PERS RILIS PAMERAN SENI RUPA: BERTIGA

Poster PAMERAN BERTIGA yang akan berlangsung akhir November ini

Prolog

Pameran BERTIGA adalah sebuah pameran yang menampilkan karya-karya lukisan serta gambar-gambar ilustrasi dan komik yang digagas oleh 3 orang perupa dari Jurusan Seni Murni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Yakni, Pery Anwar S, Putut Pramudikho dan juga Rizki Chino. Tidak ada tema besar atau yang diusung dari pameran ini. Dalam pameran ini, para perupa di bebaskan untuk menampilkan karya-karyanya yang di buat dalam kurun waktu tahun 2013-2017.

Meskipun tidak ada tema besar atau khusus yang diangkat dalam pameran ini, namun tetap ketiga perupa ini memiliki satu kesamaan dalam kekaryaannya yang mampu membuat benang merah dalam karya-karya mereka bertiga. Mereka bertiga sama-sama memiliki corak kekaryaan yang ilustratif dan komikal. Seperti halnya Putut Pramudikho yang memang fokus membuat karya-karya komik dari tahun 2011 hingga sekarang. Selain itu, Rizki Chino dan juga Pery Anwar S menampilkan lukisan-lukisan bergaya Pop Surealisme yang cenderung ilustratif dan komikal.

Putut Pramudikho dalam pameran ini menampilkan karya-karya komik dan ilustrasi yang bertemakan mengenai persoalan asmara yang sangat rumit dalam kehidupan anak muda pada zaman sekarang. Dari mulai patah hati, rindu yang menggebu dan juga perjuangan mendapatkan hati gadis pujaan. Tema ini cukup mewakilkan kondisi anak muda zaman sekarang yang mana para anak muda cenderung lebih cengeng karena masalah percintaan, namun Putut mencoba mengemas hal tersebut menjadi sesuatu yang menggelikan yang mampu mengundang tawa para apresiator yang membaca komik yang ia buat.

Persoalan asmara juga diangkat oleh Rizki Chino dalam pameran ini, namun berbeda dengan Putut, Chino menampilkan tema-tema patah hati dan juga perasaan yang tersakiti oleh sebuah pengkhianatan dalam hubungan percintaan yang dialaminya. Hal tersebut di tampilkan oleh Chino dalam lukisan bergaya Pop Surealisme dengan karakter-karakter khasnya yang memiliki raut wajah murung yang menampilkan kesedihan atau kehilangan harapan.

Berbeda dari Putut dan juga Chino, Pery Anwar S mencoba menggali ingatan-ingatannya ketika masa kecil yang hidup dan di besarkan di kawasan bantaran rel kereta api Stasiun Kiaracondong, Bandung. Pery banyak membicarakan mengenai kondisi realitas di kawasan bantaran rel kereta api Kiaracondong. Kondisi masyarakat yang hidup di pemukiman padat penduduk dimana areal tersebut bukan diperuntukkan sebagai pemukiman, namun areal yang seharusnya tidak di huni oleh warga karena areal tersebut sangat berbahaya dan mengancam nyawa yang tinggal di situ. Hal tersebut karena mampu menyebabkan tertabrak oleh kereta api yang sedang melintas. Banyak sekali yang di bicarakan oleh pery lewat karya-karya lukisannya. Mengenai bahaya tinggal di bantaran rel, warganya yang tidak peduli terhadap hukum, dan juga kondisi anak muda yang sering mengonsumsi minuman keras serta hal negatif lainnya.

Dalam pameran ini, para apresiator disuguhkan tema-tema berbeda dan juga karakter-karakter yang memiliki kekhasan masing-masing dari setiap perupa. Putut Pramudikho yang merespon cerita-cerita asmara anak muda masa kini, Rizki Chino yang “curhat” mengenai perasaan tersakiti melalui lukisannya dan juga Pery Anwar S yang bercerita mengenai kacaunya lingkungan sekitar tempat tinggalnya di kawasan bantaran rel kereta api Stasiun Kiaracondong. Penyelenggara pameran sangat berharap semoga karya-karya yang ditampilkan dapat di apresiasi dan mendapat respon baik dari khalayak umum.


TEMA & JUDUL KEGIATAN
Tema  : Pameran Lukisan dan Gambar
Waktu : 16:00 – 23:00
Tanggal : 23 – 30 November 2017
Tempat : Galeri 212 , Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 

[ release press ini dikirim oleh Pery Anwar pada tim redaksi LPM Daunjati, 17 November 2017 ]

Related

Seni Rupa 4370994154672048250

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item