SEBUAH KOLEKTIV ANARKISM DI ERA PRANCIS MODERN

Potongan adegan film "Lest Anarhistes" (2015) by Eli Wajeman & Gaele Mace' 

Oleh: John Heryanto

“sebab cinta, aku menjadi anarkis” ucap gadis bernama Judit Lorillard (Ade’le Exarchopoulos). Seniman muda dan penuh gairah yang tinggal satu rumah dengan beberapa orang ketika ditanya tentang alasannya menjadi seorang anarkis oleh seorang introgator yang tak terlihat. Begitulah adegan awal film “Lest Anarhistes” (2015) garapan Elie Wajeman, ditulis oleh Elie Wajeman dan Gaele mace’  produksi Prance 2 Cine’ma. Film yang berlatar tahun 1899-an di Paris, ketika maraknya pemberontakan dan kerusuhan di jalan-jalan yang dilakukan oleh kaum anarkis di berbagai Negara di Eropa.

Sebuah film tentang beberapa individu yang berkumpul dalam satu rumah di Paris, sebatas berkumpul tanpa organisasi dan aturan apa-apa selain cita-cita yang sama melawan penindasan dan menolak segala kuasa yang belaku saat itu. Sekumpulan orang yang bercita-cita melenyapkan masyarakat kapitalis dan menggatinya dengan masyarakat sosialis. Tentunya dengan caranya masing-masing dan siap mati di tembak musuh maupun bunuh diri.  Seperti yang dilakukan dalam adegan pengeboman rumah jaksa dimana Elise Mayer (Swann Arlaud) menembakan pistol ke dadanya sendiri sambil berkata “Hidup Anarki!” ketika hendak ditangkap Polisi. Sebab bagi seorang arakis dimasa tersebut, bila tertangkap aparat maka hukumannya ditembak mati dan paling ringan dibuang ke Pulau Setan ‘Ile du Diable’  di Guyana Prancis untuk kerja paksa hingga mati.  

Film ini, sepintas mengingatkan penonton pada Cle’ment Duval (1850-1935) Seorang anarchism prancis yang berteriak “Panjang umur anarki!” ketika dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan.


Potongan adegan film "Lest Anarhistes" (2015) by Eli Wajeman & Gaele Mace'
Film thriller yang berdurasi satu jam setengah ini, tidak mengedepankan aksi laga yang penuh kekerasan, menegangkan dan penuh kejutan ketimbang psikologis seperti pada umumnya film thriller. Namun film ini lebih mengurai keterkaitan antar individu dan dengan situasi yang berlangsung atau bersifat psikologi politik dan lebih dekat ke film noir, dimana moral menjadi suatu yang ambigu.


Adegan pertama dan akhir dalam film “Lest Anarhistes” (2015)  yang menghadirkan pengakuan Judit tentang alasan dan pilihan hatinya menjadi anarkis. Tentunya memberikan kesan romantisme pada masa pemberontakan juga kesan tentang sorang perempuan muda yang liar. Namun perspektif film ini terletak pada seorang mata-mata polisi bernama Jean Albertini (Tahar Rahim) yang sensitiv serta tidak memili sikap dan penuh kebimbangan. Kisah tentang mata-mata polisi yang menyusup ke komunitas anarko namun pada akhirnya tidak memihak pada orang-orang anarko  tidak memihak polisi, semuanya samar-samar dan tak jelas. 

Dalam film ini pula, Prancis abad 19 menjadi kota bohemian dengan bau tembako dan intrik. Begitu juga dengan pakain dengan mode yang tidak sesuai dengan zamannya, seakan mencoba untuk memperbaharui prancis melaui tampilan visual ditambah dengan sondtrack lagu-lagu rock dan rege.

“You think a flat cap and scraf make you an anarchist!“

Begitulah ucap seseorang yang tak bernama pada Jean Albertini, sebuah teks yang sedikit agak melodrama. Namun sekaligus menegaskan bahwa seorang anarkis bukan ditandai dengan topi, pakaian dan sal, apalagi sebuah bendera. begitulah pikir para pelakon dalam film ini.

“….Aku akan bunuh diri setiap aku patuh pada orang dan hukum yang menindas”

Begitulah Elise Mayer menulis dalam buku hariannya, selain dari ungkapan: “Orang-orang selalu menganggap bahwa anarkis itu gila, tapi itu semua karena sistem…seperti pula matematika”

Kaum Anarkis  dalam film ini memilih aksi langsung dengan mencuri dan merampok bank, kaum borjuis dan kapitalis untuk biaya pergerakan juga melakukan serangkayan tindakan langung dan terbuka seperti pembunuhan para pejabat dan aparat pemerintah yang fasist maupun para kapitalis dan lain sebaginya. Atau yang Bakunin sebut sebagai “propaganda by the dead”

poster film "Lest Anarhistes" (2015) by Eli Wajeman & Gaele Mace'

Related

Resensi Film 5793796236315374203

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item