MEMBAWA DUNIA NETIZEN KE PANGGUNG, TAPI NANGGUNG

Pertunjukan "Ini" Teater Hujan Gerimis, Minggu (22/4)  foto dari Dokumentasi FTR 6

"Kau mungkin menganggap adegan semacam itu hanya berlangsung di atas panggung, sebagai suatu perkecualian, tapi penonton akan keliru dengan menganggap perkecualian itu sebagai kelaziman."

DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (23/4) Kalimat di atas merupakan kutipan dari buku Max Havelaar karya Multatuli halaman 23. Kalimat itu adalah perkataan Max Havelaar, tokoh yang diciptakan Multatuli dalam novelnya, sebuah opini Max Havelaar terhadap karya sastra dan teater yang populer. Tokoh Max Havelaar memang mempunyai sentimen--kalau boleh saya sebut sentimen--terhadap teater, khususnya drama. Sebenarnya ia tidak benci drama, tapi yang ia benci adalah kebohongan yang terus menerus ditampilkan yang membuat penonton mengalami kemerosotan moral ketika memaklumi kebohongan itu. Dan itu lah yang langsung terbayang oleh saya saat pertama kali duduk di bangku penonton, di pertunjukan ke-3 FTR 6 hari pertama; pertunjukan Teater hujan Gerimis berjudul "Ini". Sebab, bekal dari memori FTR tahun-tahun sebelumnya, saya sering melihat teater remaja dalam FTR sering mengalami kegagalan karena dominasi sutradara terhadap para aktornya yang begitu besar, sehingga yang terjadi adalah pemaksaan gagasan kepada para aktor, yang bisa jadi sebenarnya para aktor yang masih remaja ini tidak paham apa yang diinstruksikan sutradara: mereka nurut-nurut saja, karena sutradaranya lebih tua umurnya dari mereka, itu yang dikatakan kurator FTR 5, Taufik Darwis. Tapi opini Max Havelaar yang kepalang nempel itu, saya upayakan untuk hilang dulu dari kepala saya, agar saya bisa menonton pertunjukan “Ini”-nya Teater Hujan Gerimis tanpa bayang-bayang kecurigaan dari memori FTR tahun-tahun sebelumnya. Layar dibuka, lampu dan asap buatan muncul di panggung.

Layar Tipu Daya bagi Teater Hujan Gerimis

Adegan awal dimulai dengan menampilkan slideshow foto-foto wajah aktor secara closeup di layar proyektor, 10 aktor masuk dan bergerak acak, sambil memegang layar ponsel yang nyala lampu senternya. Beberapa ada yang seperti mencari sinyal, ada yang seperti sedang selfie, dan ada yang seperti menari. Dalam adegan ini, gerak dan perpindahan posisinya separuh gerak realis (mencari sinyal ponsel dan selfie) dan separuh lagi gerak koreografi (menari, pose dan grouping). Setelah itu, semua aktor keluar panggung. Panggung kosong selama kira-kira 3 detik. Para aktor muncul lagi, berjalan ala model di runway, genit dan narsis. Para aktor berbaris, membelakangi penonton, 2 aktor lalu maju ke mulut panggung, membuka kostum terluarnya dan membiarkannya tergeletak. Disusul aktor-aktor lain secara bergantian, hingga semua aktor melakukan adegan tersebut; ke mulut panggung, membuka kostum terluarnya dan membiarkannya tergeletak, hingga akhirnya semua baju menumpuk di depan. Dari jaket menjadi kemeja berdasi, mantel menjadi kebaya, kemeja menjadi kaos oblong, gaun tanggung menjadi rok ketat, gaun panjang menjadi gaun panjang lagi, baju panjang menjadi rompi olahraga dan celana panjang menjadi celana boxer.

Adegan lanjut dengan kesibukan menggunakan ponsel. Ada yang mendengarkan mp3 melalui headset ponselnya, ada yang berpose selfie, ada yang bermain ponsel sambil jongkok seperti sedang buang air besar dan yang lain beraktivitas sibuk-sendiri bersama ponselnya. Adegan ini juga didukung dengan teks-teks dari media sosial yang sangat sehari-hari; teks dari dunia netizen. Seperti teks postingan nyinyir temen sekomplek, komentar prilaku corat-coret tembok (vandalisme) dan maraknya gangster motor, postingan nyinyir anak SD yang merayakan anniversary dengan pacarnya, sampai berita viral ancaman tentara terhadap netizen yang dianggap menghina tentara. Teks dari dunia netizen, yang viral dan populer. Semuanya dilontarkan sebagai usaha bahwa aktor-aktor dalam adegan yang sedang saya saksikan, adalah netizen dalam linimasa facebook saya, linimasa yang dipenuhi konten line today atau, netizen dalam kolom komen di feed instagram saya; yang saya tidak mengenalnya, tapi tetap saya lihat, dan mengharap hiburan dari yang mereka lontarkan. Usaha mengimajinasikan dunia netizen dipindahkan ke dunia panggung oleh Teater Hujan Gerimis tidak berhenti di situ saja. Adegan setelahnya menghadirkan tokoh bernama Fahri, yang pertama kali muncul lewat video dari layar proyektor. Fahri di panggung ini, adalah Google dalam dunia internet. Fahri langsung diserang pertanyaan oleh para aktor. Dari mulai pertanyaan di mana rumah Ayu Ting-Ting, berapa harga operasi ganti kelamin, harga baju Mimi Peri (selebgram yang sedang viral -red), cara move on dari kenangan, sampai terjemahan kalimat dari bahasa Sunda ke Thailand.

Fahri kemudian muncul secara nyata, bukan lagi dalam video. Ia muncul dari arah penonton, membawa keranjang di perutnya, kedatangannya layaknya superstar yang dicintai fansnya; para aktor di panggung. Ketika sampai di atas panggung, Fahri lalu membagikan selembar kertas kepada tiap aktor dari dalam keranjangnya. Setelah itu, Fahri duduk, dan para aktor membacakan kertasnya secara bergantian. Isinya, layaknya membuka Google: para aktor membaca kode promo layanan ojek online, tutorial mencuci pakai mesin cuci, cara menjadi gendut, dan sebagainya, secara bergantian. Tiap selesai membaca isi kertas, aktor kemudian memasukan kertas tersebut ke keranjang Fahri dengan bilang “Upload!”, tanda yang memperlihatkan dengan vulgar bahwa sedang dibayangkan, para aktor adalah netizen, dan Fahri adalah Google.

Adegan selanjutnya, para aktor bertanya pada Fahri, pertanyaan seputar hal yang sebelumnya telah dikatakan oleh aktor lain ketika meng-”Upload!”. Misalnya, ada aktor yang bertanya soal transportasi online pada Fahri, pertanyaan tersebut langsung dijawab Fahri dengan memberikan kertas milik aktor lain yang telah di-”Upload!” pada Fahri, yaitu kertas kode promo layanan ojek online. Begitu juga aktor lain. Dari adegan ini saya melihat, Teater Hujan Gerimis mencoba memperlihatkan sistem kerja pengguna internet, atau kalau boleh saya ciptakan istilah: simbiosis-netizenisme. Sebuah sistem kait-erat dan saling-terhubung antar netizen yang membayangkan, Fahri adalah Google, sebagai pihak ketiga dari hubungan tiap netizen.

Penggambaran dunia netizen dalam adegan ini, pasca pertunjukan juga dibahas bersama kurator dan seluruh awak pentas pertunjukan. Salah satu aktor bilang "Google itu seperti tempat sampah sebenernya, yang diisi oleh kita, dan dipungut lagi oleh kita". Pernyataan ini semacam menjawab mengapa Fahri menggunakan keranjang mirip tempat sampah sebagai kostumnya. Tapi, jika dinilai opini barusan, bisa benar, bisa juga tidak. Karena sebenarnya, selain menjadi media berkembangnya hoax, yang bisa disebut sebagai sampah internet. Google, lebih luasnya dunia maya, telah banyak membantu perkembangan informasi dan pengetahuan. Literasi, musik, film, dan gambar bisa dengan mudah kita temukan lewat google. Potensi banyak orang juga banyak terbantu oleh adanya kemajuan teknologi bernama internet ini. Selain itu, media sosial juga tak sepenuhnya buruk, FTR ini salah satu jalan mengadakannya, memakai media sosial sebagai alat informasi dan komunikasinya. Maka sebenarnya sampah dan chaotic yang sedang diangkat oleh pertunjukan "Ini", sebenarnya konsekuensi dari kemajuan teknologi itu sendiri.

Pertunjukan ini sebenarnya sempat saya simpulkan sedang mengangkat dunia netizen, yang viral dan populer, ke atas panggung. Lewat tubuh remaja dan narasinya yang rentan. Sampai, pertunjukan masuk pada adegan romansa picisan, yang membuat alur pertunjukan merenggang-jauh dari bagian sebelumnya. Bagian yang saya maksud ini adalah ketika Teater Hujan Gerimis mencoba penyampaian narasi-cerita melalui media video, yang, secara penguasaan teknis atas medianya tidak begitu baik. Ditambah dramatik yang tidak terjaga, membuat alur pertunjukannya semakin buyar. Walaupun pada akhirnya, bagian romansa picisan itu ternyata sebagai narasi-latar belakang fenomena bullying media sosial, terhadap perempuan yang dihamili pacarnya, yang masih bersangkut paut dengan tema dunia netizen, yang viral dan populer. Sepertinya, sebab utamanya ada pada pekomposisian adegan, lebih luasnya pekomposisian ide yang dikerjakan kurang baik, sehingga membuat alur pertunjukan menjadi tidak jelas. Seperti komentar Riyadhus Shalihin, salah satu kurator FTR 6 tentang pertunjukan ini: "Sebenarnya, fungsi sutradara mestinya bisa menyelesaikan problem ini, membuat komposisi ide."

Dalam diskusi pasca pertunjukan bersama kurator, perwakilan panitia dan seluruh awak pentas “Ini” Teater Hujan Gerimis, setidaknya ada dua poin penting yang menjadi catatan saya. Pertama, Riyadhus berharap para aktor yang remaja ini bisa paham apa yang mereka lakukan di atas panggung. Kenapa tarian, kenapa video, kenapa begini dan begitu. Itu bisa terjawab jika diskusi intim bersama sutradara itu dilakukan. Kedua, dalam proses kreatifnya, Teater Hujan Gerimis mengakui bahwa sutradara dan para aktor menggunakan metode penciptaan on location, atau menciptakan ide dan bentuk di saat latihan secara langsung. Catatannya adalah, dalam proses ini tidak ada pencatat adegan yang menjadi notulen hariannya. Sehingga efeknya, alur pertunjukannya menjadi terlihat tidak rapi, karena tidak ada catatan prosesnya. “Jangan terlalu percaya pada ingatan”, kata Riyadh pada para aktor remaja Teater Hujan Gerimis.

[Nofal/Wartawan Daunjati]

Related

Teater 8886961900486558012

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item