Headlines News :
Home » , , , » MEDIASI TIGA MAHASISWA TELKOM UNIVERSITY MASIH BUNTU

MEDIASI TIGA MAHASISWA TELKOM UNIVERSITY MASIH BUNTU

Written By LPM DAUNJATI on Rabu, 15 Maret 2017 | 20.47.00


Fariz, Momon, Edo. ketiga mahasiswa Telkom University yang diskors pihak Universitas




BANDUNG (Daunjati).-  Sinatrian Lintang Raharjo (momon), Fidocia Wima Adityawarman (Edo), dan Lazuardi Adnan Fariz (Fariz), Mahasiswa yang diskors pihak kampus setelah dinilai menyebarkan paham Marxisme melalui buku-buku di Perpustakaan Apresiasi, didampingi kuasa hukumnya  Asri Vidya Dewi, mengadakan konferensi pers yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (15/03). Mereka menjelaskan hasil mediasi yang diadakan di hari yang sama.

Dalam mediasi Edo dan Momon dianggap menyebarkan ajaran  Marxisme melalui kegiatan lapak buku perpustakaan apresiasi, berbeda dengan kedua temanya Fariz dianggap sebagai sutradara dibalik aksi protes yang dilakukan sejumlah mahasiswa Telkom University. “Dalam mediasi tadi kami dinilai menyebarkan paham Marxis, lalu Perpustakaan Apresiasi dinilai illegal dan kami dinilai menyampaikan ujaran kebencian,” tutur momon

Faris menjelaskan, mediasi tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, salah satunya tidak akan ada lagi pembatasan terhadap kegiatan literasi di Universitas Telkom. Perpustakaan Literasi akan dijadikan komunitas atau study grup untuk ruang diskusi dan demokrasi, serta ke depan akan dijadikan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Selain itu, tema diskusi serta jenis buku yang dibaca tidak akan dibatasi.

suasana konferensi pers

“Lantas untuk yang pencabutan skorsing, kita masih harus menempuh mekanisme selanjutnya. Masih ada mekanisme, kata pihak kampus sedang melakukan proses banding. Skorsing saya, Lintang, dan Edo, masih tanda tanya. Belum ada kesepakan pencabutan skorsing. Cuma untuk ruang-ruang demokrasi itulah yang bisa dikatakan sebagai angin segar di civitas akademika Telkom University,” lanjut Faris.

“hasil mediasi tadi pihak kampus menyatakan akan adanya kebebasan literasi, Perpustakaan Apresiasi dilegalkan, jadi study group. Lalu pihak kampus sedang melakukan banding. Harusnya skors selesai, tapi karena ada aksi (dari mahasiswa yang merespon penyitaan buku) jadi terhambat. Belum jelas skorsing akan dicabut atau tidak,” tambah Lintang saat ditanya mengenai hasil mediasi.

Kuasa Hukum ketiga mahasiswa, Asri Vidya Dewi menyatakan bahwa dalam mediasi terdapat posisi yang tidak setara, di mana pihak kampus mendominasi mediasi. Selain itu, Asri pun menilai BEM Telkom University melakukan pembiaran sejak awal kasus bergulir. BEM baru muncul saat mediasi dilangsungkan.“Ada relasi kuasa dalam mediasi tadi. Selain itu, ada juga pembiaran dari BEM. Tadi pun tidak ada hitam di atas putih,”  tutur Asri

Momon mengatakan bahwa merasa lalai tidak meminta perjanjian hitam di atas putih, namun momon dan kawan-kawan siap menuntut agar setiap janji yang diberikan pihak kampus tidak menjadi angin lalu. “Kami besok akan ke bidang kemahasiswaan, akan mencari legalitas hasil mediasi barusan,” pungkas Momon.


AGUNG EKO SUTRISNO
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger