Headlines News :
Home » , , , , , » HARI TEATER DUNIA #1 : TEATER DARI ‘WABAH’ BERNAMA MODAL

HARI TEATER DUNIA #1 : TEATER DARI ‘WABAH’ BERNAMA MODAL

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 04 April 2017 | 15.36.00

John Heryanto


Parade hari teater sedunia –  Mahasiswa  ISBI Bandung.  2017. Foto: John Heryanto

Bandung, Daunjati “Kita Bereaksi” sebagai tema peringatan ‘Hari Teater se-dunia’ (4/4/2017) yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teater (KMT) menjadi pintu pertama setiap kelompok teater dari UKM Teater dan Komunitas Teater di Bandung untuk mengolah gagasanya ke atas panggung berdasarkan situasi yang dihadapi melalui strategi intrupsi di atas pangggung. Apa sebetulnya yang terjadi di luar teater? Hal inilah barangkali menjadi persoalan yang pelik sehingga teater tidak lantas merasa sepi, bukan hanya ditinggalkan oleh publiknya tapi juga ditinggalkan oleh pelakunya.

Apakah teater dapat menyelesaikan persoalan banjir? Apakah teater dapat memperbaiki kerusakan hutan sehingga lahan menjadi hijau? Apakah teater dapat membersihkan sungai yang kotor sehingga menjadi bersih? Apakah teater  dapat memberantas kemiskinan, setidaknya yang tak punya biaya sekolah dapat belajar dengan layak? Teater, tentunya tidak dapat melakukan itu semua dalam satu kali pertunjukan. Lantas bagaimana dengan nasib pelaku teater itu sendiri?

Sejarah teater Indonesia, merupakan sejarah kekerasan dan berbagai keganjilan yang berlangsung sejak masa pra-kemerdekaan hingga ke Orde Baru, dimana teater lebih berfungsi sebagai mata juga mulut. Sehingga teater yang lahir pada masa tersebut (ORBA) dalam kehadirannya di atas panggung memiliki kecendrungan yang berteriak dan mengepalkan tangan, dimana kuasa tertuju pada pusat yang sama sebagai teater versus.

Setelah reformasi 98 hingga segalanya telah menjadi cair, menjadi komplek berdasarkan para pemilik modal. Lantas bagaimanakah dengan teater sekarang? Inilah yang coba ditelisik  dalam peringatan ‘Hari Teater Sedunia’ tidak hanya kenyataan di sekitar teater tapi juga kehadiran teater itu sendiri ditengah situasi yang melatarbelakangi kehadirannya di atas panggung. 

Pada praktiknya teater yang hadir dalam “Peringatan Hari Teater se-dunia” bermula dari pengalaman yang dijalani oleh si pelaku teater dalam keseharian termasuk pantulan  atas situasi yang berlangangsung. Sebagaimana yang diperlihatkan beberapa kelompok teater di panggung.

Salah satu adegan pertunjukan ‘Siapa’ dari Teater Tjerobong Pabrik. Foto: John Heryanto

pertunjukan “Siapa” dari ‘Tjerobong Pabrik’ mencoba mengurai relasi antara pemilik modal berkaitan dengan kepemilikan. ihwal kepemilikan inilah yang menjadi pelik, sebab bukan hanya hutan, sungai, dan pasar yang berubah fungsi sebagaimana dinyatakan oleh si Tuan: Keberhasilan saya kali ini ialah menjadikan sungai sebagai pembuangan limbah juga menggunduli hutan” Lantas bagaimana dengan masyarakat, ia tidaklah bisa berbuat apa-apa, bagaimana tidak, untuk bersuara saja haruslah menunggu perintah;  “Rakyatku, silahkan nyayikan lagu kebebasan” inilah yang menjadikan persoalan bersama sebab semua orang telah kehilangan atas kepemilikan tubuhnya sendiri  yang pada akhirnya menjadi ‘wabah’ yang menyebar dan jika pun sembuh semuanya sudah terlanjur jadi bubur. ‘Wabah’ ini nyatanya tidak hanya menjangkiti rakyat jelata tapi juga menimpa kaum terpelajar sebagaimana yang diteriakan oleh ‘Borok’ Teater Titik.


Baca JugaSENANDUNG TUBUH: SAWAH TIADA, TUBUH ABI PUN BICARA

        Salah satu adegam dalam pertunjukan ‘Borok’ Teater Titik. Foto:John Heryanto 

Hidup borok di kepala! hidup borok! Begitulah orang-orang berbaris menyatakan sesuatu yang subur di kepala hingga busuklah sudah.  Setelah salah seorang diantara mereka tidur di atas meja dengan kepala yang dijejali aneka buah-buahan plastik sebagai bagian dari pendidikan yang dijalani di sekolahan.  Ruang pendidikan pada akhirnya tempat orang-orang untuk bunuh diri, setidaknya menjadi orang lain sebab sekolah memberiya penyakit borok di kepala.  

        salah satu adegan dalam "Melawan Arus: Senandung Tubuh" Wajiwa Dance Theatre. Foto: John Heryanto

Tak ada seorangpun yang dapat menghentikan ‘wabah’ tersebut, ia bahkan menjelma menjadi hasrat sehingga siapapun tak dapat lagi bersembuyi. Rumah dan toko bagi seorang boneka dalam “Dialog Elegi” dari Teater Topeng adalah tempat berbahaya yang membuatnya setiap saat terancam tapi juga tak dapat menghindar sebab disitulah ia tinggal dan memilih. ‘wabah’ ini pula menyebar hingga ke ruang-ruang tersembunyi, turut merampas masa anak-anak seperti Abi ‘Wajiwa Dance Theatre’ di Ciganitri untuk sekedar bermain di sawah sebab semuanya telah berubah bahkan untuk sebuah kenangan akan sawah yang hijau milik kakeknya pun tak bisa. Teater bagi Abi pada akhirnya menjadi satu-satunya ruang untuk menyatakan kehilangan atas masa kanak-kanak  juga tanah milik keluarganya dengan “Melawan Arus: Senandung Tubuh”. Pada titik inilah, barang kali satu-satunya yang selamat dari ‘wabah’ bernama modal adalah teater itu sendiri, semoga.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger