Headlines News :
Home » , » SEKILAS SEJARAH NGABUBURIT

SEKILAS SEJARAH NGABUBURIT

Written By LPM DAUNJATI on Senin, 05 Juni 2017 | 09.04.00



Salah satu aktivitas keagamaan di Sukawening-Ciwidey. Foto: John Heryanto

Sepanjang bulan Ramadhan, kata “ngabuburit” akan selalu diletakan dalam aktivitas yang dilakukan sore hari sebelum berbuka puasa / adzan magrib. Mengapa hanya aktivitas dibulan ramadhan saja yang dilakukan sore hari disebut ngabuburit? Apakah benar karena menunggu buka puasa? Apakah aktivitas sore hari ketika melakukan puasa sunah bisa juga disebut ngabuburit? 

Istilah ngabuburit mulai muncul sekitar tahun 70-an. Ketika mimbar keagamaan hadir di televisi, radio yang tayang setiap subuh dan sore, juga di koran maupun majalah ibu kota. Sehingga sebagian  masyarakat kota maupun desa, lebih memilih media masa ketimbang berkumpul di masjid-masjid maupun di madrasah. Hal ini, membawa perubahan terhadap pola dakwah yang dilakukan di madrasah-madrasah atau pesantren tradisional di pinggiran kota. Selain itu di tahun tersebut, kegiatan berserikat dan berkumpul dianggap tidak pancasila, komunis, teroris, kafir dan makar sehingga para aktivis, intelektual muda atau kalangan menengah terpelajar kota mencari cara lain untuk tetap bertegur sapa sekedar membicarakan situasi dan kenyataan yang dihadapi.

Menangapi perubahan situasi yang bergeser dari tahun-tahun sembelumnya terutama setelah naiknya Soeharto. Maka dikalangan  Pendidikan Agama yang bersipat tradisional / Pesantren di pinggiran kota muncul kegiatan  “pesantren kilat” yang kemudian menjadi kegiatan wajib ditahun 90an berdasarkan keputusan Presiden untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan karakter bangsa dikalangan generasi muda mulai dari SD sampai SMA. Yaitu belajar agama dalam waktu sesingakat-singkatnya;  setelah subuh, pagi, sore dan malam hari selama 20 hari. Selain menaggapi maraknya dakwah dimedia masa. Siswanya kebanyakan diikuti oleh remaja sekitar pesantren ‘santri kodok’ dan juga anak muda kota yang berpaling dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Sedangkan kalangan terpelajar kota/santri abangan memilih diskusi dengan keliling ke masjid-masjid secara diam-diam diwaktu sore, guna menghimpun masa.

Dari kedua aktivitas tersebut, muncullah istilah “ngabuburit”. Jika dikaitkan dengan situasi di tahun 70-an maka “ngabuburit” berasal dari kata “ngabubur” yang artinya mengolah gagasan ‘ngasakeun’ yang dilakukan setiap sore oleh kalangan terpelajar kota begitu juga dengan didesa mengenai agama dan realitas masyarakat. Maka “ngabuburit” di tahun 70 dan 80-an menjadi aktivitas yang rutin dilakukan, tidak hanya sekedar merawat keremajaan tapi juga memelihara kebersamaan. Hingga berbagai acara dilakukan di ruang-ruang publik khususnya di Bandung seperti "Konser Musik Ngaburit"(1975) dan lain sebagainya. Dari berbagai aktivitas sore-sore yang dilakukan secara berkala, akhirnya kata ngabuburit menyebar keseluruh Indonesia untuk menyebut aktivitas sore-sore di bualan Ramadhan. Sudahkan anda “ngabuburit” hari ini?

(John Heryanto)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger