GENERASI Z BUTUH TEMAN YANG NYATA

IMG20180422134406
Pertunjukan 'Sky In The Bray' Teater Kompeni, dalam Festival Teater Remaja 6  foto oleh Fahad

DAUNJATIONLINE.COM - Minggu (22/04) Teater Kompeni dari SMKN 1 Bogor menjadi pertunjukan pembuka bagi helatan Festival Teater Remaja, mereka mementaskan pertunjukan yang diberi judul Sky In The Bray dengan Ayenk sebagai sutradaranya.

Seorang guru yang sedang mengajar kewalahan menghadapi siswa-siswanya yang selengean, mereka malah asik sendiri dengan smartphone yang mereka genggam. Ketika gurunya marah mereka malah bertindak tidak wajar, mereka membuat gaduh seperti membuat video terhadap gurunya. Suasana kelas menjadi kacau, di sini sutradara membuat karakter guru menggunakan bahasa verbal-simbolik, dengan kalimat hanya satu dan kosong. Sementara siswa yang badung dan termakan oleh jaman dan teknologi, berbahasa gaul dan angkuh. Siswa terdiri dari 8 orang, salah satu siswa berbahasa verbal-simbolik sama seperti sang guru: hanya satu dan kosong. Para penonton dibuat menjadi berfikir apa maksud dari bahasa simbol yang digunakan oleh kedua karakter itu. Ternyata, kedua karakter itu menggambarkan seseorang yang intelektualisasinya tinggi dibanding karakter tokoh lain yang sudah termakan oleh teknologi.

Pertunjukan berjudul “Sky in the bray” yang dipentaskan oleh Teater Kompeni ini mencoba menawarkan sebuah pertunjukan sur-realis, dengan latar belakang kehidupan Generasi Z pada saat ini. Mereka juga menawarkan artikulasi-artistik, dengan memaksimalkan tubuh dan kata-kata secara seimbang. Terbukti, pertunjukan berjudul “Sky in the bray” dalam setengah jam awal banyak mengeksplorasi konsep ketubuhan yang minim bahasa-verbal.

Selain itu, penonton juga dimanjakan oleh konsep artistiknya. Seperti, nuansa lampu yang bercampur aduk dengan warna properti, memukau dengan teknik glow in the dark di beberapa bagian artistik. Penonton dibuat terpukau dengan itu semua.

Cara aktor mendekati tema Generasi Z ini, terasa berhasil dengan yang sedang terjadi di lingkungan sosial saat ini. Aktor memainkan adegan dengan cukup cermat dan disiplin, itu membuat semua yang menonton menjadi terhibur.

Pertunjukan diawali dengan “Welcome to Mobile Legend”, suara itu terdengar ketika lampu belum dinyalakan dan membuat penonton menjadi penasaran. Lampu menyala, terlihat seseorang di dalam sebuah kotak yang sedang memainkan game mobile legend dengan sangat konsentrasi dan tidak memperdulikan sekitarnya. Sementara di sisi kiri dan kanan ada dua orang yang sedang berkoreografi, itu semua menjadi kolaborasi pas yang tersaji di atas panggung. Musik hadir sebagai latar yang membuat kesan berenergi.

Di akhir pertunjukan suasana menjadi sangat dramatis, semua siswa yang sedang menikmati suasana malam dan menikmati kecanggihan teknologi menjadi kebingungan, saat salah satu dari mereka hilang, juga seluruh perangkat media sosial mereka yang juga ikut hilang. Ketika mereka mencari teman mereka yang hilang, tibalah adegan di mana teman mereka ternyata sedang mengalami persidangan atas perbuatannya, karena telah meng-hack seluruh perangkat media sosial. Yap, dia adalah satu-satunya murid yang intelektualisasinya tinggi, dibandingkan yang lain yang hanya terpengaruh (dampak buruk -red) teknologi. Alasan ia meng-hack karena ia butuh teman. Teman yang nyata.

[Fahadfa AlfajWartawan Magang Daunjati]

Related

Teater 1054605004216629568

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item