LINTAS BUDAYA DARI ANAK YANG HILANG

(Catatan diskusi “Migrasi, Geografi, Estetis” bersama Jim Adhi Limas di Mainteater Bandung)

Jim Adhi Limas dalam  film "Koan of Printemps" (2016) by Lou Ma Ho.

Oleh: John Heryanto

50 tahun sudah Jim Lim meninggalkan dunia teater Indonesia khususnya di Bandung (Studiklub Teater Bandung) sejak tahun 1967 hijrah ke Paris. Bagi genersi paska reformasi tentunya tak ada yang tahu secara pasti siapa Jim Adhi Limas, selain beberapa tulisan di buku-buku yang menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu pendiri Studiklub Teater Bandung yang pergi ke Paris setelah mementaskan Hamlet atau Jaka Tumbal di bulan Agustus 1965.

Diskusi “Migrasi, Geografis, Estetis“ bersama Jim Ahdi Limas yang berlangsung di Bale Darga (23/12) diinisiasi oleh Mainteater Bandung. Sebagai upaya menelisik kembali apa yang luput dari sejarah Teater Bandung sekaligus membaca rekam jejak Jim Lim antara Bandung Paris. Dengan moderator Taufik Darwis. 

Diawal-awal  Jim Lim di Paris (1967-1970), untuk studi teater di bebarapa kelompok teater seperti Moliere Studio dan lain sebagainya. Sepuluh tahun kemudian (1980) di Prancis hingga kini lebih dikenal sebagai aktor Film.  Tercatat sebanyak  29  film bioskop yang ia bintangi  selain untuk Televisi diantara; Nous nous somes rencontres dans un autre reve (1980), La Vraie Histoire de Gerard Lechomeur (1980), T’inquiete pas, ca se soigne (1980), The Perils of Gwendoline in the Land of the Yik Yak (1981), Lunes de Fiel (1992) Diva (1981), Special Police (1985), Le Bounheur se porte Large (1988) Rendes-vous au tas de sable (1989), Massacres (1990), Le Fils du Mekong (1991), L’Educatrice (1995) Anna Oz (1996), Witch Way Love (1997), Death of a Chinaman (1998), Michael Kael Against the Word New Company (1998), Quidam (2004),Victoire (2004),Works (2005), A Monk’s Awakening (2005) Ming of Gold (2006), The Great Alibi (2007), Brendan and the Secret of Kells (2009), Qin’s Great Wall (2009), Pleas Hold the Line We Are Trying to Connect You (2011), Koan of Spring (2013), Koan the Printemps (2016) dan lain sebagainya.


Jim Adhi Limas. Foto: Rahung Nasution
Berdasarkan penuturan Jim Lim, Studiklub Teater Bandung bermula dari pertunjukan “Jayaprana” lantas orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan tersebuat sepakat mendirikan sebuah kelompok (STB) untuk mempelajari lebih jauh tentang teater secara otodidak dan bersama-sama. Selain dari pada berkunjung ke Akademi Nasional Teater Indonesia (ATNI) mengunungi Iwan Simatupang dan berkunjung ke WS Renda di Akademi Seni Drama Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta. Tentunya ketiganya tidak hanya sebatas kunjung mengunjung semata, berdiskusi, saling apresiasi dan lain sebagainya. Namun ketika Studiklub menggarap “Jaka Tumbal” saduran dari Hamlet oleh Jim Adhi Limas dan Koswara. Sembilan puluh persen angota Studiklub Teater Bandung menolak mementaskan naskah tersebut karena terkait dengan situsi politik pada saat itu. Akan tetapi Jim Lim tetap melanjutakn pertunjukan tersebut dengan nama Teater Perintis. Dari situlah kemudian tercipta dua kelompok teater, meski isinya sama saja hanya beda sikap. Sedangkan untuk pendanaan aktifitas teater dimasa tersebut, selain dari udunan tapi juga dari donatur dan beberapa lembaga yang peduli terhadap kesenian. Meski tak dapat dipungkiri di awal-awal kelahiran STB, banyak menerima biaya pertunjukan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk pentas di pasar, dan di ruang-ruang terbuka lainnya seperti naskah “Sangkuriang”-Utuy Tanang Sontani dan lain lain-lain.

Ketika menemukan naskah “Jayaprana” di Paris dalam bahasa Belanda, disitulah Jim Lim teringat kembali akan Indonesia. Tempat dimana ia lahir dan dibesarkan selama 30 tahun. “Jika saya kembali ke Indonesia, tentunya saya tidaklah bisa sebebas berkarya di sini” begitulah ucap Jim. Alasan itu pula yang membuatnya menjadi warga Negara Prancis.

Sebab di Indonesia, tak pernah benar-benar ada sebuah kebebasan bagi setiap orang dalam menentukan pilihan dan sikapnya dalam berkarya.  Hal ini ia rasakan ketika menulis ulasan film-film Soviet dan China di sebuah Koran di Bandung di masa Orde Lama. Banyak  orang mendatanginya karena Jim menyebut film tersebut sebagai propaganda pemerintah bukan untuk pengembangan estetika Film. Bagi Jim Lim, pemerintah yang kiri dan kanan sama saja, pada akhirnya akan mengekang. Kini, si anak hilang itu kembali lagi ke rumah. 

Diskusi ini dibuka dengan dramatik reading " Mununggu Godot" yang dimainkan oleh Jim Adhi Limas dan Wawan Sofwan.  Lantas, apakah Jim Lim akan beteater lagi di Bandung? tak ada yang tahu, namun ia menyebut kedatangannya ke Indonesia untuk "apa yang tidak saya tahu tentang teater Indonesia ketika saya tidak di sini"

Related

Teater 3943739670927089449

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item