teater yang benar di masa kini adalah teater yang serius dan aktif menenemukan dan menyusun nilai-nilai baru maupun ungkapan estetika tercanggih. Saini KM, salah seorang founding father jurusan teater pernah mengatakan bahwa; Penciptaan teater palsu bersifat manipulatif dan exploitatif, sedangkan penciptaan karya-karya seni serius bersifat kreatif-exploratif.

Lalu apakah teater yang sedang kita geluti sekarang ini sudah masuk pada kategori yang serius menggeluti nilai-nilai tertinggi dan bersifat kreatif-exploratif?

Jika kita masuk pada ketegori ini maka saya yakin, teater kita akan memiliki fungsi dan daya guna yang kuat bagi kemajuan masyarakat. Teater kita akan dinanti-nanti dan dikunjungi oleh penonton karena teater kita adalah teater yang merupakan bagian dari masyarakat. Dan tumbuh kembangnya teater jenis ini adalah merupakan tanggung jawab jurusan teater yang secara tidak langsung merupakan penerima mandat dan penerima subsidi dari pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan merawat teater sehingga menjadi seni yang agung dimana teater telah dipercayakan untuk dilembagakan dalam lembaga kampus seni. 

Dan Keluarga Mahasiswa Teater, sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang teater dan berada di sebuah institusi berlabel seni dan memiliki jurusan teater seyogyanya memiliki juga fungsi yang berarti. Organisasi mahasiswa yang kritis dan bisa mengkritisi dirinya serta lingkungannya adalah organisasi mahasiswa yang memiliki fungsi yang jelas. Bagaimana mungkin kita tega membiarkan rumah kita hancur sedikit demi sedikit? Runtuh perlahan sehingga yang tinggal di masa depan hanya puing-puing saja dan sebuah nisan sebagai penanda kematian. Kita tidak ingin menjadi Hamlet dalam Hamlet Mesin karya Heiner Muller yang berkata dan berbicara dengan ombak sambil mengenang masa lalunya di atas panggung ; “ Aku dulu Hamlet, aku berdiri di pantai dan berbicara dengan hempasan gelombang ombak, bla bla bla, di belakangku reruntuhan…. Lonceng mendentangkan kematian, pembunuh dan janda berpasangan, anggota dewan berbaris tegap di belakang peti mati yang mulia, siapa mayat dalam kereta jenazah? Untuk siapa teriakan dan keluhan yang banyak itu? Itu adalah mayat yang mulia, barisan rakyat di kedua sisi jalan adalah karya politiknya, dia tadinya lelaki, mengambil semua dari semuanya…“.

Suyatna Anirun telah meninggal. Rendra telah meninggal. Teguh Karya telah meninggal. Arifin C. Noer telah meninggal, dan sederet nama orang-orang yang berjasa meletakkan dan menegakkan pilar-pilar teater telah menjadi daftar orang-orang yang meninggalkan kita, dan di belakang daftar nama ini berbaris antri nama-nama lain yang akan meninggalkan kita.

Saudara-saudara… Orasi ini tidak akan saya arahkan kepada tema tentang orang-orang yang meninggal. Saya bukan tipe orang yang terlalu layu dan berlarut-larut jika membahas tentang orang yang meninggal. Tidak! Yang ingin saya kemukakan disini ketika saya menyebutkan nama-nama besar dalam dunia teater yang telah meninggalkan kita ini adalah soal dampak, sekali lagi soal dampak, dampak yang ditimbulkan sepeninggal tokoh-tokoh besar ini.   

Mari kita perhatikan, bagaimana wajah teater sepeninggal mereka, dan saya mengklaim, inilah yang menjadi sumber kegelisahan orang-orang teater di masa kini yang memahami sejarah teater di masa lalu. Yaitu, kegelisahan akan jelas nampaknya ketercerabutan teater dari akarnya. Sepeninggal mereka, teater menjadi pohon yang penuh hama dan kutu. Dan di bawah pohon teater yang penuh hama dan kutu itu, bernaung para penanamnya; petualang-petualang, kaum snobis, para penggemar nostalgia, orang-orang yang malas untuk proses dan orang-orang yang sudah kehilangan daya untuk memperjuangkan masyarakat, merekalah para penanam dan pemelihara serta penyebar hama dan kutu di pohon teater. Dan di bawah pohon ini saya bermimpi buruk; saya memimpikan sekolah-sekolah teater yang hancur, jurusan-jurusan teater di seluruh Indonesia membangkai, menjelma menjadi hanya sekedar puing-puing sejarah. Dalam mimpi buruk itu, saya menemukan jurusan teater menjelma menjadi bagian dari universitas orang-orang mati.  

Tapi saya tidak selalu bermimpi buruk, dan di antara pohon-pohon yang ‘sakit’, masih banyak pohon-pohon segar dan sehat. Batangnya kuat, daunnya hijau dan rimbun, buahnya manis bermanfaat sebagai hasil dari cara dan perawatan yang baik…. Para penanam dan perawat pohon teater yang ‘sehat’ ini adalah orang-orang yang memiliki daya hidup memperjuangkan dirinya agar memiliki tradisi keaktoran yang kuat, haus dan gemar akan ilmu pengetahuan, memiliki hasrat besar pada proses dan explorasi untuk menemukan nilai-nilai seni teater, selalu bekerja dan membina hubungan dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi untuk membangun teater menjadi seni yang bermartabat dan melakukan segala hal yang didapat dari pengetahuan yang dia miliki, serta menempatkan teaternya sebagai alat perjuangan bagi kemanusiaan dan dunia yang lebih baik. Di pohon inilah saya mendapatkan mimpi indah. Surga yang penuh warna dan keindahan serta harapan akan masa depan.

Begitulah sudara-saudaraku, keluargaku di KMT.

Ingatlah satu hal… Sejarah dan perubahan datang tiba-tiba dan tidak terduga. Seringkali manusia terlambat menyadarinya. Dan penyesalan selalu datang terlambat. Ketika nasi telah menjadi bubur, kita tak akan bisa mengembalikannya menjadi nasi. Sebelum semuanya terlambat diperlukan kesadaran dan kewaspadaan sejak sekarang. Segeralah membaca situasi yang terjadi. Setiap perubahan yang terjadi di dunia ini hanya ada di tangan anak-anak muda. Orang tua lebih cenderung mempertahankan situasi agar tidak berubah. Dan percayalah Jalan Seni adalah Jalan Perubahan. Jelajahi seni tanpa batas, dari yang terlembut sampai yang terkasar, dari yang radikal bahkan brutal jika itu diperlukan untuk mencapai hasil yang maximal. Bangunlah kalian wahai para perubah! Rubahlah dunia teater menuju dunia yang lebih baik. Di mimbar ini saya menyerukan agar kita merubah situasi yang membeku ini. Gunung es kebekuan ini harus diberi api agar meleleh dan mencair. Jadilah kalian api yang membakar! Jadilah anak-anak muda yang penuh gelora.  Panjang umur perjuangan! Panjang umur kesenian! Panjang umur teater! Panjang umur Keluarga Mahasiswa Teater! Viva teater!

Bandung, 21 Januari 2017

* Disampaikan pada acara “Malam Keakraban’ (MAKRAB), Sertijab dan Pelantikan Ketua Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) ISBI Bandung, periode 2017-2018, Sabtu 21 Januari 2017 di Gedung Olah Seni Patanjala Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger