PRODI FILM DAN TELEVISI BERSAMA KOMISI X DPR-RI DALAM DISKUSI PERMASALAHAN SARANA DAN PRASARANA


foto: isbi.ac.id


            DAUNJATI, Bandung - Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung mengadakan diskusi dengan bahasan kendala-kendala yang ada di Prodi Film dan Televisi. Acara yang diselenggarakan tertutup untuk Mahasiswa dan Prodi Film dan Televisi ini diadakan di Studio Film dan Televisi 212 ISBI Bandung pada Selasa (7/3) dari pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. Acara diskusi ini dihadiri Anggota Komisi X DPR-RI Niko Siahaan dan presenter yang sekaligus aktor film Muhammad Farhan, sebagai pembicara. Dalam diskusi tersebut, Wakil Dekan I Fakultas Budaya dan Media yaitu Herman Effendi bertindak sebagai moderator diskusi. Selain itu, hadir pula Kaprodi Film dan Televisi, beberapa Dosen dan para Mahasiswa Prodi Film dan Televisi. 

Acara dibuka oleh Herman dengan permohonan maaf yang disampaikannya pada Kaprodi dan para Dosen, bahwa acara tersebut dilakukan secara mendadak. Saya meminta maaf kepada Kaprodi (Film dan Televisi), karena terkesan telah mendahului pihak Prodi untuk membicarakan persoalan kendala-kendala pada fasilitas Prodi Film dan Televisi, ujar Herman kala itu. Menurut Herman, Prodi Film dan Televisi masih kekurangan sarana dan pra-sarana, seperti kamera, ruang kelas yang masih menumpang dan fasilitas penunjang seperti Studio Film dan Televisi ini yang belum memiliki perangkat lengkap.

Prolog diskusi yang disampaikan oleh Herman tadi, langsung ditanggapi oleh Niko Siahaan sebagai Anggota Komisi X DPR-RI. Niko menyampaikan bahwa keluhan-keluhan tersebut akan ditampung sebagai aspirasi. Menurutnya, kendala dalam fasilitas sarana dan pra-sarana harus diselesaikan segera, agar proses akademik tidak terhambat dan menjadi lancar. Selain itu, Niko Siahaan juga sempat menyampaikan realitas pertelevisian masa kini, yang hanya mengejar rating, hingga tayangannya kurang ideal.

saat diskusi berlangsung, foto: Adib

Hal yang senada juga dirasakan oleh Esa Hari Akbar, selaku dosen di Prodi Film dan Televisi. Menurut Esa, perfilman khususnya di Bandung masih banyak menemui masalah, salah satunya adalah belum mempunyai wadah yang tepat. Tidak sedikit pula mahasiswa Film dan Televisi ISBI Bandung yang berhasil mengikuti kompetisi di festival-festival film internasional. Namun, hal itu masih terkendala pada masalah biaya untuk transportasi. Esa menyimpan harapan untuk kendala seperti ini juga diperhatikan oleh Komisi X yang memang membidangi persoalan ini, agar semangat mahasiswa untuk terus berkarya dan berani berkompetisi tanpa memikirkan hambatan pada wilayah ongkos. Pandangan Esa pun langsung mendapat tanggapan dari Alif, salah seorang mahasiswa yang hadir saat itu. Menurutnya,  mahasiswa prodi Film dan Televisi juga berupaya untuk mewadahi komunitas film independen dengan mengadakan sebuah kompetisi yang diberi nama BIFF (Bandung Independent Film Festival) yang menjadi program kerja dari Keluarga Mahasiswa Tv Film (KMTF). Menurut Alif, program kerja rutin BIFF ini bisa mendapat perhatian lebih dari pemerintah, baik secara sarana maupun pra-sarananya.

Program Studi Film dan Televisi yang kini berada dalam Fakultas Budaya dan Media sendiri dalam sejarahnya adalah Prodi yang dikembangkan dari Jurusan Teater pada 2008, Jurusan Teater yang saat itu membuka minat kekaryaan film hasil pengembangan mata kuliah Audio Visual dan telah menghasilkan beberapa karya film dokumenter dari tugas akhir mahasiswa. Mulai tahun 2009, Prodi Televisi dan Film secara resmi menerima mahasiswa baru dengan konsentrasi pada studi Film Dokumenter Budaya. Secara hukum, Prodi Film dan Televisi berdiri di atas Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 141/E/O/2012 tanggal 4 April 2012 tentang penyelenggaraan Program Studi Film dan Televisi jenjang Diploma IV (D-4) pada STSI Bandung, selanjutnya mulai tahun akademik 2012/2013 Program Studi Film dan Televisi menerima mahasiswa baru jenjang program Diploma IV. Program Studi  yang terbilang baru ini di ISBI Bandung sendiri adalah Prodi dengan biaya SPP paling tinggi, yaitu Rp 2.000.000,- untuk kelas regular dan untuk kelas non-regular sebesar Rp 4.000.000,-. 

Semua keluhan yang disampaikan ditanggap baik sama Pak Niko (Komisi X DPR-RI), sih, ujar salah satu Mahasiswi yang menjadi peserta diskusi saat itu. Acara diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam itu ditutup oleh penyampaian pesan dan motivasi dari Farhan, sebagai yang telah lama bergelut di dunia perfilman maupun pertelevisian: baik di depan maupun belakang kamera. Farhan menyampaikan, bahwa mahasiswa harus semangat dalam belajar dan berkarya, bangun prinsip yang kuat agar berkarya tanpa memikirkan kendala yang dirasakan saat ini.

[Salsyiah, Adib, Bayu - Wartawan Magang]

Related

Pendidikan 7880088339174830285

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item