Headlines News :
Home » » LAMA TERABAI, LAB PENYUTRADARAAN DICOR MAHASISWA DEMI TUGAS AKHIR

LAMA TERABAI, LAB PENYUTRADARAAN DICOR MAHASISWA DEMI TUGAS AKHIR

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 20 Mei 2017 | 06.12.00

Perhitungan seperti apa yang dilakukan lembaga, dalam membuat sistem kerjanya, sampai-sampai mahasiswa harus mengecor sendiri ruang lab untuk tugas akhirnya?

Ifan, Pimpinan Pentas Tugas Akhir Orang Asing, saat mengecor Ruang Lab Penyutradaraan.


DAUNJATI, Bandung (20/5) - Ruang Laboratorium Penyutradaraan yang berada dalam wilayah Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung memang telah cukup lama 'mati' fungsi sejak setahun belakangan ini. Dari mulai atap ambruk, lampu mati, air conditioner mati, sampai lantai yang hancur adalah sebab-mengapa Lab Penyutradaraan lebih seperti gudang kosong tak terurus. Upaya perbaikan sempat dilakukan tapi tidak selesai. Seperti yang diceritakan Wawan, mahasiswa teater yang pernah berproses di Lab ini pada September 2016 lalu, mengatakan, Waktu itu atap ambruk, terus air (hujan) langsung masuk ke ruangan, menggenang di lantai yang kondisinya juga begini (hancur), waktu itu kami jadi cuma pakai separuh dari ruangan ini ketika latihan. Dinyaman-nyaman keun we!. Wawan mengatakan, sejak pertama kali atap ambruk, Ia dan beberapa mahasiswa lainnya sempat lapor ke Office Boy dan Bagian Rumah Tangga, tapi tidak langsung diperbaiki. Sekitar bulan Januari 2017 baru dieksekusi dan itupun hanya atap saja.

Saat berita ini diturunkan, Jurusan Teater sedang memasuki proses Tugas Akhir Gelombang I tahun akademik 2017/2018. Lab Penyutradaraan adalah salahsatu ruangan yang dipakai sebagai tempat berlatih. Adalah Ratu Kurniawati, mahasiswi teater yang menggunakan Laboratorium Penyutradaraan sebagai tempat berposes untuk Tugas Akhirnya. Naskah 'Orang Asing' atau 'Lithuania' karya Rupert Brooke adalah yang dipilih Ratu sebagai kendara bagi Tugas Akhir minat Pemeranannya. Beberapa hari yang lalu, Tim Pentas garapan Orang Asing melakukan beberes; menyapu, mengepel hingga mengecor lantai Lab yang sudah lama rusak itu. Mumpung prosesnya baru dimulai, kita semua pengen tempat latihan kita itu bersih, nyaman. Emang sih balik lagi ke kita sebagai yang makai. Makanya kita mulai ada piket, sesekali juga kita pel lantainya. Tapi, mau serajin apapun dipel dan disapu kalau lantainya begini ya bakal kotor terus, ujar Ifan Hariyadi selaku Pimpinan Pentas Orang Asing. Ifan mengaku Tim Produksi Orang Asing mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000,- untuk biaya pengecoran lantai Lab Penyutradaraan ini. Menurutnya, hal ini dilakukan bukan semata-mata kerajinan, tapi karena lelah bila harus menunggu tanggapan dari pihak kampus. "Ya, proses (latihan) kan harus dimulai, nggak bisa nunggu (pihak) kampus ngebenerin dulu..", lanjutnya dengan gaya bicaranya yang flamboyan.


Tim Pentas Orang Asing sedang beberes dan mengecor Ruang Lab Penyutradaraan.

Dalam proses pengecoran, Daunjati juga sempat menemui Fajar, salah satu mahasiswa yang ikut dalam proses garapan Orang Asing sebagai aktor, Ia merupakan mahasiswa yang sebelumnya juga proses di Lab Penyutradaraan. Menurutnya, pihak kampus harusnya sadar bahwa apa yang dituntut mahasiswa memang yang dibutuhkannya. Fajar mengaku,  akhir-akhir ini pandangan pihak kampus atau pihak lain terhadap mahasiswa yang menuntut, protes atau berdemo sering negatif. Dilihat sebagai mahasiswa pencari masalah, mahasiswa tukang protes, dan cap-cap lain yang nadanya negatif. Padahal, sudah sewajarnya mahasiswa menuntut haknya, sambungnya. Kita kan ke sini kuliah, daftar juga bayar, tiap semester bayar, masa kita minta hak tidak dikasih. Hak yang Fajar maksud salahsatunya hak memperoleh ruang-praktik yang layak, seperti Lab Penyutradaraan ini. Dalam faktanya, Mahasiswa Teater memang menjalani proses akademik lumayan banyak di ruang-ruang praktik selain di ruang kelas. Jika dirata-ratakan tiap mahasiswa teater, normalnya, dalam satu semeseter harus menjalani 3-4 mata kuliah yang harus dilalui dengan latihan di ruang praktik. Maka ruang-praktik menjadi tempat yang sama pentingnya dengan ruang-kelas, secara intensitas pemakaiannya. Fajar yang awal tahun lalu sempat berbicara panjang dengan Dasiran, Kasubbag Umum bagian Rumah Tangga, menceritakan hasil pembicaraannya: Jadi waktu itu, Pak Dasiran bilang kalau dia sekarang udah nggak bisa sembarangan memperbaiki fasilitas kampus. Kerja dia udah sesuai Schedule Time. Nah, masalahnya di Schedule Time Rumah Tangga, kalau ruang praktik tuh ada di akhir tahun. Sepuluh bulan pertama itu fokus di area area lain.

Jika melihat apa yang dipaparkan Dasiran, Lab Penyutradaraan barangkali bukan ruangan satu-satunya yang terbengkalai, tapi akan ada ruang-ruang praktik lainnya: terbengkalai dan menghambat kegiatan belajar mahasiswa. Jika sebuah ruangan suatu hari mengalami kerusakan dan tidak berada pada waktu schedule time tentu tidak akan ada perbaikan, sampai masuk ke schedule time-nya. Padahal, proses latihan ujian-ujian mahasiswa terus tetap berjalan: dengan atau tanpa adanya kerusakan di ruang-ruang praktik. Maka pertanyaannya mah sekarang, perhitungan seperti apa yang dilakukan lembaga, dalam membuat sistem kerjanya, sampai-sampai mahasiswa harus mengecor sendiri ruang lab untuk tugas akhirnya?, sambung Fajar sambil lanjut memainkan gitar kecil kesayangannya.

[Naufal W Hakim]
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger