THE CORPORATION: LELUCON UNTUK KEHIDUPAN SOSIAL YANG DIATUR UNDANG-UNDANG


Salah satu foto demonstran dalam film "The Corporation" (2003)
Oleh: John Heryanto

“A person without a moral conscience” ujar Noam Chomsky dalam petikan wawancara di film dokumenter “The Corporation” (2003). Film dokumenter garapan Mark Achbar dan Jennifer Abbot, bertolak dari buku The Corporation: the Pathological Pursit of Profit and Power” yang ditulis oleh  Joel Bakan. Seorang professor bidang hukum di University of British Columbia.

Film yang berdurasi 145 menit ini. Berkisah tentang korporasi yang tidak hanya sebentuk evolusi secara historis dari produksi dan distribusi kapitalis. Bermula dari perusahaan-perusahan join stock abad 16 yang bermodal lembaran kertas saham dan investasi, juga sebagai kendaraan untuk mendanai badan usaha kolonial. 

Sebuah korporasi yang tidak hanya diberi hak hukum dan keistimewaan yang melebihi warga Negara. Tidak hanya diciptakan dari orang–orang serakah dan pemeritahan yang jahat, tapi juga terkait dengan relasi sosial dan segala hal yang kompleks. Sesuatu yang bersipat psikotik. Mahluk berbahaya dan berpenyakitan yang siap membunuh apa saja dan kapan saja. Sarana untuk meraih kepemilikan dan kekayaan tanpa batas. 

Sebuah ‘institusi’ yang lahir dari gagalnya mahluk bernama manusia. Selama dua jam setengah itulah, film ini mendiagnosa sekaligus membedah etika bisnis dan patalogi perdagangan  yang disebut korporasi hari ini. Secara subjektif dan liar dengan menghadirkan wawancara pemilik korporat, pemikir, masyarakat, hingga potongan-potongan video, iklan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan korporasi berdasarkan penelusuran dan temuan dilakuakan.

Poster Film "The Corporation" (2013)

Yang Psikopat dan Membabi-buta

“Business will all about taking advantage of circumstances. Corporate social responsibility oxcymoron” (Bakan, Joel hal : 16)[1]

Sebuah korporasi tentu saja tidak akan berangkat beradasarkan moral untuk tidak merugikan orang lain, sosial, maupun aturan hukum. Ia hanya berkutat  dalam cost dan benefit sesuai dengan keinginan. Semakin besar perusahaan bahkan sampai memonopoli maka cost pun dapat dieksternaliasi dan selebihnya tinggal keuntungan. 

Seperti pada umumnya korporasi, ia hanya mengejar keuntungan dari orang lain dan lingkungan yang ada. Maka apapun dilakukan mulai dari pemusnahan manusia hinga pengahancuran lingkungan. Ditambah dengan upah murah yang daripenjualan  bagi para pekerja di dunia ketiga semacam Indonesia, dimana para pekerja dibayar kurang dari 1% penjualan produk yang dihasilkan. Semuanya diekspotasi dan menjadi privasi.

Film ini tidak hanya sekedar menyajikan data-data tentang 1000 perusahan multinasional termasuk di Indonesia. dari perkembangan historis dan kontadiksi sitstem kapital itu sendiri. Hingga pada tingkat yang paling mendasar berupa pengembangan kekuatan produksi dan hubungan sosial produksi yang mentukan  wujud politik dan Negara kapitalis.

Kiranya film ini cocok untuk ditonton bagi siapa saja sebagai cara untuk menertawakan diri sendiri apalagai bagi warga Negara dunia ketiga seperti Indonesia. 





[1] The Corporation: the Pathologikal Pursit of Profit and Power.



Related

Resensi Film 1272061186689299229

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item