Headlines News :
Home » , , , » PIDATO POLITIK PERDANA PRESIDEN BEM ISBI BANDUNG PERIODE 2017-2018

PIDATO POLITIK PERDANA PRESIDEN BEM ISBI BANDUNG PERIODE 2017-2018

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 28 Februari 2017 | 10.37.00



Mohamad Chandra Irfan, saat membacakan pidato politik perdananya setelah dilantik secara resmi menjadi
Presiden BEM ISBI Bandung periode 2017-2018, Kamis (23/02) di GOS Patanjala ISBI Bandung.
Foto : Dokumentasi Majelis Mahasiswa ISBI Bandung
Kawan-kawanku mahasiswa ISBI Bandung yang aku cintai dan aku sayangi,

Pada tahun 2000, di Perancis, ribuan mahasiswa dan dosen (yang kebanyakan dosen ekonomi) membuat petisi: ”Kami ingin keluar dari dunia imajiner ini”. Mereka sadar, ilmunya makin jauh dari abstraksi teoritis karena absennya realitas sebagai hal yang mendasari teori-teori akademik.

Kita, mahasiswa, mempunyai tugas sejarah mengemban tanggung-jawab agar pengetahuan yang kita miliki bisa berguna bagi rakyat, bagi realitas objektif. Pengetahuan yang kita miliki harus berdialektika dengan realita, dan kesimpulan realita itu adalah penderitaan Rakyat.

Sekarang, apa yang kita perlukan dalam belajar? Organisasi macam apa yang kita butuhkan?

Adalah sangat diperlukan untuk berpikir tentang persoalan ini karena dalam satu pemikiran tertentu bisa dikatakan bahwa mahasiswa-pemudalah yang akan berhadapan dengan tugas-tugas aktual untuk menciptakan sebuah masyarakat baru, yang mengembangkan kebudayaan rakyat.

Yang kita perlukan dalam belajar adalah membangun hubungan dialektis antara ilmu pengetahuan yang kita miliki dengan persoalan-persoalan rakyat. Organisasi yang kita butuhkan adalah organisasi yang memiliki komitmen memperindah perjuangan rakyat, memuliakan ilmu pengetahuan, ilmiah, rasional, konkret, demokratik dan objektif.

Kawan-kawanku yang aku sayangi;

Seorang revolusioner Rusia, Vladimir Lenin pernah mendefinisikan sistem pendidikan kapitalis dengan menyebutnya sebagai ”sekolah-sekolah kuno”. Sebagai identifikasi bagi sistem pembelajaran yang lepas dari kebutuhan keadilan sosial, sebagai identifikasi bagi mereka yang, ”memaksa murid-muridnya untuk mengasimilasi sejumlah besar pengetahuan yang tidak berguna, usang dan tidak bisa dikembangkan”. Yang ilmunya hanya digunakan untuk mengabstraksikan dunia dan persoalnnya, tapi tidak pernah berwelas-asih kepada hidup dan kehidupan manusia.

Ya, Rakyat dan kelas proletariat akhirnya dijadikan diksi paling sakral dalam dunia akademik, dalam disiplin ilmu mahasiswa-mahasiswa borjuis di semua kampus, di semua fakultas, di semua jurusan. Bagi kita yang menggeluti ilmu artistik, kesenian, sebut saja; teater, karawitan, seni rupa, tata pentas panggung, tari,  seni peran, film, antropologi budaya, angklung dan musik bambu—jika tidak bekerja bersama rakyat, hidup di tengah-tengah massa yang berjuang, singkirkan saja segala keahlian kita, hancurkan galeri-galeri kita, gedung-gedung pertunjukan kita, studio-studio kita, karena, seorang pekerja seni-budaya pada aspek artistik mau-tak-mau mesti merepresentasikan politik kelas proletariat, merepresentasikan penderitaan rakyat.

Saya lebih percaya bahwa, kesalahan politik jauh lebih berbahaya ketimbang kesalahan estetik. Keyakinan ini arah implikasinya adalah meletakkan perjuangan rakyat di garda paling depan perjuangan estetik. Yang membuat karya seni bernilai adalah sejauh mana ia bisa memberi pengetahuan konkret sehingga pengalaman-pengalaman praksis, visual, kognitif yang dialami rakyat ketika ada ketidakadilan bisa diangkat ke permukaan oleh seni. Kita bisa saja memulainya dengan mengeluarkan kesenian dari galeri-galeri, pindahkan ke jalanan, di arena di mana proses ketidakadilan sedang berlangsung. Dengan begitu, nilai-nilai yang eksis dalam estetika bergerak mengabdi pada kenyataan.

Galeri-galeri, panggung-panggung, studio-studio, terlalu mewah bagi kelas sosial paling bawah, tak terjangkau waktu, yang telah disibukkan oleh, jika buruh; disiplin ketat pabrik, dililit gelegak zat asam yang menggerus lambung, jika petani; mencangkul di sawah dan cemas karena tahu akan gagal panen, juga bagi para perempuan disibukkan oleh kebutuhan susu bagi anak-anaknya.

Kawan-kawanku mahasiswa, dan para hadirin;

Perlawanan-lah yang mengindahkan segala bunyi, karena pembebasan rakyat adalah nada yang baik, persembahan bagi dunia; Revolusi. Yang sanggup membuat kami terus bergerak adalah semangat rakyat yang masih berkobar, dan perlawanan yang terus menggeliat mencari jalan pembebasannya. Hanya itulah alasan kami terus mengobarkan perlawanan, membangun pergerakan.

Semoga organisasi kita ke depannya lebih progresif dan terus terintegrasi dengan Rakyat!

Hidup Rakyat!
Hidup mahasiswa!

Bandung, 23 Februari 2017

Gedung Olah Seni (GOS) Patanjala ISBI Bandung

Salam,

Mohamad Chandra Irfan
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger