TRAGEDI ORKES MENANTI


John Heryanto

Pertunjukan "Orkes Madun IV: Ozon" Teks: Arifin C. Noer. Foto: John Heryanto
Teater di atas panggung tentunya tidak dapat dilepaskan dengan drama hidup yang dilakoni  sehari-sehari. Sebab Teater hadir di atas pentas tidak sekedar cermin yang memantulkan realitas semata, tapi juga  membongkar sisi yang  tersembunyi dari yang bernama hidup. Dan wajarlah jika seorang penonton yang hidup, menginginkan teater yang hidup pula. Keingingan pada sesuatu yang hidup, nyatanya bukan hanya keinginan penonton saja. Tapi juga keingainan Waska – “ia menginginkan sesuatau yang hidup karena ia adalah jiwa yang hidup”.

‘Ozon’ ini  berkisah tentang Waska, Ranggong dan Borok yang pergi menyusuri semesta mencari mati. Lantas menuju bulan, namun tak ada sesuatu yang bernama mati. Mereka pun kembali ke bumi menemui Wiku dan Nini istrinya, ilmuan yang dulu memberi formula penangkal ajal. Mereka terperangkap dalam keabadian hidup. Tersiksa, lelah dan putus asa atas hidup yang kekal ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir dari kebudayaan laba. Hingga yang tersisa tinggalah penantian atas hidup yang tak usai. Sebuah kegetiran dari jiwa-jiwa resah, malang, gelap, terlunta-lunta, dan sia-sia.

Pertunjukan "Orkes Madun IV: Ozon" Teks: Arifin C. Noer. Foto: John Heryanto
Pementasan ‘Ozon’ dengan teks yang ditulis oleh Arifin C. Noer tahun 1989 bagian pentalogi Orkes Madun (Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang, Sandek Pemuda Pekerja, dan Magma). Berlangsung di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (8/8/17). Merupakan rangkaian dari Tugas Akhir (TA) Jurusan Teater dengan minat Penyutradaraan (Tatang Syaban) dan Artistik (Puji Koswara).

Dramaturgi pertunjukan bergerak diantara ingatan, dan angan-angan. Melalui jalan tersebutlah, kiranya sang sutradara mencoba menghadirkan kompeksitas dan lapisan-lapisan narasi dari ‘Ozon’  dari hidup yang hampa –nothing ness. dengan artistik yang simbolik yang merujuk pada  situasi dan kondisi ketika naskah tersebut ditulis. Sebuah Drama dari wajah Indonesia yang resah dan bergelidan antara kuasa dan kata-kata seperti “… ibu adalah pembangunan” 

Pertunjukan "Orkes Madun IV: Ozon" Teks: Arifin C Noer. Foto: John Heryanto
Kemanakah hidup pergi? Ketika yang tersisa dari hidup adalah menanti. Barangkali inilah permenungan untuk kita sehingga tak lantas hidup sia-sia. Waska hidup pada akhirnya tidak memilih agama  juga negara “sabab agama baginya sama seperti negara yang beku…” tidak juga memilih kebijaksanaan kerena “sejarah adalah perampokan”.  Ia masih duduk dan menunggu lahirnya dunia baru “..cinta yang disembunyikan alang-alang” dan Waska masih hidup dalam teater. Ia adalah kita.

Related

Teater 1250206536282688354

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item