MITOS KEPERAWANAN DAN KEBUN TOMAT

John Heryanto

"Pertja" Teks: Benny Yohanes. Foto: John Heryanto
Sebelum lampu-lampu dinyalakan, yang ada hanyalah suara pintu digedor dan teriakan seorang perempuan “aku tidak hamil…ini penyakit dalam perut!” Berapa menit kemudian terlihat  meja makan, tempat memasak, televisi yang digantung di atap, dan bathup di atas kebun tomat yang merambat ke bawah. Begitulah pertunjukan ‘Perjta’  (4/8/2017) dimulai dengan kenyataan bahwa perempuan di kurung di kamar, selalu berada di rumah dan harus tunduk pada sesuatu diluar dirinya. Seseorang yang dilempar ke dunia sebagai “orang hukuman”.

Keadaan diluar dirinya pula, menyebabkan perempuan mengalami ketidakadilan. Mulai dari pelecehan seksual seperti halnya  Rosa diperkosa oleh orang yang mengaku sebagai ayah, Selasih mengalami pelecehan seksual oleh Brojo. Sampai pada kekerasan psikis seperti Selasih dikurung di kamar, dikucilkan, termarjinalisasi dan dianggap membawa aib bagi keluarga karena hamil diluar nikah atau Pupu merasa dirinya menjadi sampah akibat keperawanannya hilang oleh Rian yang tak bertanggung jawab.

Perempuan juga tidak bisa keluyuran setiap malam, dan lain-lain karena akan di label negatif. Apalagi kalau perempuan  serupa laki-laki yang Rosa sebut sebagai “ binatang cacat pengobral mani”. Sebab seksualitas perempuan selalu dimaknai dan ditandai untuk seksualitas laki-laki. Ketiadaan keingingan seksualitas adalah bagian dari berbagai mitos yang melingkari sepanjang hidup perempuan. Dan salah satu mitos tentang perempuan yang diagungkan sepanjang masa  yaitu mitos keperawanan. Sebagaimana yang Brojo bilang “Keperawanan itu harus di uji dan di coba”.

Pertunjukan "Pertja" Teks: Benny Yohanes. Foto: John Heryanto
Pada akhirnya perempuan, menjadi Liyan yang harus membungkam seksualitas, tubuh dan hasratnya. Sehingga ketika tampil dalam sebuah institusi, perempuan melebur diri dalam patrialkal.

Hal inilah yang menjadikan ketiga tokoh perempuan dalam pertunjukan “Perjta”melawan; Rosa menjadi germo di pangkalan perapatan menjual daging sesuka hati, Selasih melepaskan keperawanan dan menikmati tubuhnya sediri kapan pun mau, dan Pupu mencoba bunuh diri  dengan meminum racun  dihari ulang tahun adik.

Pertunjukan "Perjta" Teks: Benny Yohanes. Foto: John Heryanto
Pementasan “Pertja / Teks: Benny Yohanes“  di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini. Merupakan pertunjuakn ujian Tugas Akhir (TA) Gelombang 1 Jurusan Teater - Fakultas Seni Pertunjukan. Dengan minat Pemeranan yaitu Yulia Aprilia dan Moty Nurwan.
Selama 90 menit, penonton dibawa pada sisi purbawi dari manusia urban yang traumatik dan skizoprenik. Tinggalah tiga ‘perawan’  dalam gelap,  di kebun tomat dengan pisau yang siap dihunuskan ke jatung sendiri.

“bunuh diri itu romantis,....aku bisa menghirup napas sendiri”

Related

Teater 6873050728780620013

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item