NARASI KOLONIAL DAN CINTA JANGAN PECAHKAN GELASNYA

(Catatan Pertunjukan “Penata Artistik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi”- Piktorial Aktor Labolatory Bandung)

;John Heryanto

"Penata Artistik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi" Naskah/ Sutradara: Irwan Jamal. Foto: John Heryanto

“…Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada 
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam 
layar merah berkibar hilang dalam kelam 
 kawan, mari kita putuskan kini di sini: 
 Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!...”

(Kepada Kawan – Chairil Anwar)

Teks puisi dari Chairil Anwar hadir dalam mimpi sang penata artistik, ketika dirinya merasa yakin bahwa sutradara akan dibunuh oleh aktornya sendiri. Drama "Penata Artistik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi" berlangsung selama satu jam di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung (19/9). Seorang penata artistik yang gagal berkarir di Televisi, gagal memenuhi hidup yang layak dan berkecukupan. Lantas kembali ke panggung berharap menemukan kemungkinan lain. Harapan akan hidup yang layak itulah, membawanya pada mimpi buruk dari nasib yang buruk pula.

“aku masih saja mendengar suara penderitaan sampai hari ini”

Begitulah bunyi surat yang ditulis penata artistik kepada Sang Ratu. Atas berbagai keganjilan dan kenyataan yang berlain-lain dihadapanya, dengan harapan menemukan Ratu yang adil. Ia melihat seseorang yang  menjinjing lambang garuda sambil berujar: “mencari ketuhanan yang maha esa, mencari kemanusiaan yang beradab, mencari, mencari persatuan Indonesia, mencari kerakyatan yang dipinpin oleh hikmat kebijaksannan dalam permusyawaratan / perwakilan, Mencari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Penata Artistik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi" Naskah/Karya: Irwan Jamal. Foto: John Heryanto
Sang penata artistik  ketika bertemu dengan mimpinya akan sejarah manusia dan situasi yang dihadapi. Ia selalu dihadapkan pada posisi biner, yang tak lagi terpisah sebagai penjajah atau yang dijajah serupa adegan bertemu sang ratu berharap menemukan ratu keadilan, menghadap Jendral, belum adegan atau sudah adegan dan panggung teater atau televisi dan lain sebagainya.

Adegan-adegan hadir dengan penuh pukauan Berbagai perubahan tampilan visual. Kostum yang berganti-ganti dengan tokoh yang berganti dan latar yang berganti pula. Semuanya berlangsung dengan cepat.

"Penata Artsitik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi" Naskah / Sutradara: Irwan Jamal. Foto: John Heryanto
Teater ditangan Irwan Jamal, tidak hanya estetis tapi matematis dengan berbagai kemungkingan tak terduga dan tanpa terpeleset. Ditanganya pula, panggung “Artistik yang Tersesat dalam drama Mimpi” menjadi gambar kolase, dimana penonton diajak mengintip ingatan lewat pecahan-pecahan adegan di panggung. Dramaturgi berjalan dianatara harapan dan teritori ingatan pelaku panggung.

Panggung pertunjukan hadir sebagai tempat saling mengaitkan, memanjangkan dan berebut; antara kehadiran teks dimulut aktor dengan benda-benda yang dibawa para pelaku hilir mudik keluar panggung seperti lentera, peti mati, pohon, lukisan tokoh, payung dan sebaliknya benda-benda dengan narasi. Hal ini kirananya dilakukan sebagai upaya memperbahrui makna dari yang sebelumnya melekat pada benda hingga membuka kemungkinan lain dari sebuah kisah.

Sang penata artistik masih belum pergi, belum memilih Teater atau TV ketika berkeyakinan kalau kawan dulu diteater memusuhi. Ia sedang duduk dan menunggu seorang sutradara “Cinta jangan pecahkan gelasnya”

Related

Teater 2911429966444326386

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item