JPRUTT & SENI TONTONAN YANG MENGUGAT DIRI SENDIRI

Pertunjukan "Jprutt" Karya/ Sutradara Putu Wijaya - Teater Mandiri di TIM. Foto: Kristo

Kisah bermula dari  dalam rumah kelurga Pak Amat.  Rumah dengan sebuah kursi dan meja yang berada di tengah panggung mejadi pusat percakapan, menjadi ruang tamu. Ruang dimana pertemuan dan persoalaan tumbuh  dari ‘kebolehjadian’, sebuah prasangka dan kesalahpahaman dari surat yang dibaca di ruang tamu keluarga. Sebuah peristiwa kekalutan, tiba-tiba meraung-raung, Pak amat yang tiba-tiba meradang, Prof Co yang tiba-tiba tertekan dan kelimpungan, dan Bunda Agung menjadi mengebu-gebu. Semua orang menjadi repot, terdesak dan mencari sesuatu yang luput, megingat-ngingat, menatap cermin berkali-kali. Kekacauan yang bermula dari esai Ami untuk sebuah surat kabar  di bali, yang dikira pesan terakhir frop Co sebelum pulang ke Amerika untuk keluarga Pa Amat. Sebuah kesalahan mengambil surat menjadi cara menelisik kekurangan diri  sendiri. Dari kehidupan berbangsa setelah 73 tahun merdeka. Seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami atau berjumpa “gajah di pelupuk mata tak tampak” menjadi terasa dan hadir tiba-tiba dan menujuk ke diri sendiri sebagai “Bangsa pemalas, semuanya akan bergerak ketika ada gejolak… bermental budak, bangsa yang tak siap merdeka”.  Begitulah kisah “Jprrut” –nya Teater Mandiri, bergulir selama 90 menit di Teater Kecil TIM (29/4).

Seperti pula judulnya, “Jprutt” merupakan peristiwa yang tiba tiba konslet, ngajepret,  putus, situasai yang menggedor-gedor sekaligus penuh kelucuan. Teks-teks penuh argumentasi dari setiap pelakon atas apa yang diyakininya dan kelucuan dari situasi yang menghimpit dengan laku aktor yang konyol. Seperti adegan seorang suami yang menerima empat telepon dari tangannya saat berbicara dengan istrinya, percakapan menjadi semerawut karena yang ditelepon dengan yang ada dihadapan sama-sama memiliki tempat dalam sebuah percakapan. Begitu juga dengan berbagai adegan lainnya. Dan musik hadir berbelihan, pembesaran dari laku aktor seperti bunyi pukulan yang dihantamkan Pak Amat ke udara.  Dengan cara itu pula penonton dibuat  sadar,  yang dilihat di panggung  semata-mata hanya tontonan, tanpa didikte, dan tetap memelihara kekritisan penonton. Atas peristiwa yang hadir di atas panggung yang serba tiba-tiba kacau, chaos, kegilaan para pelakon, teks yang menyerang, mendesak siapapun.  Hal semacam inilah yang Putu Wijaya sebut sebagai “Teror Mental”.

Kelas Penuyutradaraan 4 dan Pemeranan 6,  Prodi Teater ISBI Bandung bersama  Putu Wijaya di TIM, sebelum pertujukan "Jprutt".  Foto: John Heryanto 

Peristiwa “Jprutt”  di atas pangung  bertumpu pada  plot dan kelihaian pelakon memainkan perannya atau laku aktor. Dan  tata artistik hadir sebagai pelengkap yang boleh ada dan boleh juga tidak ada. Strategi pemanggungan yang diambil dari teater rakyat, dari kebudayaan bertutur dimana yang utama hanyalah laku dan plot cerita.  Hal ini diakui Putu Wijaya sebagai “ siasat dari teater yang bersahaja, teater yang bisa hadir dan pentas dimana saja tanpa lampu, make-up, kostum, property dan lain-lain bukan memiskinkan tapi memang kehidupan kita miskin, maka yang ada itulah yang mesti kita berdayakan lebih dulu seperti halnya teater tradisi kita”. Dengan cara ini pula Putu Wijaya mencoba mengembalikan panggung sebagai sesuatu yang kosong, yang tak perlu didandani. Sehingga Aktor dan kisah memiliki kemungkinan lain, yang senantiasa tumbuh dan bernegosasi terhadap keadaan.

Sepintas pertunjukan “Jprrutt” kali ini, penonton seperti diajak kembali ke ‘realis’-nya‘Teater Mandiri’ tahun 70an,  sebelum priode layar  atau Yohanes sebut “Teater Piktografik”. Sebuah pilihan yang politis dalam merawat dan menjaga keberlangsungan sebuah kelompok teater dalam menyisati zamannya. Sebuah pemanggungan yang Putu Wijaya sebut sebagai “Tradisi Baru”  yang senantiasa mencari bahasa dan kemungkinan  daya ungkap, tontonan yang menghibur sekaligus sebagai pengayaan batin.     


[ John Heryanto / LPM Daunjati]

Related

Teater Mandiri 7029884701549719487

Posting Komentar

emo-but-icon

item