UJIAN PERTUNJUKAN BAGI PERTUNJUKAN UJIAN


salahsatu adegan drama 'Penggali Intan'  | Dokumentasi: Perform Doc

DAUNJATI, Bandung (5/1) - Pukul 9.00 WIB ruangan Studio Teater telah ramai, mahasiswa semester lima yang hari itu dijadwalkan UAS penyutradaraan memang sudah menginap sejak malam; sekadar memasang setting pertunjukan dan gladi bersih. Yang meramaikan bukan saja mahasiswa semester lima yang akan UAS, tapi juga para aktor dan awak pentas yang membantu dan berasal dari beragam semester. Tradisi saling membantu memang telah menjadi hal biasa bagi kerja kolektif mahasiswa teater, entah dari kapan. Hari ini sesuai jadwal, pementasan pertama mestinya dimulai pukul sembilan tepat. Namun, karena dosen penguji yang telat hadir dan beberapa teknis yang masih belum selesai, pementasan terpaksa baru dimulai pukul 9.30 WIB. Baik pukul 9.00 atau pukul 9.30, rasanya tidak terlalu berbeda karena pertunjukan ‘Penggali Intan’ karya Kirdjomulyo ini hanya disaksikan oleh sedikit apresiator. 

Terhitung tak sampai 20 orang jumlah penonton yang hadir di dalam Studio Teater. Ini juga terdiri dari peserta ujian yang berjumlah 5, dosen penguji, dan sisanya adalah awak pentas pertunjukan selanjutnya yang menunggu giliran. Situasi yang wajar untuk sebuah pertunjukan tanpa publikasi poster dan diadakan pagi hari. Tanpa publikasi poster, public luas tentu menjadi tidak tau menau sama sekali tentang pementasan ini. Juga jadwal pentas sepagi Jumat Sembilan pagi, waktu di mana banyak orang juga sedang kuliah atau bekerja. Entah ini berpengaruh terhadap performa aktor ketika bermain, tapi apresiator tak mungkin kita lepaskan dari unsur sebuah seni pertunjukan. Bagaimana pun, seni dan seniman mesti dipertemukan dengan apresiatornya untuk sah menjadi sebuah peristiawa seni pertunjukan. Mungkin sepinya apresiator ini dapat disebut sebagai ujian pertunjukan bagi sebuah pertunjukan ujian.  

Tapi Studio Teater pagi itu tetap memiliki kekuatannya sebagai ruang seni pertunjukan. Tata lampu dan setting seperti menarik kita (apresiator) untuk setuju pada apa yang kita lihat, seperti sebuah kesatuan yang menyatu dengan lantai Studio Teater. Apalagi ‘Penggali Intan’  memang drama yang berlatar di pedalaman hutan Kalimantan sekitar tahun 60-an. Konstruksi Studio Teater dan biografinya sebagai ruang seni pertunjukan cukup mendukung citraan yang dibangun oleh artistic ‘Penggali Intan’. Tak lama setelah MC menyebutkan “Selamat menyaksikan..”, drama ‘Penggali Intan’ dimulai. Dan di sini pula lah dimulai kesadaran menonton dihancurkan dan dipindah-alihkan menjadi kesadaran Studio Teater sudah tidak layak dipakai sebagai ruang pertunjukan drama. Bagaimana bisa seorang aktor bisa mengkhayati penuh dan membangun suasana dramatik di atas panggung yang dari arah belakang; dari arah belakang Studio Teater; terdengar kencang suara gamelan dari UAS wayang mahasiswa karawitan? Mau tidak mau, baik aktor maupun penonton, mesti bertarung pada kekuatan menguasai diri untuk terus terjaga dalam imajinasi pertunjukan. Ada tiga penggali intan, tengah hutan Kalimantan dan lupakan dulu suara kencang gamelan; adalah 3 hal yang terus berkelindan di dalam Studio Teater. 

Fakta ini sungguh merugikan bagi praktik seni peran dalam teater realism macam ‘Penggali Intan’. Di mana dalam pertunjukan ini pun, tata suara membantu aktor dalam pembangunan peristiwa melalui sound effect jangkrik, sebagai penanda tempat. Sehingga audio bukan lagi unsur pembangun eksternal untuk penonton saja, tapi juga internal bagi aktor sendiri dalam membangun latar peristiwa. Tidak bisa dibantah bahwa adegan Sunarsih saat ia berkisah pada Siswadi, tentang latar belakang Sandjojo yang sakit hati malahan menjadi komedi ketika juga terdengar suara solo kendang. Telinga penonton maupun telinga aktor tak bisa berbohong, dan drama pun tidak pernah berbohong dalam membangun peristiwanya. Dan drama tak hanya persoalan teks, subteks dan tubuh aktor; ia juga bicara soal suara jangkrik, suara angin, cahaya dari jendela, asap dari dapur, yang semuanya adalah apa yang dibangun dari imajinasi drama itu sendiri. Lalu kira-kira, bagaimana nasib seni peran di atas panggung yang bocor suara gamelan UAS wayang? 

Kalau pertanyaan itu ditanyakan pada para aktor, yang main dalam ‘Penggali Intan’, tentu jawabannya akan sama dengan yang didapat Daunjati, Jadi susah untuk fokus dan membangun suasana! Tapi sayangnya, Daunjati tidak memiliki waktu untuk melakukan wawancara menanyakan ini ke pihak lain perihal kondisi kelayakkan Studio Teater. 

dokumentasi www.isbi.ac.id

Karena kalau boleh optimis, barangkali pihak FSP-Jurusan Teater juga sudah mengetahui kondisinya. Kalau boleh optimis. Kenapa tidak boleh? Orang akhir September tahun lalu, FSP-Jurusan Teater telah mengadakan seminar internasional, yang membahas wacana yang cukup besar. Wacana yang terdengar, seperti sangat peduli pada nasib teater Membaca Teater: Fenomena, Pendidikan, Kebangsaan. Terbayang apa yang dibahas dalam seminar internasional ini? Kalau terbayang, artinya anda memang telah paham tentang teori teater absurd: bahwa kehidupan ini irrasional dan tujuannya tak perlu jelas, terbukti dalam judul seminar ini. Alih-alih membahas tentang fenomena teater yang terjadi di setiap negara, Deddy Mizwar, aktor film yang sukses dalam film Nagabonar itu berdiri tegak sebagai keynote speaker, mewakili suara Indonesia. Ia bilang bahwa seni pertunjukan mampu menjadi masa depan ekonomi negara. Asumsi ini dasarnya karena seni pertunjukan termasuk dalam ekonomi kreatif. Namun, menurut Pak Nagabonar, kontribusi yang baru ada dalam ekonomi kreatif itu baru di  tiga sub sector: industri kuliner, fashion dan kriya. “Baru 0,26% saja kontribusi seni pertunjukan..”, ujar Pak Nagabonar. Maka, lanjutnya, sintesa dari semua fakta ini, adalah: “Saya kira teater bisa di mana saja, diharapkan teater dapat dipentaskan di sekitar kawasan wisata dengan mengangkat kearifan lokal sehingga menjadi daya tarik baru wisatawan. Di saat yang sama teater berkembang dan menjadi daya tarik wisatawan.” 

Pak Nagabonar barangkali tidak melakukan riset mendalam terlebih dahulu sebelum menyampaikan ini. Bahkan fenomena yang faktual pun tidak Pak Nagabonar ketahui. Bahwa teater kita sudah sejak lama pentas di beragam tempat. Soal kearifan lokal juga bukan hal yang tak pernah terpikirkan. Pak Nagabonar barangkali tak pernah membaca Teks-Drama Kirdjomulyo, Utuy Tatang Sontani atau pun Arifin C Noer? Kesibukan seorang pejabat elit memang tidak mungkin punya waktu, untuk datang ke Gd Rumentang Siang menyaksikan pentas drama bahasa sunda. Atau, datang ke pementasan Teater Payung Hitam, yang bukan hanya menarik wisatawan, malah justru sudah sering pentas di luar negri. Juga, memang di hadapan seminar internasional, barangkali bukan hal keren untuk membahas infrastruktur teater kita yang masih sangat minim. Maka dari itu, narasi-narasi optimis adalah yang dipilih, karena itu yang paling pas. Biarpun abstrak dan tidak jelas (baca: absurd). 

Atau kita tanyakan saja pada FSP-Jurusan Teater, mewakili keresahan mahasiswa yang sedang praktik seni peran pagi tadi. Apakah mungkin, wacana kebocoran gamelan UAS wayang ke dalam Studio Teater yang sedang mementaskan drama, bisa dibahas dalam seminar internasional selanjutnya? Sebaiknya tidak perlu dijawab saja, karena jawabannya sudah pasti tidak. Atau malah, barangkali, kita sudah mesti terbiasa saja, untuk bertarung pada kekuatan menguasai diri untuk terus terjaga dalam imajinasi? Seperti saat menonton drama ‘Penggali Intan’ dengan kebocoran suara gamelan dari UAS wayang. Fokus bangun imajinasi di atas panggung. Fokus dan bangun imajinasi yang baik pada panggung (elit) teater kita. Pertanyaannya: sampai kapan? 

Tentu sampai kita memulainya. Kalau Siswadi bilang, yang menguasai dan mengubah nasib kita adalah kita sendiri. Jangan seperti Sandjojo, yang terus menerus menunggu keajaiban datang. Mustahil.

ditulis oleh:  Nofal, LPM Daunjati 

Related

Teater 7780708735871479594

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item