PESTA MASALAH DAN IMPIAN KEBEBASAN REMAJA

Pertunjukan "Z=Zero=Z.com" Teater Satu Jam, di FTR 6. Foto oleh Ariyanti Rani

"Pesta dansa lebih baik dari baca buku.."

DAUNJATIONLINE.COM - Bandung, Jumat (27/4) Pada hari kedua gelaran FTR 6 yang berlangsung di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung, Teater Satu Jam dari SMAN 1 Telukjambe Karawang mementaskan "Z=Zero=Z.com". Pementasan yang jika melihat dari judulnya sedang merespon tema yang diusung Festival Teater Remaja kali ini, yaitu "Ada apa dengan Z?", tema yang konon diharapkan mampu mendorong teater remaja benar-benar remaja. Dekat dengan persoalan remaja, tidak berjarak antara teks dan tubuh si remaja dan sesuai dengan kondisi objektif generasi z. Generasi yang lahir setelah kemunculan internet, generasi yang hari ini sedang mengecam pendidikan sekolah menengah akhir putih abu-abu.

Pertunjukan "Z=Zero=Z.com" sedari awal ingin membicarakan banyak sekali persoalan. Dari mulai persoalan prostitusi online, politik pendidikan, politik praktis, keluarga, kebebasan, narkoba dan mabuk-mabukan, sinetron, sampai nasionalisme. Hal itu terlihat dari pemilihan tata artistiknya. Menggunakan scaffholding untuk membuat sebuah ruang bertingkat tiga, dengan kamar-kamar di setiap ruangnya. Ruang-ruang tersebut menempatkan seorang subjek bersama persoalannya. Ada satu ruang berisi seorang Ibu, dalam ruang tersebut Ia mencuci dan memasak, sambil menceritakan persoalannya menjadi Ibu sekaligus istri, yang melarat dan menderita. Ruang sebelahnya, di jajaran yang sama yaitu jajaran paling bawah, ada ruang berisi anak perempuan. Ia memakai seragam sekolah, teralienasi dengan lingkungan sosial sekitarnya, Ia marah sambil mengkritik situasi politik, tapi entah situasi politik yang mana, dan pada siapa dia berpihak: penguasakah atau rakyat. Anak perempuan ini ini juga sesekali bergerak, sensual.

Jajaran setingkat di atasnya, yang ruangnya berada di tengah diisi oleh seorang laki-laki. Anak muda, kadang mewakili narasi-milenial ala politikus muda di Partai Solidaritas Indonesia: bersemangat, mengkritisi golongan tua tapi juga dengan argumen-argumen yang tumpul. Kemarahan juga muncul dalam ruang ini, tapi tidak terlalu dominan karena diselingi dengan tubuh milenial yang khas generasi z. Vlogging, haus popularitas dan bermental selebritis-maya. Ruang ini mestinya menjadi pokok dengan posisinya di centre. Namun, ia menjadi tidak kuat karena gagasan yang diucapkan tokoh dalam ruang ini tidak begitu jelas. Ia bahkan tak jauh beda dengan gagasan di ruangan lain: mengkritisi situasi politik yang besar.

Ruang yang ditempatkan paling atas berjumlah tiga buah ruang. Tingginya kira-kira sekitar 6-7 meter, penonton yang berada di kursi balkon tidak mampu melihat wujudnya. Ruang paling kiri di tingkat ini berisi seorang anak perempuan. Ia pelajar, memasang poster tuntutan “Tolak Full Day School!”, memegang toa, mengikat kepala dengan dasi, dan berorasi. Adegan ini barangkali bisa lebih maksimal jika Teater Satu Jam melakukan observasi pada aktivitas yang dilakukan Aliansi Pelajar Bandung (APB). APB adalah organisasi pelajar di Bandung yang sudah melakukan aktivitas politik, salah satunya adalah kampanye soal komersialisasi pendidikan di AlunAlun Bandung setiap hari Jumat. Ruang di sampingnya yang berada di tengah diisi oleh tokoh yang sejak awal membicarakan persoalan-persoalan normatif. Tata cahaya yang dipakai warna merah, teks-teks yang diucapkan tegas. Ia bicara soal norma, moral dan kritik yang tegas terhadap ‘prilaku’ remaja. Tapi tokoh di ruangan ini memakai seragam sekolah. Satu upaya yang lumayan aneh karena mengundang pertanyaan: siapa orang ini?

Ruang paling kanan-atas diisi tokoh yang berasal dari golongan tua. Seorang bapak-bapak, dengan pakaian safari, dengan kursi dan meja kantor. Bapak-bapak ini bercerita soal keluh-kesah hidup tentang menjadi seorang birokrat sampai keluh-kesah menjadi suami.

Di luar semua ruang dan segala problematika masalahnya yang banyak dan liar, ada sekelompok anak remaja SMA, yang lebih bebas, tidak terikat dengan sekat-sekat ruang. Mereka semacam geng begajulan sekolah, dengan satu orang anak yang baik, sebuah komposisi yang klise. Anak-anak ini menggugat norma keluarga, mempertanyakan fungsi sekolah, mengindahkan masa depan, dan lebih suka melihat layar android, yang berisi tontonan tentang banyak problematik: ruang-ruang yang disebutkan di atas. Anak-anak ini lewat layar android mereka bisa melihat kemarahan seorang anak perempuan, protesnya seorang anak SMA, nyinyirnya seorang pemuda dari blog pribadinya, curhatan seorang Ibu rumah tangga, dan skandal korupsi Bapak-bapak birokrat. Semuanya dinikmati sebagai tontonan yang berlalu begitu saja. Ketika mereka anggap sedikit ‘serius’, konten langsung diganti. Mereka benar-benar digambarkan sebagai kelompok remaja nakal. Mereka mem-bully­ anak lain, ‘si kutu buku’ dan ‘si gendut’. Mereka juga mabuk-mabukan. Semua aktivitas yang kelompok ini lakukan, selalu didebat oleh seorang bernama Ajeng, salah satu dari mereka yang lebih suka membaca. Ajeng mengkontradiksikan semua yang dilakukan teman-temannya sebagai akibat malas belajar, malas membaca, dan tidak memiliki nasionalisme.  Narasi normatif, yang asalnya dari rumah; keluarga. Narasi yang biasanya diperkuat oleh institusi pendidikan: guru sebagai 'orangtua' di sekolah. Orangtua yang konsepnya berasal dari sistem keluarga yang juga dipakai oleh konsep institusi pendidikan. Remaja yang dikepung orangtua 24 jam. Orangtua yang tidak pernah membuat para remaja senang. Seperti yang sering dikampanyekan Ajeng soal harus ini dan harus itu. Semuanya tentang patuh, baik pada moral orangtua di rumah maupun moral orangtua di sekolah.

Pada bagian akhir, geng remaja ini minum-minuman keras, mabuk, dan meracau. Semuanya mengeluarkan kemarahannya soal hidupnya sendiri. Ada yang karena muak dengan keluarganya, yang serba kecukupan. Menengah atas, berkunjung ke rumah nenek seminggu sekali, Ibu yang memanjakan anaknya atau lebih tepat: istri yang manja pada suaminya, yang 'menjual' anak-anaknya sebagai dalih untuk berboros-borosan. Belanja dan jalan-jalan ke luar negeri. Semua dia bilang "demi anak" kepada suaminya, ayah si anak ini. Anak ini benci pada kebercukupan keluarganya, yang membuatnya hidup dalam keborosan dan kesombongan setiap hari. Hingga pada akhir ceritanya, ayahnya tertangkap polisi karena kasus korupsi yang besar. Selain anak ini, temannya dalam kelompok itu juga meracau sambil sempoyongan. Kecuali Ajeng, anak 'pintar' dalam geng itu, ia menutup kuping dan kesakitan. Di bagian ini cerita seperti meminta kita (penonton) agar empati kepada Ajeng yang membawa narasi belajar, membaca, dan nasionalisme. Tapi sayangnya hal yang terjadi adalah narasi ngawur, berani, dan bebas lah yang dominan. Narasi yang dimiliki geng ini. Karena dialog-dialog mereka yang sering kali mengundang tawa dan senyum penonton. Efek yang mungkin bisa dibaca sebagai tanda mana yang dekat dan mana yang asing. Narasi geng yang lebih jujur tentang situasi sosial, jujur dalam arti menggambarkan problematika yang (memang) ada di sekitar remaja, ketimbang narasi normatif yang lebih cocok berada di meja makan sebuah kumpul keluarga: kolot dan nggak gaul banget!

Seluruh cerita pertunjukan ini sebenarnya bermain di antara dua buah tema besar: keluarga dan sosial media. Dengan remaja sebagai subjek utamanya. Alih-alih menempatkan empati penonton pada remaja yang bermasalah-sehingga menjadi badung, Teater Satu Jam memunculkan tokoh Ajeng yang intelek dan nasionalis, tapi sebenarnya tidak pernah berbuat apa-apa dan tidak memiliki masalah apa-apa. Ajeng teralienasi dari problem sosial di sekitarnya, juga teralienasi dari identitas remajanya sendiri. Nahasnya, tokoh Ajeng pun hilang dalam narasi yang ikut terpotong-hilang, digantikan oleh tokoh yang benar-benar baru. Tokoh yang memakai seragam, seorang laki-laki. Ia seorang pemuja kebebasan. "Terbebas dari segala belenggu apapun..", yang menelisik latar-belakang 'kenakalan' geng remaja ini yang sebenarnya bukan sebuah kenakalan yang sadar. Mereka masih menganggap keluarga sebagai segalanya, apa yang mereka lakukan hanya omong-kosong saja. Bukan sebuah penolakan sesungguhnya terhadap sistem keluarga. Berat dan rumit. Sebuah kebebasan tanpa belenggu apapun, memangnya bisa? Sedang semua orang hanya mengeluhkan masalahnya tak ada yang menyimpulkan akar-akar soalnya hingga menemukan solusi untuk mengubahnya. Ada yang menawarkan solusi, tapi solusi yang tidak berasal dari kenyataan. Pertanyaannya, memangnya bisa?


[NofalWartawan Daunjati]


Related

Teater 5539804669254944617

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item