TEATER DALAM PERLINTASAN KATA-KATA

(Catatan Pertunjukan "Barabah" Teater Candu Bandung)

 
Pertunjukan "Barabah" Teater Candu Bandung. Foto: Teater Candu

Oleh: John Heryanto


Lewat dramaturgi sandiwara, pertunjukan "Barabah" lebih intim, dimana peristiwa tidak bertumpu pada laku para aktornya sebagai seorang yang memainkan. Tokoh  Orang Tua cukup ditandai dengan kumis, halis dan jenggot palsu berwarna putih dengan bentuk  yang di lebihkan, distorsi. Begitu juga dengan identitas para pelakon yang lain  yang cukup ditandai dengan aksesori atau pakaian. Peristiwa lebih dititipkan pada kata-kata  yang dihantarkan oleh aktor dengan gerak-gerak yang tidak lah mesti sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh kata-kata dengan musik orkes tujuh belasan. Terasa lebih hidup dan jenaka mesti pada beberapa adegan nampak kewalan mengahdapi narasi yang dipikul.

Pertunjukan ini nampaknya tidaklah berupaya untuk menghadirkan pelakon sebagai seorang yang memainkan peran tapi justru mendorong kata-kata dimulut pelakon sebagai peran sesungguhnya dari sebuah pertunjukan. Sebuah pilihan pemangungan yang cukup idiologis, tidak hanya terkait dengan pilihan ruang yang tapel kuda, tapi juga terkait dengan proses dan ekperimen sebuah kelompok Teater. Walaupun banyak bolongnya, belum seutuhnya matang, namun pertunjukan ini telah menghadirkan kisah tersendiri bagi penikmat tontonannya.

Pertunukan "Barabah" Teater Candu Bandung. Foto: Teater Candu
Pertunjukan “Barabah”- Montinggo Busye, sutradara Heksa Ramdono di GK. Dewi Asri, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (22/12/17). Merupakan sebuah pertunjukan yang diaadakan untuk mempertingati sembilan tahun kekaryaan Teater Candu sekaligus memperingati hari ibu. “Tanah air ku tiadak kulupakan/ Kau terkenang selama hidupku”  Begitulah sebuah lagu mengalun sebagai penanda dimulainya sebuah pertunjukan. Tata panggung yang disusun dari  dari kotak-kotak balok dan tambung yang di letakan secara acak di berbagai sudut panggung dengan dan kotak yang bertumpuk berudak semacam menara berpuncak paying berwarna merah dan di atasnya ada sebuah kelambu berwarna putih. Menjadi pusat perlintasan para aktor sekakaligus pusat narasi di letakan. Artistik yang ekspesis ini tentunya memberikan kemungkinan lain untuk terhubung dengan pintu-pintu peristiwa melalui laku para pelakon di atas panggung.

Pertunjukan “Barabah” Teater Candu, berkisah tentang seorang perempuan muda bernama Barabah (Sartika Putri Zainal), Istri ke dua belas dari Banio (Regi Nurgian), yang berjanji bahwa ini merupakan pernikahan yang terakhir sekaligus sebagai cara si suami memperbaiki kesalahan hidup ditahun-tahun sebelum keduanya bertemu.  Kisah yang bergelindan dalam keseharin, yang remeh-temeh namun terkait dengan hal-hal lain diluar dirinya termasuk kuasa. 

Laku para Pelakon di panggung dengan karkter yang komik. Memberikan keleluasaan tersendiri bagi tubuh aktor dalam mengolah pelisanan kata-kata. Meski nampak sedikit agak deklamasi dan sedikit berlebihan. Namun hal ini nampaknya sengaja dipilih sebagai cara untuk menghantarkan kata-kata pada perwujudan metaphor. Sehingga pandangan penikmat pertunjukan tidak bertumpu pada perwujudan visual pertunjukan semata, melainkan lebih pada kata-kata itu sendiri. Hal ini tentunya menjadi pintu tersendiri bagi para penghayat pertunjukan untuk menemukan lapisan-lapisan teks yang diusung dalam panggung. 

Sedangkan agak belopannya aktor dalam beberapa adegan merupakan persoalan lain, namun bukan berarti untuk diabaikan. Entah karena prosesnya yang terlalu singkat atau karena persoalan yang lain sebagainya. Aktor Reggy Nurgian nampaknya  hadir lebih menonjol dalam pengolahan permainannya ketimbang aktor yang lainnya seperti Sartika Putri Zaenal, Regita dan Ananda Cekcoy. Barangkali karena porsi kehadiran di atas pangung yang berbeda, namun secara umum semuanya hadir dengan penuh totalitas.  

Pertunjukan "Barabah" Teater Candu. Foto: Teater Candu

Pertunjukan Teater Candu diusianya yang kesembilan ini, berbeda dengan pertunjukan Teater Candu yang sebelumnya seperti “Death of Salesmen”-Arthur Miller (2008) yang  digarap secara akrobatik. Dimana narasi dititipkan pada aksi para pelakon. Maupun pertunjukan “Random Girl” – James C Kauffman (2011), yang ekspesif. Tapi Barabah” Teater Candu kali ini lebih mempercayakan peristiwa pada kata-kata. Sehingga aktor hadir sebagai seorang pengantar kata-kata, bukan seorang yang mewujudkan kata-kata dan dikata-kata itu pula kisah dititipkan.

Teater Candu sendiri lahir tahun 2008, yang digagas oleh beberapa mahasiswa ISBI Bandung dari Musik, Seni Rupa  dan Teater di Teater Arena Mundinglaya. Dengan pertunjukan perdananya “Deathwach/Aku Sendiri”- Jean Genet, Sutradara Heksa Ramdono. 

Semalat Ulang Tahun ke-9 Teater Candu Bandung, Semoga Candu tidak lantas selesai ketika peringatan  ulang tahun usai digelar.

Related

Teater 6973655932773471303

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item