KEMALANGAN TAK TERTUNDA



John Heryanto

Pertunjukan "Orang Asing" saduran D. Djajakusuma. Foto: John Heryanto
Siapakah yang dapat bertahan hidup dalam kemeralatan. Dimana “tanah ini hampir membuat kita mati, seperti neraka.”. Kemiskinan ini pula yang membuat orang-orang yang tinggal di pedalaman, desa terpencil, jauh dari mana-mana dan di tengah hutan menjadi terbelakang.  Hidup pada akhirnya menjadi teka-teki yang tak terbaca selain dari pada mencari-cari dan tanpa harapan apa-apa sebab rumah  hampir membuat penghuninya mati berkali-kali. Dinding-dinding lapuk, beralas tanah  tanpa listik. Rumah dimana seluruh peristiwa “Orang Asing” berlangsung dalam satu malam. Kengerian dan ketakberdayaan dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak terbaca itulah yang berdiam dalam rumah. Sebuah manifestasi dari semangat lakon dalam perwujudan visual.

“Orang Asing” berkisah tentang seorang pemuda kaya, tak dikenal, dan tersesat di hutan. Lantas singgah di gubuk kecil milik keluarga petani misikin. Si miskin pun dibutakan kemelaratan hingga membunuh si pemuda tersebut. Belakangan, barulah diketahui bahwa orang asing  itu, adalah anak tertua dari keluarga tersebut yang hilang bertahun-tahun sebelumnya. Ia kembali untuk sebuah kejutan, namun nasi telah jadi bubur. Si anak hilang mati ditangan adik sendiri. Tinggalah uang sekoper, jam tangan emas dan sebuah kemalangan lainnya menanti.
 
Pertunjukan "Orang Asing" saduran D. Djajakusuma. Foto: John Heryanto
Teks saduran dari ‘Lituania’ dari Rupert Brook menjadi ‘Orang Asing’-nya D. Djajakusuma yang di pentaskan di GK. Dewi Asri Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (10/8/17) merupakan rangkaian dari Tugas Akhir (TA) Jurusan Teater minat Pemeranan yaitu Ratu Kurnia Wati (Ibu) dan Khaerunisa (Sinah).  Mencoba mengurai relasi yang terjalin dalam keluarga, hubungan orang tua dan anak, adik dan kaka  yang komplek mulai dari psikologis hingga cultural. 
  
Pertunjukan "Orang Asing" saduran D. Djajakusuma. Foto: John Heryanto
Sebuah kekeliruan yang lahir dari cara hidup berbeda antara  kebiasaan orang  kota  dan orang desa yang tidak haya dipisahkan secara teritori dan budaya. Tapi juga oleh kelas sosial yang dimiliki antara orang asing sebagai si kaya dan keluarganya  sebagai si miskin. Si Kaya berpikir perlulah sebuah sandiwara kecil sebagai kejutan bahwa anaknya kembali. Tapi si miskin tidaklah memerlukan sadiwara, apalagi kesombongan dari si kaya. Satu-satunya yang ia butuhkan adalah makan yang cukup setidaknya untuk satu hari sebelum musim hujan tiba.

“Dia tidur cuma sekali, Ia tak akan melawan. Kami akan datangi dia. Tak ada orang yang tahu. Kita harus dapatkan uang itu…”

Siapakah yang bertanggug jawab atas kematian yang mengerikan di malam buta tersebut? Hidup miskin, melarat dan tidak berpendidikan? Pada titik inilah penonton dibawa pada situasi lain, menilisik kembali, yang lumput dari absennya negara.  “aku tersesat menyusuri jalan hingga sampai kesini,.urusan pemerintah”.

Related

Teater 8001119662815723022

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item