TEATER, TEMBAK AKU SEBELUM GILA

John Heryanto

Pertunjukan "Lautan Bernyanyi"  Teks: Putu Wijaya, Foto: John Heryanto
Moncong senapan dari sang kapten di atas geladak, terus menyasar setiap sudut lautan lepas. Letusan senjata diantara debur ombak, kepada apakah? Begitulah  kegetiran bernama manusia dilahirkan ketika mengarungi samudra. Sebuah perjumpaan pertama pentonton dengan ‘Lautan Bernyayi’-nya Putu Wijaya yang menyusun bahasanya dalam ruang, dan situasi secara diam-diam di atas perahu “Harimau Laut”. Diayun-ambing laut yang disebut sebagai nasib.

Pertunjukan ’Lautan Bernyayi’-nya Putu Wijaya (01/08/17) di GK. Sunan Ambu - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Merupakan rangkaian ujian Tugas Akhir (TA) Prodi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan. Dengan minat Pemeranan yaitu Ody Juniansyah sebagai Kapten Leo dan Akhmad Ramadani sebagai Comol, dan minat Penata Artistik yaitu Adilan Setia RA.

Pertunjukan "Lautan Bernyanyi" Teks: Putu Wijaya, Foto: John Heryanto
“…aku takut aku akan gila. Aku pernah ke tengah laut mencari suara itu, sehari semalam dalam topan dan hujan, aku hanya menjumpai kekosongan yang sepi…” Begitulah Leo, menyangsikan dirinya atas segala sesuatu yang berlangsung begitu saja, cepat dalam tatapan. Sejak kapal “Harimau Laut” terlempar dekat tepian Sanur berapa kilo dari lautan lepas ditebas angin dan badai di sebelah timur Denpasar.

Teks teater dari 1967 ini, bergelindan diantara ramalan, cuaca, ingatan, politik, ideologi, sejarah, agama, teritori dan lain sebagainya selama 110 menit dalam kapal boat warna coklat. Dengan tokoh-tokoh yang terseok-seok kecemasan diantara halusinasi dan pertentangan batin dari gelapnya ketidaktahuan akan hidup itu sendiri.

Pertunjukan "Lautan Bernyanyi" Teks: Putu Wijaya, Foto: John Heryanto
 Rupa-rupanya membunuh dan berburu masih menjadi perangkat pertama manusia dalam menjaga kelangsungan hidup sejak dulu hingga kini. Hal itu pula, jadi pilihan Bajak Laut “Harimau Laut” untuk bertahan. Sang Kapten yang menembak secara berutal apa saja dan siapa saja yang mengganggu, termasuk kru kapalnya. Begitu juga dengan kru kapal yang siap membuhuh apa saja untuk “Harimau Laut”. 

Disinilah apa yang dipikirkan dengan apa yang dirasakan dipertanyakan dengan apa yang dipengang  atau yang dukun sebut sebagai “mencari jawaban atas  kebodohanku”. 

Tapi, Apakah yang kau pegang itu; Apakah sepucuk senapan?, Apakah pisau?, Apakah ember?, Apakah layar kapal?, Apakah Dewa Laut? Apakah Leak?, Apakah aku?, Apakah kamu?, Apakah lain-lain?, Apakah ?, (?)? dan seterusnya.

Pertunjukan "Lautan Bernyanyi" Teks: Putu Wijaya, Foto: John Heryanto.
Strategi persentasi nampaknya menjadi pilihan para aktor dalam merumuskan dan menciptakan diri sendiri di panggung, guna menemukan keutuhan tokoh dan pengalaman akting yang sebenar-benarnya. Membangun situasi dan peristiwa yang tak terapakan dari hidup.

Namun dalam beberapa kesempatan, sang aktor nampak kewalahan dengan narasi yang dibawanya. Kadangkala timbul tenggelam dan tidak meliliki arah. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal semisal ketidak tuntasan migrasi estetik dari teks ke atas pentas, waktu proses yang sebentar hanya beberapa bulan  dan lain sebagainya.  Begitu juga dengan desain tata pentas,  yang sebagian tidak dapat dilacak dan tak berbahasa dari perwujudan tekstur visual dan semangat lakon yang utuh kepada penonton

Terlepas dari itu semua, pertunjukan ‘Lautan Bernyanyi’ hadir tidak hanya sekedar membongkar gelapnya hidup, tanpa tepi, tak bernama dan kosong. Setidaknya mengingatkan kita untuk kembali menelisik diri "...sebelum benar-benar gila, demi tuhan.." bunuh diri.

Related

Teater 1606569877351846671

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item