BAHASA DARI JEMURAN DAN KERUMUNAN TEKS

[Catatan pertunjukan Pooh – Pooh Somatic; On Crowd of Biographies - Kalanari Theatre Movement]

:John Heryanto
 
Pertunjukan "POOH-POOH SOMATIC; On Crowd of Biographies"- Kalanari Theatre Movement. Foto: John Heryanto
Bagaimanakah tubuh menuliskan bahasanya sendiri diluar kata-kata? Apakah bahasa tubuh sama pula seperti kata? Hal ini sebagaimana terlihat pada seorang lelaki berkeliling searah jarum jam diantara jemuran pakaian yang membentang ke penjuru mata angin, dalam adegan pertama ‘Pooh-Pooh Somatic; on Crowd of Biographies’. Seorang lelaki berbicara entah dengan bahasa apa: “wakalamakanhuakaihuak humakj ihagsuna gskukoielasniku…”. Upaya komunikasi atas situasi yang berlangsung, erangan, buyi-buyian di mulut, pekikan diantara orang yang terselip dalam jemuran, membereskan serakan pakaian di lantai.


Pada adegan pertama inilah. Batas antara bahasa sebelum kata-kata dengan kata-kata itu sendiri menjadi tipis. Apakah kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut aktor tidak disebut sebagai kata? Atau hanya sekedar suara, bunyi atas respon ruang,  keterdesakan komunikasi ketika tubuh tidak lagi sanggup menyapa yang lain. lantas darimanakah ia menemukaan bunyi dalam mulut? Situasi  apakah yang dialami sang pelakon diawal pertunjukan, sehingga ia meninggalkan tubuhnya (bahasa isyarat, bahasa tubuh, gerak, dan lain-lain) menitipkan kondisi pada kata-kata dalam mulutnya? Kemanakah ia akan merajut dirinya diantara muntahan biografi? 

Pertunjukan "POOH-POOH SOMATIC; On Crowd of Biographies" - Kalanari Teatre Movement. Foto: John Heryanto
Pertunjukan `Pooh-Pooh Somatic’ di PKKH-UGM Yogyakarta (22/08/17)  bertolak dari situasi  pecahan-pecahan biografi pelakon yang direkayasa oleh teks ruang, kondisi dan situasi kekinikan pelakon serta manipulasi biografi oleh sutradara. Berdasarkan pendekatan pooh-pooh dari Max Muller guna menemukan bahasa yang paling primitf dari teater.  Percobaan Kalanari  Theatre  yang dimulai sejak tahun 2014 dengan pentas perdana "Yo-he-ho’ Site" ditahun lalu.

Sepanjang pertunjukan ‘Pooh-Pooh Somatic’, laku para pelakon begitu juga dengan benda-benda yang ada (pakian) saling merumuskan diriya bersama ruang, dan situasi yang tumbuh, bertubruk, saling merengkuh, chaos dan skizoprenik. Pakaian bisa menjelma menjadi apa saja, begitu juga dengan tubuh. Ia tidak semata soal daging dan benda. Sesuatu yang senantisa dipilah dan ditelisisk, dicuci, dibersihkan, dikeringkan. Sebelum benar-benar dapat dikenakan, jika pun ia dapat dikenakan, belum tentu pula akan dipegang sebagai yang mesti dan lekat.  Melalui stategi repetitip dan monoton itulah Ibed memertanyakan bahasa.

Berulang dan berulang kali; pekik dari gerombolan pelakon, melintas dan mengkaitkan dirinya dalam pakaian. Komunitas manusia yang mencari dan berpidah. Saling menimpal. Ada yang bergidik, berputar-putar, terhempas dan penyakitan.  Tubuh yang tak mapan, rapuh yang senantiasa meminjam bahasa diluar dirinya. Laku dan pekik para pelakon pada akhirnya tidak sekedar perwujudan dari perasaan semata. Ia menjelma menjadi sistem panggil,  miscall antara situasi dan kenyataan yang berlain-lain dengan biografi yang lain pula dan hubungan diantara satu dengan yang lain. Upaya-upaya penghubungan dengan repetisi-repetisi kinetik dan pengkodean. Bercermin dan saling meniru laku diantara pelakon menjadi cara pertama komunitas manusia terhubung, selain perasaan yang mendedak. Sebuah sistem komunikasi yang  dirangkai dari keputusasaan.

Pertunjukan "POOH - POOH SOMATIC; On Crowd of Biographies" - Kalanari Theatre Movement. Foto: John Heryanto.
Pertunjukan pada akhirnya menjadi ajang untuk uji coba atas bahasa yang dimiliki teater. Sebuah percobaan yang cukup berani, liar dan mendobrak batas-batas kelajiman. Meski bukan sesuatu yang baru. Melihat pertunjukan Kalanari Theatre kali ini, sepintas penonton akan teringat pertunjukan Teater Garasi yang bertolak dari pertanyaan. Tentunya Teater Garasi dan Kalanari memiliki cara dan warnanya masing-masing,  meski sama-sama berdomisili di Yogyakarta. Ditangan Ibed Surgana Yuga, Teater tidak lantas selesai ketika ia memiliki bahasa ugkap. Teater menjadi  sesuatu yang dibaca kembali, ditelusuri, dan diragukan. Sebagai yang amatir dan tidak pernah mapan.

Related

Teater 2032416121753118448

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item