REFLEKSI HARI TELEVISI 2017 : TELEVISI KITA MAU PERGI KEMANA?

Hari Televisi Dunia 2017. Desain: John Heryanto


Generasi yang lahir di era Orde Baru tentunya tidak akan lupa tentang TVRI, satu-satunya televisi nasional yang menyiarkan pembangunan Soeharto. Lewat televisi pula jatuhnya Orde Baru tersiar ke seluruh pelosok Indonesia. Paska reformasi hingga kini jumlah televisi tak terhitung lagi. Hampir setiap daerah ada televisi lokal ditambah dengan televisi nasional. Kemanakah televisi hari ini ketika banyak TV dikuasai oleh politikus dan petugas partai? Akankah televisi berpihak pada kepentingan rakyat? atau memilih pemodal?

Hari televisi dunia ditetapkan dalam resolusi PBB No 51/205 pada tanggal 17 Desember 1996. Hari televisi ini tentunya tidaklah dirayakan semua negara di dunia karena sebagian negara menganggap bahwa hari televisi dirayakan bukan untuk rakyat melainkan utuk pemodal (pemilik Televisi). Berbeda dengan hari Pers yang dirayakn di seluruh dunia. Siaran pertama televisi di dunia dimulai oleh BBC Inggris tahun 1936. Sedangkan televisi mulai masuk ke Indonesia tahun 1955 saat perayaan 200 tahun Kota Yogyakarta, Televisi tersebut dibawa oleh orang Uni Soviet. Dan siaran televisi pertama yaitu upacara kemerdekaan Indonesia ke -17 di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1962.

Rezim Orde baru menjadikan telvisi sebagai kepanjangan tangannya, kita tentunya masih ingat berbagai media yang tak sejalan diberedel. Berbagai program televisi dan Film diciptakan demi mengekalkan kekuasaan. Paska Reformasi tentunya telah berubah, meski kita tahu pada berbagai acara seringkali mejadi media untuk kampanye penguasa apalagi menjelang pemilu, semisal tahun tahun-tahun lalu di 2004 hingga kemarin PILGUB.  Maka tidaklah heran bila kini muncul televisi alternatif yang dikelolA oleh komunitas-komunitas dengan sekala kecil dan swadaya. 

Hari televisi semestinya dirayakan bukan untuk pemilik modal semata sehingga terus-terusan mengejar iklan dan memperbanyak hiburan, menjauhkan pemirsanya dari persoalan hidup yang sesungguhnya. Televisi mestilah ikut membangun kehidupan masyarakat lebih baik, sebab ia salah satu penyangga demokrasi dan stidaknya membangun intelektualitas dan kebebasan. semoga dan selamat hari televisi dunia, 21 November 2018.

(John Heryanto)

Related

Film 68986475533649715

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item