KETIKA SAKURA MEKAR, JADILAH SISYPHUS

John Heryanto
 
Pertunjukan "Sotoba Komachi" Teks: Yukio Mishima. Foto: John Heryanto
Sebuah malam seperti juga malam yang lainnya, perempuan tua dengan kimono musim semi (yukata) lusuh. Menyusuri taman diantara mekarnya sakura dengan langgam syair di mulut, memungut puntung. Malam yang sama, taman yang sama; sebuah bangku di bawah pohon sakura,   kanan kiri lampu. Perempuan seperti halnya sakura yang suatu waktu akan gugur pula kecantikannya dimakan  cuaca dan usia. Bagaimana pun juga “sebuah wawar tetaplah mawar”. Begitu juga dengan “Komachi” diusianya yang ke 99 tahun, dimata seorang “Penyair’ muda pada malam ke 99, ketika sakura mekar dalam pertunjukan “Sotoba Komaci” (11/8/17). Ia tetaplah cantik, meski keriput, penuh ubah, kutu, bau, lusuh dan bongkok. Seluruh keburukan yang dimiliki perempuan tua itu adalah arti dari kata cantik itu sendiri, dari kemesentaraan -oi kini sakuragi. Sebuah pernyatakan yang tidak hanya lahir dari manifestasi hidup sang penyair semata-sabi, tapi ia adalah Jepang itu sendiri dimasanya.

Pertunjukan " Sotoba Komachi"  Teks: Yukio Mishima. Foto: John Heryanto

“Ya, aku ingat sekarang. Kita pernah bertemu di malam ke seratus, pada seratus tahun yang lalu. Kau adalah perempuan tua, mata berair dan bau busuk”

Teks “Sotoba Komachi”-nya ‘Yukio Mishima’ terjemahan Toto Sudarto Bachtiar berkisah tentang pertemuan tak tertuga pada malam ke 99, antara perempuan tua (komachi) dengan seorang penyair muda. Bertegur sapa dan berbagai ingatan tentang kecantikannya “komachi” diusia ke 20 pada 80 tahun lalu dimana Kapten Fukaksa terpesona. Hingga akhirnya si penyair memutuskan bunuh diri dengan kata-kata. “lebih baik aku mati dari pada tidak mengatakan kebenaran. kau memang cantik!”. Ia pun  mati membawa janji untuk  bertemu 100 tahun yang akan datang, di malam yang sama dan di tempat yang sama pula, pada malam ke 99. Sebuah pertemuan yang terus berulang setiap seratus tahun untuk bunuh diri mengatakan kebenaran, berjanji lagi bertemu seratus tahun lagi dan lagi. Nasib yang diramalkan dengan ‘coretan kematian di jidat” dari hidup yang kosong. 

Sebuah kematian yang singkat, dari hidup yang singkat pula. Begitulah  “Penyair” bertemu dengan “Komachi” mempertanyakan hidup dan mati, Apa tujuan hidup? Dan apa tujuan mati? Pertanyan yang tulus dari situasi magis dan spiritual -makoto ketika keduanya merasa asing, dan sia-sia menjalani hidup sebelum bertemu. Situasi ini diperkuat dengan hadirnya  bayangan dari wajah-wajah berwarna putih yang ditembakan projektor ke belakang pohon sakura ketika keduanya berdansa, melihat pekatnya malam, dan sekarat.

Pertunjukan "Sotoba Komachi" Teks: Yukio Mishima. Foto: John Heryanto.
Pertunjukan “Sotoba Komachi” di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Merupakan rangkaian dari Tugas Akhir (TA) Jurusan Teater minat Pemeranan (Sofiah Kosasih). Sekaligus penutup rangkaian ujian Tugas Akhir (TA) Gelombang 1,  yang berlangsung dari tanggal 1-11 Agustus 2017.

Sepintas kematian “Penyair”  yang bunuh diri dengan kata-katanya dalam “Sotoba Komachi” serupa matinya ‘Yukio Mishima’ yang mengakhiri hidup sebagai puncak dari keseniannya yaitu bunuh diri di markas militer. Sedangkan “Sotoba Komachi” dikerjakan ulang oleh “Yukio Mishima” dari “Kanami” pada masa perang dunia kedua. Dimana banyak orang mati tiba-tiba, sia-sia dan terkapar begitu saja  akibat jatuhan bom dan tembakan dimana-mana. Kisah pilu dari hidup yang getir dan pertunjukanpun berakir ketika  “Komachi” pergi meninggalkan si “Penyair” yang mati di bangku taman, ketika sakura mekar dan jadilah Sisyphus.

“Bunga-bunga di taman malam hari baunya sama kuat dengan bunga dalam peti mati”

Related

Teater 650099555332044754

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item