POSTER PROPAGANDA DI MASA PRA KEMERDEKAAN HINGGA REVOLUSI INDONESIA: JAYALAH KAPITALIS ATAU ANGKAT SENJATA!

Poster “50 Million Indonesians are being silenced” by Hendrik Pieck (1929) di Netherland.

Oleh: John Heryanto

Poster sebagai karya desain grafis yang memiliki sifat mencuri perhatian, setidaknya orang-orang yang melihat dapat tergugah maupun terlibat secara aktif berdasarkan tujuan dari orang-orang di belakang poster.  Sejak era Perang Dunia 2 hingga kini, poster  menyebar di media sosial. Menjadi komukasi yang efektif untuk menjangkau masa, sebagai pendukung untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Pada masa pra kemerdekaan Indonesia, Kaum anti penjajah maupun penjajah sama-sama membuat poster propaganda dalam mewujudkan cita-citanya. 

Seperti pula hari ini, dimana poster-poster dijalan-jalan maupun di media masa hingga ke sosmed lebih banyak poster kapitalis ketimbang yang menolak. Namun tentunya bukan perkara jumlah tapi terkait dengan strategi dan keberpihakan. Begitu juga di masa kemerdekaan, meskipun poster yang  anti penjajah jumlahnya terbatas. Tapi cita-cita pembebasan menjadi milik bersama antara seniman poster dengan penikmat poster yang tidak bersifat seruan semata. Lebih jauh lagi pembaca poster ikut terlibat secara aktif dalam perjuangan.


Poster promosi wisata dari  “Fly to Java”  dari Royal Netherlands Indies Airways dan "JAVA"  dari Official Tourist Bureau Batavia.
Lahirnya poster propaganda di Indonesia, tak dapat dilepakan dari pengaruh artdeco di masa kolonial hingga masuknya mesin cetak ke Batavia di tahun 1659 yang dibawa oleh para misionaris. Propanganda atau propagare dalam bahasa latin yang berarti memekarkan atau pengembangan.  Sebagai salah satu cara untuk menjalin komunikasi dengan masa.

Mulanya mesin cetak merek “ Faber & Schleinder’ tersebut digunakan untuk mencetak alkitab, buku-buku pendidikan agama Kristen dan berbagai buku lainnya terkait dengan penyebaran agama Kristen di seluruh tanah jajahan Belanda oleh para misionaris Eropa.  Hingga pada masa Daenles barulah banyak surat kabar dan usaha percetakan, baik milih pemerintah kolonial maupun pribumi. 

Sedangkan poster sendiri muncul pertama kali tahun 1744, berupa poster iklan yang dibuat oleh Jan Pieterzon Coen untuk melawan badan usaha milik Portugis yang datang ke tanah  Indonesia.  Selain poster-poster untuk kebutuhan dagang, pemerintah kolonial juga membuat poster untuk lowongan kerja di pemerintahan belanda seperti poster menjadi pegawai kereta, menjadi tentara KNIL, poster wisata dan lain sebagainya termasuk poster melawan Jepang di Indonesia.

Poster lowongan kerja jadi tentara KNIL

Poster “Indie Moet Vrij!" by Pat Coykane Keeely (1960) 

Begitu juga dengan Jepang yang lebih gencar membuat poster propaganda ketimbang Belanda. Selama 5 tahun itulah,  Jepang, tidak hanya membuat poster yang melawan pihak sekutu (Belanda dan Ingris) tapi juga membujuk orang Indonesia untuk secara sukarela dijajah oleh Jepang dengan moto 3A. Nippon Cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon pemimpin Asia. Mulai dari laporan perang melawan sekutu hingga mengajak kaum pribumi untuk dengan bahagia dibawah Jepang.

Poster “Perjalan Pembangoenan Asia Raya" by  PETA (1940) 

Poster "Hail Peperangan Setahun" by PETA (1945)
Sedangkan poster-poster propaganda dari para pejuang anti penjajahan muncul seiring dengan lahirnya pergerakan para pemuda dan kaum terpelajar serta berbagai kelompok pembebasan, mulai dari kaum yang berhaluan anarkism, marxisme, nasionalis serta gerakan keagamaan. Sedangkan di kalangan seniman Indonesia sendiri ditandai dengan lahirnya Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), Seniman Indonesia Muda (SIM), Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI). Serta seniman-seniman yang sebelumnya terlibat diberbagai organisasi pergerakan maupun partai dan individu, sebelum adanya lembaga kesenian.


Poster "Indonesie' Los Van Holland nu" by Kruiningen, Harry van (1933)
Poster-poster propaganda untuk pembebasan indonesia, selain di buat oleh seniman-seniman Indonesia juga dibuat oleh seniman-seniman non Indonesia yang bersolidaritas dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Masa revolusi Indonesia hingga ke Orde Lama (1930-1960an) merupakan masa kejayaan poster propaganda di Indonesia yang mendukung pembebasan. Jika dibandingkan dengan poster propaganda dimasa Orde Baru yang didominasi oleh poster propaganda yang berpihak pada kepentingan modal.

Poster "Darahkoe Merah Ta' Soedi didjajah!" by Partai Nasional Indonesia (1940)

Poster propaganda, pada akhirnya bukan hanya memiliki nilai seni tapi memiliki posisi dan keberpihakan yang jelas untuk apa dan kepada siapa. Terbukti masih relevan hingga kini menjadi media yang akrab dengan publiknya. 

Kita tentunya masih ingat dengan poster "Bung, Ayo bung!" karya Afandi dan Charil Anwar yang membangkitkan semua orang untuk turun ke jalan-jalan melawan tirani. Poster tersebut mulanya berupa coretan di kereta api dari Jogja ke Jakarta dan barulah dibikin poster di tahun 1945 untuk dicetak dan disebar lebih luas lagi. Padahal kata-kata "Bung, Ayo Bung" merupakan kata-kata yang lajim digunakan oleh para pelacur atau pekerja seks di jalan-jalan daerah Batavia dalam menyapa para pelanggan di masa tersebut. 

Poster "Boeng, Ajo Boeng!" By Affandi & Chairil Anwar (1945)

Related

Seni Rupa 9080131603950536824

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item