Headlines News :
Home » , , , » MAHASISWA ISBI BANDUNG MENDUDUKI REKTORAT LAGI, TUNTUTAN SEMUANYA DIPENUHI

MAHASISWA ISBI BANDUNG MENDUDUKI REKTORAT LAGI, TUNTUTAN SEMUANYA DIPENUHI

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 02 April 2017 | 02.28.00

Aktivitas pendudukan di malam hari, Kamis (30/3/2017). Sebagian poster-poster tuntutan ditempel
di dinding dan kaca Gedung rektorat ISBI Bandung pada aksi bertajuk
"Sejajarkan Kedudukan Ormawa dengan Lembaga, hapus Hierarki, Rebut Demokrasi!"

Aksi dipungkas dengan membacakan Sumpah Mahasiswa yang Melawan, dipimpin
oleh Presiden BEM ISBI Bandung, Mohamad Chandra Irfan, Jumat (31/3/2017).

Bandung, Daunjati, (31/03/2017) — Sejumlah mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali menggelar aksi menduduki halaman rektorat ISBI Bandung. Pendudukan halaman gedung rektorat ini adalah aksi kedua setelah sebelumnya pernah dilakukan pada Kamis (02/3/2017) malam hari sampai esok harinya, Jumat (3/2/2017) terkait menuntut perpanjangan waktu pembabayaran SPP semester genap. Dalam pantauan Daunjati sendiri, aksi ini dimulai dari pukul 22.30 WIB, Kamis (30/3/2017), yang diikuti oleh belasan mahasiswa ISBI Bandung, khususnya dari pengurus organisasi mahasiswa di ISBI Bandung.

Aksi kali ini adalah respon dari pihak organisasi mahasiswa atas surat pernyataan yang sudah dilayangkan sebelumnya pada 23 Maret 2017, tetapi tidak ditanggapi secara serius, dan mengambil tema “Sejajarkan Kedudukan Ormawa, Hapus Hierarki, Rebut Demokrasi!”.
Baca Juga: KOMITE MAHASISWA BANDUNG-ISBI: PANTANG PULANG SEBELUM TUNTUTAN KAMI MENANG!
Mohamad Chandra Irfan selaku Presiden BEM ISBI Bandung menyampaikan bahwa pihak mahasiswa sudah melakukan upaya-upaya prosedural. “kami sudah mengirim surat ke pihak lembaga, dari tanggal 23 maret lalu, tapi tidak ditanggapi! Ini kan artinya, lembaga seperti tidak memperioritaskan organisasi mahasiswa, padaha ‘kan ormawa itu adalah elemen vital dalam kehidupan kampus, lebih luasnya adalah mahasiswa itu sendiri”. ujar Chandra yang memimpin aksi pada hari itu.

Sekitar pukul 07.47 WIB, Dr. Hj. Een Herdiani menghampiri massa aksi yang sudah menunggu kehadirannya sejak malam. Sempat terjadi pembicaraan antara rektor dan presiden BEM—tak mau banyak bicara, Chandra memberikan pers realese ke rektor untuk dibaca. Beberapa menit rektor membaca, kemudian rektor menyampaikan kepada massa aksi bahwa Warek 1, Dr. Benny Yohanes, S.Sen, M.Hum., selaku Warek yang mempunya kebijakan langsung dengan kemahasiswaan tidak bisa menghadiri dan menemui massa aksi.

Kebetulan Pak Benny sedang tugas ke Jakarta, jadi tuntutan ini tidak bisa hari ini dipenuhi dan disepakati, jadi nanti kita atur lagi pertemuan yah”, tutur Rektor ISBI Bandung. Mendengar pernyataan rektor tersebut, Presiden BEM ISBI Bandung beserta mass aksi lainnya memilih tetap akan melanjutkan aksinya sampai tuntutannya benar-benar dipenuhi.
Rektor pun masuk ke dalam gedung rektorat, lewat pintu samping, meninggalkan aksi massa yang didampingi Bagian Kemahasiswaan.

Sekitar pukul 08.11 WIB, pihak lembaga meminta perwakilan peserta aksi untuk masuk menemui pihak lembaga, namun peserta aksi menolak masuk jika hanya perwakilan, mereka meminta semua peserta aksi dapat masuk dan mengawal jalannya musyawarah. Sempat ada keraguan akan ruangan yang cukup kecil, Chandra pun selaku pemimpin aksi memberikan solusi kepada pihak lembaga “kalau ruangan cukup, kami semua masuk, tapi kalau ruangan tidak cukup, kami meminta rektor yang menemui kami di sini” ujar Chandra kepada pihak lembaga yang menemui massa aksi.

Di Dalam Ruang Sidang Rektorat

Pukul 08.19 peserta aksi pun masuk ke ruang sidang, disusul rektor, Warek II, dan bagian kemahasiswaan. Dialog pun dimulai dengan pembacaan tuntutan oleh rektor, kemudian Chandra menyampaikan maksud dari 9 poin tuntutan yang dilayangkan. Sempat terjadi ketegangan antara massa aksi dan pihak lembaga. Peserta aksi sempat dibuat kesal oleh rektor yang dengan terburu-buru meninggalkan ruangan untuk menghadiri Kuliah Umum dengan pembicara Ceu Popong, salah seorang anggota DPR RI.Hari Senin (3/4/2017) mendatang, seluruh tuntutan akan dipertegas dengan menyerahahkan tuntutan beserta surat perjanjian di atas materai, karena pada hari Jumat lalu, Warek I berhalangan hadir.

Meski begitu, sebelumnya rektor menyampaikan bahwa seluruh tuntutan yang dilayangkan oleh mahasiswa sudah ditandatangani oleh lembaga, yang berarti menyepakati seluruh tuntutan pihak mahasiswa. Juga hal itu dipertegas dengan rentetan pernyataan dan pertanyaan dari Presiden BEM ISBI Bandung pada pihak rektorat.

Dari pantauan Daunjati, massa aksi tetap melanjutkan dialog dengan Warek II, Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen, M.Hum (Bidang Umum dan Keuangan), dan selesai sekitar pukul 9.15 WIB. Massa aksi kembali berkumpul di depan pintu masuk gedung rektorat untuk mengabarkan kemenangannya pada seluruh mahasiswa ISBI Bandung.

Pukul 09.50 WIB, massa aksi merapihkan kembali tempat aksi dan mencabut poster-poster yang dipasang di tembok dan kaca gedung rektorat sembari juga membersihkan halaman rektorat. Meski tidak jadi keliling mengabarkan kemenangan, Presiden BEM ISBI Bandung tetap mengabarkan kepada massa aski yang ada di halaman rektorat, mereka berkumpul dan berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan kampus.

Chandra menyampaikan, bahwa perjuangan seperti ini harus terus dilipatgandakan, bahwa aksi massa adalah metode dialog khas rakyat, yang menjunjung tinggi keterlibatan massa secara langsung. Berkali-kali Chandra menyampaikan, aksi massa adalah metode paling baik dan kemenangan tuntutan aksi kali ini adalah berkah dari aksi massa juga. Aksi dipungkas dengan pembacaan “Sumpah Mahasiswa yang Melawan”.

Berikut tuntutan yang dilayangkan oleh massa aksi ormawa dan mahasiswa ISBI Bandung;
1. Mosi Tidak Percaya terhadap Mukerma
2. Sejajarkan Kedudukan Ormawa dan Lembaga
3. Hapus Hierarki Organisasi
4. Menolak Program BuCAF (Buah batu Culture Art Festival)
5. Menolak Alokasi Dana 70 persen % : 30 persen %
6. Berikan Ruangan Ormawa yang layak bagi manusia
7. Segera berikan dana pengadaan alat Rp 8.500.000,- kepada setiap Ormawa, dalam bentuk uang bukan barang, biarkan kami sendiri yang mengelola uangnya (poin ini dianggap tidak ada, karena gagalnya koordinasi di tingkat rektorat. Antara Warek I dan Warek II tidak mengetahui hal itu dan seperti yang dituturkan keduanya, tidak ada alokasi untuk itu, cuman Warek I mengambil kebijakan anggaran tersebut—yang sebetulnya tidak ada anggaran untuk pengadaan barang)
8. Segala kebijakan Lembaga yang berkaitan dengan Mahasiswa atau ORMAWA harus melibatkan pihak mahasiswa
9. Transparansikan hasil MUSRENDRIK

[Adrian Nugraha/Wartawan Magang]
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger