KOMITE MAHASISWA BANDUNG-ISBI: PANTANG PULANG SEBELUM TUNTUTAN KAMI MENANG!





Bandung, Daunjati – Batas akhir pembayaran SPP (Surat Persetujuan Pembayaran) semester genap telah resmi ditutup pihak Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI Bandung) pada Kamis, 2 februari 2017, tepat pada pukul 18.00 WIB. Pintu Bank Rakyat Indonesia (BRI) mulai dikunci, ertanda mahasiswa yang telat membayar SPP semester genap resmi dinyatakan pihak kampus senagai mahasiswa tidak aktif.

Namun kegelisahan mahasiswa yang belum bisa membayar SPP itu direspon dengan sigap oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ISBI Bandung bersama Komite Mahasiswa Bandung-ISBI dengan menggelar aksi menduduki (tidur bersama) di halaman rektorat ISBI Bandung, sebagai upaya penolakan terhadap kebijakan ISBI Bandung dan dorongan solidaritas bersama kepada mahasiswa yang dinyatakan non-aktif akibat tidak bisa bayar SPP tanggal 2 Februari 2017 dan menuntut pencabutan status mahasiswa tidak aktif tersebut.

BEM ISBI Bandung dan LPM Daunjati menyebar angket kuisioner terkait masalah hari terakhir pembayaran SPP. Kuisioner yang terkumpul berjumlah sembilan puluh lembar, dari kuisioner tersebut tercatat ada delapan puluh enam mahasiswa yang tidak sanggup membayar SPP pada tanggal 2 Februari 2017. Sisanya menyatakan sudah membayar SPP namun ingin ikut bersolidaritas untuk memperjuangkan nasib mahasiswa yang dianggap tidak  aktif. 

Fajar Bintang salah satu mahasiswa yang sudah membayar SPP mengatakan jika teman-teman yang belum bisa membayar dianggap nonaktif oleh pihak kampus, dia akan menarik uang pembayaran dari pihak kampus sebagai solidaritas kepada mahasiswa yang belum bisa membayar agar diberi tenggat waktu pembayaran oleh pihak kampus.

Naufal Waliyyuddin sebagai koordinator kuisioner mengatakan, bahwa dari sembilan puluh mahasiswa yang telah menulis kuisioner bisa saja bertambah karena situasi kampus yang masih dalam suasana liburan membuat kuisioner tidak terdistribusi ke seluruh mahasiswa ISBI Bandung. Naufal menambahkan, ada mahasiswa angkatan 2016 jurusan teater yang  keluar kuliah karena kebijakan yang ditetapkan oleh pihak kampus memberatkan baginya, pungkas Naufal sambil membuang rokok dengan bahasa tubuh yang kesal.

Menduduki Rektorat (Tidur Bersama)

Puluhan mahasiswa mulai memadati pelataran gedung Rektorat ISBI Bandung pukul sepuluh malam, massa aksi yang sudah mempersiapkan matras, laptop, dan sleeping bag langsung membuat suasana pelataran Gedung rektorat seperti tempat kosan mereka. Kuisioner yang terkumpul oleh massa aksi di foto copy ulang dan ditempelkan memenuhi  pelataran Gedung Rektorat, tak lupa menyegel pintu Gedung dan alat absen (barcode) staf kampus, Kamis (2/2) malam hari.

Massa aksi mengisi aksi tidur bersama bukan hanya dengan menikmati angin dingin pelataran Gedung rektorat dengan tidur saja, tapi mereka melakukan diskusi, membedah permasalahan yang sedang terjadi, disela diskusi massa aksi bermain musik bersama.

Arul, salah satu massa aksi yang berasal dari jurusan teater angkatan 2016 mengatakan, aksi tidur bersama ini sebagai wujud solidaritas bersama bukan hanya dari massa yang divonis oleh pihak kampus sebagai mahasiswa tidak aktif tapi juga mahasiswa yang sudah membayar untuk ikut membuat sikap menuntut penghapusan kebijakan mahasiswa tidak aktif.

Aksi tidur bersama yang berlangsung sejak pukul 22:00 WIB sampai dengan pukul 07.00 WIB, menurut juru bicara komite mahasiswa Bandung (ISBI Bandung), Mohamad Chandra Irfan , aksi menduduki rektorat (tidur bersama) ini menuntut agar lembaga mencabut status mahasiswa tidak aktif menjadi aktif kembali dengan memperpanjang tenggat waktu pembayaran sampai tanggal 3 maret 2017, lalu menagih janji pihak rektorat agar mengurangi uang administrasi yang dipungut sebesar Rp 3.500,- menjadi Rp. 1000,- sebagai kesepakatan aksi sebelumnya. Chandra menambahkan, bahwa setiap mahasiswa yang ikut bersolidaritas tidak akan pulang sebelum tuntutannya menang.

Memenangkan Tuntutan

Pukul 08.00 WIB, massa aksi sudah bersiap menghadapi pihak lembaga untuk melakukan diskusi bersama pihak lembaga. Alat absen yang disegel ternyata membuat pihak staf terganggu tak terkecuali wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan, Dr. Benny Yohanes, S.Sen, M.Hum. Pihak rektor bidang akademik dan kemahasiswaan melakukan negosiasi dengan massa aksi untuk melakukan diskusi bersama dalam rangka mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi.

Massa aksi yang jumlahnya terus bertambah, dipersilahkan masuk ke ruangan gedung rektorat pukul 09.00 WIB. Percakapan diawali oleh Benny Yohannes terkait persoalan yang terjadi dan mempersilahkan kepada perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan tuntutannya. Juru bicara massa aksi Komite Mahasiswa Bandung-ISBI, Mohamad Chandra Irfan, memaparkan tuntutan mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Chandra mengatakan kepada pihak kampus, untuk segera mencabut status mahasiswa tidak aktif dan cuti disebabkan karena tidak bisa bayar SPP pada waktu terakhir pembayaran, kamis (2/2) dan memperpanjang tenggat waktu pembayaran SPP menjadi tanggal 3 maret 2017. Chandra menambahkan, aksi ini dilakukan bukan oleh segelintir mahasiswa yang belum membayar SPP namun seluruh mahasiswa yang sudah bayar SPP turut bersolidaritas terhadap mahasiswa yang dianggap tidak aktif.

Rembugan antara mahasiswa dan lembaga memakan waktu satu jam, dan mendapatkan hasil yang memuaskan karena pihak lembaga membuat SK Rektor yang ditandangani oleh Warek I, menyetujui memperpanjang tenggat pembayaran SPP sampai 3 maret 2017. Mahasiswa yang belum membayar SPP, masih bisa mengikuti perkuliahan (dengan status tetap aktif) juga menghimbau kepada mahasiswa yang belum bisa bayar untuk membuat surat pernyattaan dari orang tua ihwal kapan kesanggupan bayarnya. Lalu untuk KRS (Kartu Rancangan Studi) adalah sementara, tapi absen dan pengambilan mata kuliah masih bisa dilakukan.

Seluruh tuntutan yang menempel di rektorat dicabut secara bersama-sama, dibersihkan dan juru bicara Komite Mahasiswa Bandung-ISBI, membacakan pernyataan SK Rektor di halaman rektorat. Setelah itu, massa aksi berjalan bersama mengelilingi kampus sembari membacakan SK Rektor di Mesjid, di depan pendopo, di depan G.K Sunan Ambu, terakhir membacakan sumpah mahasiswa dipimpin Jubir dan diikut ulang oleh massa aksi.


[Agung Eko Sutrisno]

Related

Pendidikan 6359232354382261122

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item