Headlines News :
Home » » HARI TEATER DUNIA#2 : DRAMA TANPA JEDA.

HARI TEATER DUNIA#2 : DRAMA TANPA JEDA.

Written By LPM DAUNJATI on Rabu, 05 April 2017 | 18.00.00



John Heryanto


"Membaca Naskah Drama Dunia" Teater Candu - Teater Candu. Hari Teater Sedunia. Foto: John Heryanto.
Bandung, Daunjati-“Tak ada ucapan selamat datang bagi anda, sebelum memainkan peran di atas panggung.” Begitulah seorang aktor dari Teater Candu menceritakan didirinya, ihwal keterlibatannya dengan teater ketika memasuki kampus seni di Bandung. Ia tidak pernah menduga sama sekali bahwa dirinya akan menjadi seorang pemain teater, hingga 7 tahun sudah kelompok teaternya berdiri. Teks diatas diucapkan setelah dramatik reading “Membaca Naskah Drama Dunia” yang disusun dari petikan berbagai naskah yang sering dimainkan oleh kelompok teater di bandung seperti Kopral Woyzeck, Lysistrata, Julius Caesar, dan lain-lain. Disinalah teater seakan merumuskan dirinya diantara tumpukan sastra. Apakah teater dilihat karena kehadiranya di atas panggung? atau karena sastra drama? 

“Kita Bereaksi” dalam Hari Teater Sedunia pada hari kedua yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teater / KMT (5/4/17) apabila dilihat dari beberapa pertunjukan yang hadir di panggung. Tidak hanya mempertanyakan kehadiran teater itu sendiri seperti yang dilakukan oleh Teater  Candu atas proses teater yang dijalaninya selama ini, tapi juga membaca kenyataan yang berlangsung diluar sana. Sebab teater atau drama modern khususnya di Indonesia, lahir dari luar dirinya (sastra drama) dari sesuatu yang tidak teralami sama sekali oleh pelaku teater yang berjarak dan jauh di Eropa atau di barat sana, sejak tahun 50-an. Sehingga berbagai upaya negosiasi dilakukan untuk mendekatkan kenyataan yang dialami oleh pelaku teater dengan naskah tersebut mulai dari menerjemahkan sampai pada penyaduran dan lain sebagainya sehingga teater dapat berdampingan dengan situasi yang berlangsung dihadapan hingga hari ini.

"Terdampar" Teater Djati UNPAD Jatinangor - Hari Teater Sedunia 2017. Foto: John Heryanto

"Prodo Imitatio" Teater Awal UIN Sunan Gunung Jati Bandung-Hari Teater Sedunia 2017. Foto: John Heryanto
Melalui Terdampar–nya Slawomir Mrozek, Teater Djati mencoba mengintrupsi situasi diluar sana, tentang carut marut pemilu, suap menyuap, saling sikut dan lain sebagainya.  Kesemuanya berpangkal pada keinginan untuk mendapatkan nikmat yang lebih, keinginan yang tak berujung namun selalu minta penuntasan, tak berkesudahan. 

Sebab keinginan lebih itu pula, siapapun  dapat melakukan apa saja seperti Prodo Imitatio-nya Artur S Nalan dari Teater Awal.  Ia tidak hanya menanipulasi dirinya menjadi seorang doktor tapi juga beternak sarjana palsu, doktor palsu dan pendidikan palsu kecuali uang dan kepentingan.

Dari ketiga pertunjukan tersebut, terkait dengan kehadiran teater (drama modern khususnya), ia  tidaklah akan berkompromi dengan dirinya sendiri sebagaimana diperlihatkan oleh Teater Candu yang mengobrak-abrik naskah babad menjadi potongan-potongan teks yang dicopot begitu saja dari habitatnya. begitu juga dengan Teater Awal dan Teater Djati yang tidak berkompromi dengan kenyataan yang dijalani melalui pertunjukan di atas panggung. Begitulah teater, ia tidak akan pernah berdiam diri; jika seorang pemimpin berlaku tidak adil kepada rakyatnya maka teater adalah penderitaan masyarakat atau gugatan.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger