PILGRIM PROJECT: BAHASA DARI JIWA YANG MENCARI JIWA



John Heryanto

Salah satu adegan dalam  "Pilgrim Project" Komunitas Berkat Yakin - Lampung. Foto: John Heryanto.

“Robii, betapa kan sampai perahu ini, pacu kuda ini kau rindhoi. Jika bulan turun di belantaran pematang. Itulah bulan yang dulu turun dihalaman, beradun merah….” Begitulah seorang pengembara berujar diantara pengembara lainnya. 8 orang laki-laki berjalan menuju sebuah tempat nubuat, tak ada seorangpun yang tahu kapan akan sampai kesana selain dari pertanyaan yang berujung pada pertanyaan. Begitulah “Pilgrim Project” hadir di panggung selama 58 menit, mengurai manusia yang dihadapkan pada keyakinannya sendiri. Siapakah pejalan kaki itu yang membawa begitu banyak barang bawaan, dengan tas besar, tikar dan lain sebagainya? Apa yang terdapat dalam tas itu? Jika yang terdapat dalam tas adalah dunia, dimana barang-barang yang terdapat didalamnya merupakan perlengkapan hidup. Lantas kenapa mencari sesutau di luar dunia? Bukankah hal yang aneh jika suka puasa tapi tak suka lapar? Lantas bagaimana "Pilgrim Project" sesungguhnya memposiskan antara yang dalam dan yang luar?


“Pilgrim Project” di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (9/1/17) merupakan sebuah drama yang berjalan diantara ruang yang terdapat dalam dada ‘spiritual’ dan dada itu sendiri ‘dunia’ yang terus berdegup. Jiwa yang diombang ambing atas kenyataan yang dijalani. Ia tidaklah seperti percakapan Didi dan Dodo dalam “Godot” yang membicarakan sesuatu yang remeh-temah seperti wortel atau sepatu di bawah pohon sambil menunggu seseorang. “Pilgrim Project” sejak awal hingga akhir pertunjukan langsung mempertanyakan tuhan diantara perjalalan ke dunia baru, pulau baru, rumah baru dan keragu-raguan antara pilihan rantau atau pulang kampung. Sebagaimana yang diungkapkan salah seorang pejalan kaki:


“kau suruh ijin pada diri sendiri, pada yang terdapat dalam dada/ harus beriman sembari mencegah masuk dan bertanya/ ketergesa-gesaan itu perbuatan setan/ jangan ingat kampung halaman sebab masa lalu adalah batu”


Salah satu adegan dalam "Pilgrim Project" Komunitas Berkat Yakin - Lampung. Foto: John Heryanto
Teks-teks hadir dalam “Pilgram Project” tidak hanya berfungsi sebagai pengantar imajinasi semata. Melainkan sebuah jangkar dari perahu yang bernama seni peran. Melaui teks itulah acting digali berdasarkan keyakinan pada kata-kata yang memiliki caranya sendiri dalam mewujudkan kehadiranya di atas panggung. Sehingga tubuh aktor lebih banyak hadir dengan pose-pose tubuh ketimbang banyak bergerak kesana-kemari.   Sepintas penikmat tontonan akan teringat pada sandiwara radio dimana kata-kata bukan hanya sebagai kisah dan artistic pertunjukan tapi juga sebagai aktor. 
 

Pada sisi yang lain “Pilgrim Project” masih mempercayai kekuatan visual di atas panggung sehingga para pengembara memakai celana jeans, jaket, ikat kepala, topi, syal dengan tas-tas besar, tongkat, gitar, payung, suling. Hal ini memperlihatkan upaya untuk menghadirkan sosok seorang musafir yang lapar dan haus akan jiwanya. Namun sayangnya hal itu tidak kesampaian sehingga para pengembara itu lebih terlihat sebagai pendaki gunung dan penempuh rimba atau backpacker yang baru pertama kali pergi ke gunung dan takut tersesat di jalan, diterkam binatang buas dan lain sebagainya. Hal  ini barangkali akibat terlalu banyak  mengolah tampilan dengan pose-pose sehingga gambar-gambar menjadi dangkal  ‘diwawas teuing, jadina teu waas’.


Salah satu adegan dalam "Pilgrim Project" Komunitas Berkat Yakin-Lampung. Foto: John Heryanto

Terlepas dari itu semua, “Pilgram Project” karya/ Sutradara: Ari Pahala Hutabarat ( Komunitas Berkat Yakin) telah mehadirkan pencarian Tuhan yang dilepaskan dari hal-hal yang metafisik atau kewahyuan semata yang akhir-akhir ini memenuhi wajah Indonesia sehingga menjadi kasar. Melainkan Tuhan dihadirkan berdasarkan refleksi nalar dan pemahaman kritis tentang sebuah perjalanan hidup seorang manusia yang termanifestasikan dalam teks dan laku para tokohnya. Sehingga  tauhid tidak lantas selesai begitu saja ketika ada keyakinan melainkan menjadi pusat kebudayaan yang bergerak seperti halnya para pengembara tersebut. Setiap pemberhentian senantiasa bernyayi dan disitulah agama menyentuh pemeluknya lewat bahasa estetis.

Related

Teater 45618543760825315

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item