POLITIK REMAJA DALAM TEATER REMAJA



Pertunjukan "03:30" Teater Gawe SMKN 3 Tasikmalaya, dalam Festival Teater Remaja VI. Foto: Muhammad Arief.
DAUNJATIONLINE.COM – Bandung (24/4) Sekumpulan pelajar yang sadar bahwa sekolah telah membuatnya menjadi segerombol mayat tanpa jiwa, remaja yang dihimpit keadaan, yang para aktor sebut “tugas-tugas sekolah… tugas?...persoalan orang tua, persoalan rumah yang tak berkesudahan” sambil berlari membawa box-box, diburu denting lonceng dan pluit. "Semata menciptakan siswa yang menghapal dan mengerjakan tugas”, untuk siap kerja atau 'sukses'Begitulah sebuah pertunjukan “03:30” dari Teater Gawe - SMKN 3 Tasikmalaya, di mana adegan pertama dimulai dengan panggung kosong dan gelap, lampu biru, dan bunyi tetabuhan yang dibawa angin. Lantas segerombol orang berlari kecil membawa box-box dengan berbagai ukuran. Sebuah kotak box yang dapat menjelma apa saja dalam setiap adegan. Tata artistik yang tidak hanya estetis namun juga politis. Sesuatu yang kaku, yang menjerat setiap gerak remaja di dalamnya sejenis ‘mimipi buruk’ dari tidurnya seorang gadis berbaju pink yang menangis dalam dekapan ibu, dalam gelap.


Apa yang mesti dilakukan seorang remaja ketika ketegangan demi ketegangan terus menghampiri dari kehidupan yang serba darurat? Tak ada cara lain, selain dari pada menikmatinya, layaknya adegan berjoget membawa box-box: kita kan terus gembira, bernyanyi dan suka ria. Siswa-siswi SMKN 3 Tasikmalaya yang bergiat di Teater Gawe ketika merasa bahwa kurikulum sekolah tidaklah membebaskan pikiran siswa. Tidaklah lantas memilih berhenti sekolah tapi memindahkannya ke dalam pertunjukan 03:30”. Sebuah migrasi dari yang politik menjadi yang simbolik. Panggung menjadi tempat lalu lintas tegangan mulai dari tugas-tugas, persoalan orang tua, ijazah, citra, dikejar-kejar waktu, liburan kegagalan, kepala sekolah, adegan yang mesti diselesaikan, dan lain sebagainya selama 75 menit di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Pertunjukan "03:30" Teater Gawe - SMKN 3 Tasikmalaya. Foto: Muhammad Cahoirul Adji.


Para pelakon hadir sebagai orang-orang tanpa nama yang berpindah-pindah menjadi 'sekumpulan siswa', 'orang tua' dan 'guru'. Tubuh remaja yang senantiasa siaga, didisiplinkan.  Pada salah satu adegan, panggung hanyalah sebuah cahaya yang menyinari ruang kosong dengan suara-suara yang keluar dari kegelapan. Percakapan remaja tentang orang tua mereka sendiri: orang tua kolot, kurang piknik.. dan lain sebagainya. Seakan memberikan tempat untuk tumbuhnya imajinasi penonton ketika yang berada di atas panggung hanyalah sebuah suara semata.

Setiap adegan dalam pertunjukan menjelma momen tatapan dari celah urgensi keremajaan, yang dibenturkan dengan tatapan yang umum, sebuah nilai-nilai yang diletakan dalam sendi-sendi kehidupan. Panggung layaknya sebuah tumpukan cerita bergambar dan fotografi hadir sebagai strategi penyutradaraan.


Pertunjukan “03:30” dari Teater Gawe - SMKN 3 Tasikmalaya tidak hanya memperlihatkan ideologi teater remaja dalam mengolah esetika pertunjukannya, tapi juga telah memperlihatkan bagaimana remaja bersiasat di zamannya.  


[John HeryantoWartawan Daunjati]

Related

Teater 7322024041398546422

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item