FASHION DAN GAYA HIDUP SEBAGAI KASUS MATERIALISME & HEGEMONI BUDAYA INDONESIA

Ronny Advisori Martosen Sababalat




Pendahuluan

Jika melihat seseorang mengenakan kemeja lengan panjang dan dasi, lengkap dengan setelan jas dan sepatu fantovel, juga dengan jam tangan mewah seperti Rolex melingkar di pergelangan tangannya, orang akan menilai bahwa ia adalah orang yang mapan. Penilaian ini akan berbeda ketika melihat seseorang yang lain, mengenakan kaos, celana dan jaket jeans, serta sandal gunung, orang akan menilainya sebagai orang santai dan easy going.
Fashion menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari penampilan dan gaya keseharian. Benda-benda seperti baju dan aksesori yang dikenakan bukanlah sekadar penutup tubuh dan hiasan, lebih dari itu juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas pribadi. Dalam perkembangan selanjutnya fashion tidak hanya menyangkut soal busana dan aksesoris semacam perhiasan seperti kalung dan gelang, akan tetapi benda-benda fungsional lain yang dipadukan dengan unsur-unsur desain yang canggih dan unik menjadi alat yang dapat menunjukkan dan mendongkrak penampilan si pemakai.
Fashion bisa menjadi etalase kecil tentang diri seseorang bagi orang lain. Gaya berpakaian atau berbusana merupakan sebuah bahan penilaian awal seseorang. Di samping juga fashion menjadi cara untuk mengekspresikan diri seseorang. Upaya-upaya manusia untuk berhias agar tampilannya lebih dipandang bukanlah hal baru. Jauh sebelum zaman modern seperti sekarang upaya ini sudah dilakukan. Hal ini bisa dilihat di museum-museum sejarah atau pada relief-relief candi. Di mana pada zaman itu pakaian dan perhiasan-perhiasan yang digunakan berasal dari kerang, manik-manik, batu-batu alam, hingga emas dijadikan sebagai pelengkap penting penampilan seseorang.
Di dalam masyarakat, di mana persoalan gaya adalah sesuatu yang penting (atau malah gaya merupakan segalanya), semua manusia adalah per- former. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam aksesoris yang menempel, selera musik, atau pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan, adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian diri. Seseorang kemudian bisa memilih tipe-tipe kepribadian yang diinginkan melalui contoh-contoh kepribadian yang beredar di sekitar, seperti bintang film, bintang iklan, penyanyi, model, bermacam- macam tipe kelompok yang ada atau seseorang bisa menciptakan sendiri gaya kepribadian yang unik, yang berbeda, bahkan jika perlu yang belum pernah digunakan orang lain. Kesemuanya itu adalah demi gaya karena gaya adalah segala- galanya, dan segala-galanya adalah gaya. Dengan gaya seseorang bisa menunjukkan siapa dirinya
Melihat  pemaparan diatas sangat mudah kita untuk mengindentifikasi  perihal apa yang  sebenarnya menjadi perubah mode gaya hidup, musih, pakain, penampilan, dan  lain sebagainya. Ini adalah yang menjadi topik pembicaraan kita dalam  penugasan teori kebudayaan.

Pembahasan
            Jika kita melihat secara teoritis dan mengkaji kasus diatas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kasih diatas bisa dikaji dalam dua kaca mata teori kebudayaan yang telah disampaikan pada materi perkuliahan. Teori pertama adalah teori Materisialisme Karl Marx, dan teori kedua adalah Hegemodi dari Gramsci, untuk lebih jelasnya penulis akan coba paparkan 2 penjelasan teori dan alasan penulis memposisikan teori-teori ini dalam kasuk sesuai thema yang penulis ambil.

Materialisme Karl Marx

            Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Orang-orang ini adalah para pengusung paham materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata.
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar adalah materi. Pada dasarnya semua hal yang terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologimonistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisne.
Secara pemahaman awam kata materilisme terdiri dari kata materi dan isime. Materi dapat dipahami sebagai bahan, benda, segala seusuatu yang tampak. Materialisme adalah padnangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata saja, bahkan mengesampingkan segala sesuatu yang berbauk alam. Semantara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kapada materi disebut juga smaterialisme. Orang-orang ini adalah para pengusung pahama (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan semata(harta, uang, gaya hidup sebagai image mereka).
Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi, sebagai teori, materialisem temasuk paham ontologi monisti. Akan tetapi, materialsime berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan apda dualisme ata pluralisme. Dalam memberikan penejasan tunggal tentang realitas, materialisme bersebaerangan dengan idealisme. Materialisme berseberangan dengan iedelaisme. Materalisme tidak mengakui adanya entitas-entitas nonmaterial seperti tuhan, malaikan, setan, roh, dan sebagainya[1]. Sebelum kita jauh untuk memahami materi ini penulis akan mengguring pembaca untuk memahami apa itu fashion dan gaya hidup.
 Fashion berasal dari bahasa Latin, factio, yang artinya membuat atau melakukan. Karena itu, arti kata asli fashion mengacu pada kegiatan; fashion merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang, tidak seperti dewasa ini, yang memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang. Arti asli fashion pun mengacu pada ide tentang fetish atau obyek fetish. Kata ini mengungkapkan bahwa butir-butir fashion dan pakaian adalah komoditas yang paling di-fetish- kan, yang diproduksi dan dikonsumsi di masyarakat kapitalis. Polhemus dan Procter (dalam Barnard, 2006) menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer Barat, istilah fashion sering digunakan sebagai sinonim dari istilah dandanan, gaya dan busana.
Gaya hidup (lifestyle) secara sosiologis (dengan pengertian terbatas) merujuk pada gaya hidup khas suatu kelompok tertentu (Featherstone,2001). Sementara dalam masyarakat modern, gaya hidup (lifestyle) membantu mendefinisikan mengenai sikap, nilai-nilai, kekayaan, serta posisi sosial seseorang (Chaney, 2004). Dalam masya- rakat modern istilah ini mengkonotasikan individualisme, ekspresi diri, serta kesadaran diri untuk bergaya. Tubuh, busana, cara bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaraan, bahkan pilihan sumber informasi, dan seterusnya dipandang sebagai indikator dari individualistis selera, serta rasa gaya dari seseorang.
Dalam abad gaya hidup, penampilan adalah segalanya. Perhatian terhadap urusan penampilan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sejarah. Urusan penampilan atau presentasi diri ini sudah lama menjadi perbincangan sosiologi dan kritikus budaya. Erving Goffman, misalnya dalam The Presentation of Self Everyday Life (1959). Ia mengemukakan bahwa kehidupan sosial terutama terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan, yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan dramaturgi (dramatugical ap- proach). Manusia seolah-olah sedang bertindak di atas sebuah panggung. Bagi Goffman, berbagai penggunaan ruang, barang-barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial tampil untuk memfasilitasi kehidupan sosial sehari-hari (Ritzer, 2005).
Dalam abad gaya hidup, penampilan diri itu justru mengalami estetisasi, “estetisasi kehidupan sehari-hari”, bahkan tubuh/diri (body/self) pun justru mengalami estetisisasi tubuh. Tubuh/diri dan kehidupan sehari-hari pun menjadi sebuah proyek, benih penyemaian gaya hidup. “Kamu bergaya maka kamu ada!” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern akan gaya. Itulah sebabnya industri gaya hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan.
Menurut Chaney, penampakan luar menjadi salah satu situs yang penting bagi gaya hidup. Hal-hal permukaan akan menjadi lebih penting daripada substansi. Gaya dan desain menjadi lebih penting daripada fungsi. Gaya menggantikan subtansi. Kulit akan mengalahkan isi. Pemasaran penampakan luar, penampilan, hal- hal yang bersifat permukaan atau kulit akan menjadi bisnis besar gaya hidup. Lebih lanjut Chaney mengingatkan bagaimana para politisi, selebriti, artis pertunjukan, dan figur-figur publik lainnya akan terus berusaha memanipulasi penampakan luar citra mereka (gaya hidup mereka) untuk merekayasa kesepakatan dan mendapatkan dukungan. Dalam ungkapan Chaney, Jadi, baik korporasi-korporasi, maupun para selebriti dan kelompok figur publik lainnya, seperti para politisi, berupaya memanipulasi citra mereka dengan cara- cara yang menyanjung-nyanjung dan menghindari publisitas yang merusak. (Chaney, 2004)
Chaney juga mengatakan bahwa semua yang kita miliki akan menjadi budaya tontonan (a culture of spectacle). Semua orang ingin menjadi penonton dan sekaligus ditonton. Ingin melihat tetapi sekaligus juga dilihat. Di sinilah gaya mulai menjadi modus keberadaan manusia modern: Kamu bergaya maka kamu ada! Kalau kamu tidak bergaya, siap-siaplah untuk dianggap tidak ada; diremehkan, diabaikan, atau mungkin dilecehkan. Itulah sebabnya mungkin orang sekarang perlu bersolek atau berias diri. Jadilah kita menjadi masyarakat pesolek (dandy society). Tak usah susah-susah menjelaskan mengapa tidak sedikit laki-laki dan perempuan modern yang perlu tampil beda modis, necis, perlente, dandy. Kini gaya hidup demikian bukan lagi monopoli artis, model, peragawan(wati), atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk tampil di panggung. Tapi, gaya hidup golongan penganut dandyism itu kini sudah ditiru secara kreatif oleh masyarakat untuk tampil sehari-hari baik ke tempat kerja, seminar, arisan, undangan resepsi perka- winan, ceramah agama, atau sekadar jalan-jalan, mejeng, dan ngeceng di mall. Mall, misalnya, benar-benar telah menjelma menjadi ladang persemaian gaya hidup (Chaney, 2004).
Kembali pada topik pembahasan, dengan kaca mata yang digunakan penulis dengan perliasan makna penulis dengan yakin bahwa teori yang cocok dengan thema diatas adalah teori Materialisme. Dengan sedikit penjelasan, bahwa tuntutan status sosial akan mengiring kita pada perubahan gaya hidup, fashion, musik yang disukai. Sesoerang yang menganut faham materialsime akan sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan dalam penggunaan busana yang dikenakannya. Dalam pergaulan sehari-hari seorang yang memiliki faham materialiseme akan memiliki golongan pergaulanya sendiri. Contoh yang sangat simple klub motor ninja akan bergaul pada orang-orang yang memilik morot ninja. Ini sangat memposisikan mereka pada golongan orang-orang yang memiliki taraf ekonomo yang diatas rata-rata maysarakat indonesia.

Hegemoni Gramsci

Teori hegemoni merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dikemukakan oleh Antonio Gramci (1891-1937). Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Gagasanya yang cemerlang tentang hegemoni, yang banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel, dianggap merupakan landasan  paradigma  alternatif  terhadap  teori  Marxis  tradisional  mengenai  paradigma base-superstructure (basis-suprastruktur). Teori-teorinya muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme tradisional[2].
Teori hegemoni sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi tradisi Marxis. Menurut Femia pengertian semacam itu sudah dikenal oleh orang Marxis lain sebelum Gramci, seperti;  Karl  Marx,  Sigmund  Freud,  Sigmund  Simmel.  Yang  membedakan  teori hegemoni Gramci dengan penggunaan istilah serupa  itu sebelumnya adalah; Pertama, ia menerapkan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas lainnya dalam setiap hubungan sosial, sedangkan pemekaian iistilah itu sebelumnya hanya menunjuk pada relasi antara proletariat dan kelompok lainnya. Kedua, Gramci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural”, tidak hanya “kepemimpinan  politik  dalam sebuah sistem aliansi”  sebagaimana  dipahami generasi Marxis terdahulu (Femia, 1983)[3].
Teori hegemoni dari Gramci yang sebenarnya merupakan hasil pemikiran Gramci ketika dipenjara yang akhirnya dibukukan dengan judul “Selection from The Prissons Notebook” yang banyak dijadikan acuan atau diperbandingkan khususnya dalam mengkritik pembangunan. Dalam perkembangan selanjutnya teori hegemoni ini dikritisi oleh kelompok yang dikenal dengan nama “New Gramcian”.
Teori hegemoni dibangun di atas preis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Menurut Gramci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka.   Inilah yang dimaksud Gramci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moraldan intelektual” secara konsensual. Dalam kontek ini, Gramci secara berlawanan mendudukan hegemoni, sebagai satu bentuk supermasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lainnya,  dengan bentuk supermasi  lain    yang  ia  namakan  “dominasi”  yaitu  kekuasaan  yang  ditopang  oleh kekuatan fisik (Sugiono, 1999:31).
Melalui konsep hegemoni, Gramsci beragumentasi bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcemant. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata negara (state)  melalui  lembaga-lembaga  seperti  hukum,  militer,  polisi  dan  bahkan  penjara. Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata- pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian dan bahkan juga keluarga (Heryanto, 1997). Perangkat karja ini biasanya dilakukan oleh pranata masyarakat sipil (civil society) melailui lembaga-lembaga masyarakat seperti LSM, organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban-paguyuban dan  kelompok-kelompok kepentingan (interest groups). Kedua level ini pada satu sisi berkaitan dengan fungsi hegemoni dimana kelompok dominan menangani keseluruhan masyarakat dan disisi lain berkaitan dengan dominasi langsung atau perintah yang dilaksanakan diseluruh negara dan pemerintahan yuridis (Gramsci, 1971).
Pembedaan yang dibuat Gramsci antara “masyarakat sipil” dan “masyarakat politik”,   sesungguhnya   tidak   jelas   terlihat,   pembedaan   itu   dibuat   hanya   untuk kepentingan analisis semata. Kedua suprastruktur itu, pada kenyataannya, sangat diperlukan, satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Bahwa kedua level itu sangat diperlukan bisa dilihat dengan gamblang dalam konsepsi Gramsci tentang negara yang lebih luas, dimana ia tunjuk sebagai “negara integral” meliputi tidak hanya masyarakat sipil tetapi juga msyarakat politik yang didefinisikan negara = masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lainhegemoni dilindungi oleh baju besi koersi (Gramsci, 1971). Gramsci juga mengkarakterisasikan apa yang dimaksud dengan negara integral sebagai sebuah kombinasi kompleks antara “kediktatoran dan hegemoni” atau seluruh kompleks aktivitas praktis dan teoritis dimana kelas berkuasa tidak hanya menjustifikasi dan menjaga dominannya, tetapi juga berupaya memenangkan persetujuan aktif dari mereka yang dikuasai”. Jadi negara adalah aparatus koersif pemerintah sekaligus aparatus hegemonik institusi swadta. Definisi ini memungkinkan Gramsci untuk menghidarkan diri dari pandangan instrumentalis tentang negara memandang negara sebagai sistem politik pemerintah belaka dalam teori politik liberal atau teori lainnya seperti institusi koersif kelas berkuasa dalam teori politik Marxis klasik. Kelebihan konsepsi Gramsci tentang negara integral adalah karena konsepsi itu memungkinkan dirinya memandang hegemoni dalam batasan dialektik yang meliputi masyarakat sipil atau masyarakat politik (Sugiono, 1999).
Lebih jauh dikatakan Gramsci bahwa bila kekuasaan hanya dicapai dengan mengandalkan kekuasaan memaksa, hasil nyata yang berhasildicapai dinamakan “dominasi”. Stabilitas dan keamanan memang tercapai, sementara gejolak perlawanan tidak  terlihat  karena  rakyat  memang  tidak  berdaya.  Namun  hal  ini  tidak  dapat berlangsung secara terus menerus, sehingga para penguasa yang benar-benar sangat ingin melestarikan kekuasaannya dengan menyadari keadaan ini akan melengkapi dominasi (bahkan secara perlahan-lahan kalau perlu menggantikannya)  dengan perangkat kerja yang  kedua, yang hasil akhirnya  lebih dikenal dengan sebutan “hegemoni”. Dengan demikian supermasi kelompok (penguasa) atau kelas sosial tampil dalam dua cara yaitu dominasi atau penindasan dan kepemimpinan intelektual dan moral. Tipe kepemimpinan yang terakhir inilah yang merupakan hegemoni (Hendarto, 1993:74). Dengan demikian kekuasaan  hegemoni  lebih  merupakan  kekuasaan  melalui  “persetujuan”  (konsensus), yang mencakup beberapa jenis penerimaan intelektual atau emosional atas taanan sosial politik yang ada.
Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui mekanisme konsensus (consenso) dari pada melalui penindasan terhadap kelas sosial lain. Ada berbagai cara yang dipakai, misalnya melaluiyang ada di masyarakat yang menentukan secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat iu. Itulah sebabnya hegemoni pada hakekatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan  memandang   problematika  sosial  dalam  kerangka  yang  ditentukan   (Gramsci, 1976:244).  Dalam  konteks  tersebut,  Gramsci  lebih  menekankan  pada  aspek  kultural (ideologis).  Melalui  produk-produknya,  hegemoni  menjadi  satu-satunya  penentu  dari  sesuatu yang dipandang benar baik secara moral maupun intelektual. Hegemoni kultural tidak hanya terjadi dalam relasi antar negara tetapi dapat juga terjadi dalam hubungan antar berbagai kelas sosial yang ada dalam suatu negara.
Ada  tiga  tingkatan  yang  dikemukakan  oleh  Gramsci,  yaitu  hegemoni  total (integral), hegemini  yang  merosot  (decadent) dan  hegemino  yang  minimum  (Femia, 1981). Dalam konteks ini dapat dirumuskan bahwa konsep hegemoni merujuk pada pengertian tentang situasi sosial politik. Dalam terminologinya  “momen” filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang, dominasi merupakan lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh “roh” ini membentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik, dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual dan hal- hal yang menunjuk pada moral.
Konsep hegemoni terkait dengan tiga bidang, yaitu ekonomi (economic), negara (state), dan rakyat (civil society) (Bocock, 1986). Ruang ekonomi menjadi fundamental. Namun, dunia politik yang menjadi arena dari hegemoni, juga menampilkan momen perkembangan tertinggi dari sejarah sebuah kelas. Dalam hal ini, pencapaian kekuasaan negara, konsekwensi yang dibawanya bagi kemungkinan perluasan dan pengembangan penuh dari hegemoni iitu telah muncul secara parsial, memiliki sebuah signifikasi yang khusus. Negara dengan segala aspeknya, yang diperluas mencakup wilayah hegemoni, memberikan kepada kelas yang mendirikannya baik prestise maupun tampilan kesatuan sejarah kelas penguasa dalam bentuk konkret, yang dihasilkan dari hubungan organik antara negara atau masyarakat politik dan civil society.
Hegemoni itu  harus diraih melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan dunia bersama bagi seluruh masyarakat. Teori politik Gramsci penjelasan bagaimana ide-ide atau ideologi menjadi sebuah instrumen dominasi yang memberikan pada kelompok penguasa legitimasi untuk berkuasa (Sugiono, 1999).

Hegemoni Dalam Bentuk Mall

            Mall adalah salah satu bentuk hegemoni berlapis budaya. Jika kita perhatikan, kini semakin maraknya pembangunan mal-mall di tanah air baik di ibu kota, maupun di daerah, dengan hadirnya mall di hampis setiap daerah, ternyata menimbulkan dampak yang cukup berarti, melalui mall banyak hal yang dapat terjadi, gaya hidup kita dipengaruhi. Mulai dari fashion, makanan dan sebagainya. Seolah-olah mall adalah sesuatu yang mempunyai legitimasi untuk membuat parameter seperti apakah seharusnya gaya hidup masyarakat saat ini. Mallah yang dapat menjastifikasi mana modern dan mana yang norak. Disitulah, terjadi hegemoni budaya yang dikemas dalam pola gaya hidup yang berpola pad kebudayaan tertentu.
            Kehadiran mall adalah salah satu alasan gaya hidup menjadi hegemoni di indonesia. Kita bisa melihar perbedaan gaya hidup masyarakat perkotaan, dan pedesaan yang belum dimasuki mall-mall besar. Disana kita bisa melihat kesederhanaan dalam balutan busana adat yang mereka gunakan, semisal kita menunjungi mentawai, masyarakat disana menggunakan balutan busana adat, yang melihat kesederhanaan, dan penghargaan terhadap alam yang mereka tempati. Hadirnya mall juga berefek pada kepedulian maysarakat terhadap alam dan perusakan alam dalam pembuatan stuktur bangunan, dan lain-lain
            Masyarakat indonesia telah dirasuki oleh paham hegemoni yang secara rasionnal mereka tidak sadar bahwa mereka telah berad dilungkungan tersebut. Apa yang berubah, masyarakat indonesia jadi lebih mencintai gaya hidup dari pada apa yang telah ada sejak dulu, yaitu budaya yang membersarkan mereka, masyarakat indonesia lebih menggemari memperhatikan pola hidup mewah, dari pada memiliki kesadaran untuk memiliki pola hidup yang sederhana. Dan yang membuat hegemoni dalam bentuk gaya hidup ini terkikisnya budaya indonesia sedikit demi sedikit karena kita lebih bangga mengekspose budaya barat dari pada budaya kita sendiri.

Keseimpulan

Fetishism telah hadir dan menciptakan (pseudo) realitasnya sendiri. Ideologi kecantikan telah demikian meresap dan diterima nyaris tanpa resistensi oleh masyarakat.Apabila pada masa lalu, fetishisme biasanya hanya dihubungkan dengan perempuan, maka saat ini banyak pula pria yang telah menjadi “pemuja tubuh dan gaya hidup”.
Media mempunyai peran besar dalam mengkonstruksikan mengenai bagaimana khalayak dapat tampil cantik atau tampan, memikat, masa kini dan bercitra sukses. Jurnalisme gaya hidup menjadi sebuah pilihan bagi banyak organisasi media. Media-media tersebut memungkinkan terjadinya penyebaran gaya hidup dalam waktu yang sangat cepat. Di Indonesia, sebagian media tersebut beroperasi dengan cara waralaba (fran- chise) dari belahan dunia yang lain layaknya makanan fast food.
Media juga memilih figur-figur tertentu dan akan menasbihkan mereka menjadi selebriti. Selebriti dapat berasal dari berbagai profesi seperti bintang film, penyannyi, pejabat, pengacara, atlet dan sebagainya. Kesamaan yang dimiliki oleh semua selebriti—selain populer—adalah memiliki tampilan fisik yang menarik. Mereka harus memikat untuk difoto atau disorot kamera televisi. Para selebriti ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi akan menjadi “tuntunan” bagi segenap penggemarnya.
Para penggemar akan mencoba mengimitasi penampilan selebriti yang dikaguminya. Mereka akan mencocokkan fash- ion, aksesoris, gaya rambut, bentuk tubuh dan gaya hidup para selebriti. Mereka berlaku layaknya selebriti dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengaktualisasikan diri, mall menjadi salah satu situs penting dalam kebudayaan kontemporer. Mall adalah tempat di mana mereka bisa dilihat dan melihat.
Gaya hidup adalah komoditas baru dalam kapitalisme dan teori hegemoni. Ia bahkan bisa menelusup masuk dalam simbol-simbol agama dan bergerak dari dalam seraya menawarkan konsep “saleh tetapi trendy” atau “ibadah yes, gaul yes”. Ada preferensi sosial yang diam-diam diadopsi oleh masyarakat dan menggantikan nilai-nilai lama.
Kehadiran gaya hidup dalan dunia fashion telah mengkikis sedikit demi sedikit kebudayaan indonesia. Kehilangan kesadaran akan pentingnya budaya telah tertutup rapih dengan kebanggan kita menggunakan produk-produk luar negri yang secara halu telah menutup kesadaran kita untuk membanggakan budaya kita sendir.
Kritik Dan Saran
            Ucapan trimakasih saya ucapkan kepada ibu Neneng Yanti K.L, M.Hum, Ph.D, dan ibu Yuyun Yuningsih, S.Sn M.Hum. perkuliahan yang sangat kompleks walaupun sedikit menguras tenaga dalam memahami teori-teori kebudayaan yang ibu dosen sampaikan.
            Saya selaku mahasisswa menyadari kekurang kami dalam memahami teori-teori kebudayaan yang ibu dosen paparkan, terkadang juga kami melontarkan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas diucapkan, dengan kesaran kami mengucapkan banyak permohonan maaf atas apa yang telah kami lakukan.
            Saran saya perkuliahan ini sangat membutuhkan kemampun adalam memahami dan merangkai pembahan dalam perkuliahan ini. Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dosen-dosen lakukan, dengan mengkoreksi hasil tugas mahasiswa dengan baik dan mendapatkan materi siapa saja yang lebih baik ini membangkitkan kesadaran tema-teman bahwa menulis, memahami, dan merangkai pembahasan adalah nadi seorang antropologi. Dan bagi saya sendiri menyadari bahwa saya harus memberikan yang terbaik dan selalu memberikan yang terbaik untuk kepuasan, dan kebanggan dosen-dosen saya.
            Saran untuk semester depan kuliah jangan jam 8 pagi hehehehehe. Trimakasih ibu, apa yang telah ibu-ibu berikan melalu mata kuliah sudah sangat berarti bagi saya pribadi. Dan sangat bermanfaat.


Daftar Pustaka
Adlin, Alfathri, (Ed.), 2006, Resistensi Gaya Hidup : Teori dan Realitas, Jalasutra, Yogyakarta. Barker, Chris, 2004, Cultural Studies, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.
Barnard, Malcolm, 2006, Fashion as Commu- nication, diterjemahkan oleh Idy Subandy Ibrahim, Fashion sebagai Komunikasi Cara Mengkomunikasikan Identias Sosiasl, Seksual, Kelas dan Gender, Jalasutra, Yogyakarta.
Chaney, David, 2004, Lifestyle Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta.
Ibrahim, Idy Subandi (Ed.), 2004, Lifestyle Ectasy, Jalasutra, Yogyakarta. , 2007
Budaya Populer sebagai Komunikasi, Jalasutra, Yogyakarta.
Strinati, Dominic, 2003, Popular Culture Pengantar Menuju Budaya Populer, Bentang Budaya.
Fahtut Razi “relasi Antar Manusia: Mengungkap Eksistensialisme Jean Paul Sartre”, Skripsi Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, 2002
Saptono, E-Journal Kebudayaan, 2010,
Mariah Natalia Damayanti Maer, Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi, Salemba Humanika, 2008,





             






[1] Fahtut Razi “relasi Antar Manusia: Mengungkap Eksistensialisme Jean Paul Sartre”, Skripsi Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, 2002
[2] Saptono, E-Journal Kebudayaan, 2010, hlm 6
[3] Mariah Natalia Damayanti Maer, Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi, Salemba Humanika, 2008, hlm 68

Related

esai 296165325207821081

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item