Headlines News :
Home » , , , » PEMBERANGUSAN BUKU DI TEL-U, BUKTI FASIS ORBA MASIH ADA

PEMBERANGUSAN BUKU DI TEL-U, BUKTI FASIS ORBA MASIH ADA

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 14 Maret 2017 | 20.25.00

massa aksi Komite rakyat Peduli Literasi di gedung Graha Merah Putih Telkom

“Hari ini mereka memberangus buku, besok besok manusia yang akan diberangus! Membiarkan satu fasis hari ini sama dengan membiarkan fasisme menjalar dan menyebar!”, kutipan orasi Ucok (ex-Homicide), salah satu yang orasi dalam aksi menolak pemberangusan buku dan skorsing tiga mahasiswa Telkom University yang menggelar lapak buku di areal kampus.

DAUNJATI, Bandung. Selasa (14/3), puluhan massa aksi yang menamakan diri sebagai Komite Rakyat Peduli Literasi menuntut penegakan demokrasi dan kebebasan akademik, di gedung Graha Merah Putih Telkom, JL. Japati No. 1 Kota Bandung. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas terhadap diskors-nya Lintang, Edo dan Faris oleh pihak Universitas Telkom karena membuka lapak buku dan dianggap menyebarkan paham komunisme di lingkungan kampus. Komite Rakyat Peduli Literasi yang memulai aksi sejak 10.00 WIB di depan Gedung Sate ini terdiri dari mahasiswa dari berbagai kampus; Telkom University, ISBI Bandung, Unisba, Unikom, UIN, dan Unpad. Selain para mahasiswa, ada pula Advokat, Pegiat Seni sampai Aktivis Karang Taruna. Lahirnya aksi ini, menurut salah satu mahasiswa Tel-U, merupakan bentuk solidaritas dari siapapun yang mendukung kebebasan literasi, di mana pun itu, sebagai bagian dari demokrasi. 

Kasus pelarangan-pelarangan kegiatan literasi dewasa ini memang sedang marak (lagi) secara nasional, bahkan setelah rezim Orde Baru tumbang 1998. Dari mulai penyerangan kampus ISBI Bandung oleh sekelompok ormas intoleran pada 2016 lalu, yang dianggap menyebarkan paham komunisme lewat Sekolah Marx: Estetika melalui Pemikiran Karl Marx. Lalu pemberedelan lembaga pers mahasiswa di beberapa kampus, sampai kasus Perpustakaan Apresiasi yang menghasilkan skorsing tiga mahasiswa Telkom University dan diberangusnya tiga buku, Manifesto Partai Komunis yang ditulis Karl Marx dan Friedrich Engels, dua Seri Buku TEMPO: Orang Kiri Indonesia Njoto - Peniup Saksofon di Tengah Prahara dan Musso - Si Merah di Simpang Republik.

Dalam sejarahnya, rezim Orde Baru sebagai rezim yang paling banyak melakukan pelarangan literasi seperti pemberedelan buku, pembubaran diskusi dan pelarangan buku kiri. Hal ini dilatarbelakangi oleh kejadian 1965, sebagai gerbang awal Orde Baru mematikan demokrasi di negeri ini: pembunuhan tiga juta rakyat yang dituduh PKI oleh militer, penghapusan reforma agraria dan kapitalisasi di semua sektor, dan pelarangan aktivitas dan literasi kiri. Semua itu dibuat seolah dalam rangka mensejahterakan Indonesia. Padahal, Mahkamah Agung dalam Keputusan No. 2896 K/Pdt/2009 tanggal 28 Oktober 2010, Yayasan Supersemar, yayasan yang didirikan Soeharto, dihukum mengganti kerugian negara sebesar 315.002.183 US dolar dan Rp 139.229.178 atau sekitar Rp 3,07 triliun. Namun, hingga kini putusan tersebut belum dieksekusi lantaran aset Yayasan Supersemar tidak mencukupi untuk membayar ganti rugi (Republika, 2014). Fakta ini hanya lah sebagai gambaran seperti apakah sosok sebuah rezim pembredel literasi.

Pukul 11.30 WIB, saat massa aksi menyampaikan tuntutannya di depan gedung Yayasan pendidikan Telkom, salah satu massa aksi bernama Yoga, seorang Aktivis Karang Taruna yang juga sedang berjuang melawan investor bersama rakyat Padalarang, melakukan orasi. Berikut kutipan yang tercatat oleh Daunjati: Kalau di kampungku, Yahya (Wakil Rektor-4 Tel-U) itu kaya si Cepi, preman yang suka ngeintimidasi rakyat. Ngancem-ngancem rakyat pake cara militeristik. Kasus seperti ini bukan tidak mungkin akan terjadi juga pada kita semua. Maka dari itu para pembredel buku harus kita lawan!

Selain menuntut Telkom University untuk membatalkan skorsing terhadap tiga mahasiswa, massa aksi juga menuntut Yahya (Wakil Rektor-4 Tel-U) untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena telah memberangus dan melarang aktivitas literasi yang mencoreng demokrasi, juga menuntutnya untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Rektor-4 Tel-U. Tuntutan disampaikan di depan gedung Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), tapi hanya membuahkan hasil yang nihil, adalah sikap Yayasan Pendidikan Telkom, melalui perwakilannya menemui massa aksi yang mencla-mencle. Seperti yang dikatakan Mohamad Chandra Irfan, Presiden BEM ISBI Bandung, yang juga salah satu massa aksi menyatakan: “Masa’, Yayasan enggak tau sama sekali duduk persoalan ini (kasus skorsing mahasiswa oleh rektorat Tel-U), bilangnya baru tau beritanya pagi tadi dari media. Yayasan apaan mencla-mencle begitu?”. 

Setelah sekitar dua jam tak mendapat hasil apapun di depan kantor Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), massa aksi memutuskan berpindah ke kantor pusat Telkom, Graha Merah Putih di Jalan Japati Nomor 1. Dengan tensi yang sudah tidak lagi sabar, Graha Merah Putih Telkom langsung dimasuki oleh seluruh massa aksi, termasuk mobil pick-up sebagai mobil komando aksi. Aksi kemudian berlangsung di areal Graha Merah Putih, massa aksi menuntut pihak Telkom agar membantu tiga mahasiswa yang diskors dan memecat Yahya dari jabatannya sebagai Wakil Rektor-4 Tel-U. Menurut Wisnu dalam orasinya, sekelas universitas yang mengklaim sebagai World Class University mesti merasa malu telah melakukan pelarangan pengetahuan dengan memberangus buku.

Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah semua massa aksi makan siang bersama masih di areal Graha Merah Putih Telkom, spanduk dan poster tuntutan ditempel ke pintu kaca gedung dan masih mengharapkan kedatangan Yahya untuk menemui massa aksi. Pihak Telkom, melalui dua orang perwakilannya akhirnya menemui massa aksi, menyampaikan bahwa mereka (pihak Telkom dan YPT) telah menampung aspirasi massa aksi dan menawarkan solusi yaitu mediasi antara pihak Rektorat, Korban (tiga mahasiswa yang diskors), dengan BEM Telkom di hari besok (Rabu, 15/3) dan bertempat di kampus Telkom University. Hal itu terang mendapat penolakan dari massa aksi, termasuk korban skorsing. Buat apa lagi pak mediasi? Kami itu sudah dua kali melakukan mediasi, dan yang terjadi kemarin itu intimidasi dari pihak rektoratnya, ujar Faris.

Lintang juga menyampaikan bahwa mediasi tidak lagi berguna karena skorsingnya saja sudah dijatuhkan padanya dan kedua kawannya, kalau memang ada itikad baik seharusnya mediasi dulu sebelum putuskan skorsing. Namun, pihak Telkom melalaui perwakilannya, menegaskan bahwa Telkom tak punya kewenangan lebih untuk mengabulkan seperti mencabut skorsing atau memecat Yahya secara langsung, karena itu adalah urusan operasional dan karenanya solusi yang bisa diberikan hanya membantu melalui mediasi. Ketika ditanya apa sikap Telkom saat ini menanggapi diskorsnya Edo, Lintang dan Faris dan tentang pembatasan ruang literasi di lingkungan kampus Tel-U, perwakilan Telkom hanya menjawabnya dengan jawaban yang abstrak dan tidak mempunyai sikap apapun. Gimana bapak itu ingin memikirkan pendidikan dan masa depan kampus Telkom, Tel-U ini lembaga pendidikan lho pak, masa diminta bersikap aja engga bisa, malah abstrak begitu. Terus apa dong alasannya mau menawarkan mediasi kalau disuruh ngasih pandangan aja engga bisa konkrit?, ujar Barra Pravda, salah satu massa aksi Komite Rakyat Peduli Literasi yang juga aktivist Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi.

Perdebatan antara pihak Telkom dan massa aksi terus berlangsung hingga pukul 16.00 WIB. Massa aksi yang mulai kesal karena Yahya tak juga datang dan pihak Telkom pun tak juga mengabulkan tuntutan, mendesak untuk pimpinan direksi agar bisa dihadirkan, bukan lewat perwakilannya. Desakan itu disetujui oleh perwakilan Telkom dan juga Kepolisian yang menjaga keamanan sejak awal aksi. Desakannya ialah menghadirkan pimpinan direksi menemui massa atau massa aksi yang menemui pimpinan direksi ke dalam gedung.

Di saat itulah, massa aksi yang sudah membuat barisan untuk masuk ke dalam gedung terlibat bentrok dengan Kepolisian yang juga sudah membuat barikade di depan pintu, adalah oknum Kepolisian yang melakukan provokasi dengan mendorong dan melakukan tendangan ke massa aksi, membuat barisan massa aksi sempat pada terjatuh. Suasana yang sempat menegang dan tim huru-hara Kepolisian yang pula sudah datang, tak berlangsung lama saat massa aksi dan Kepolisian sama-sama menjaga jarak. Kepolisian melalui Kapolres meminta agar tidak ada yang menghendaki tindakan-tindakan yang anarki.

Akhirnya, perwakilan Telkom yang sebelumnya sudah menemui massa aksi keluar lagi dari gedung, dan menegaskan bahwa yang bisa diberikan oleh Telkom hanya lah bantuan mediasi. Persoalan intimidasi yang dikhawatirkan oleh ketiga mahasiswa, akan dipastikan oleh Telkom bahwa tidak akan terjadi lagi. Dengan pernyataan tersebut, massa aksi akhirnya mau membubarkan diri dan meninggalkan Graha Merah Putih Telkom.Saya bangga dan salut kepada kawan-kawan yang sudah mau bersolidaritas dan menganggap kasus ini bukan persoalan sektoral kampus (Tel-U) saja, tapi ini persoalan literasi semua masyarakat Indonesia, ujar Lintang, mahasiswa peraih International Short Movies and Photography Festival 2016 yang masih berstatus diskors oleh pihak kampusnya.


Naufal Waliyyuddin Hakim [Editor: Eko]
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger