REMAJA DALAM HUJAN KENANGAN

Pertunjukan "Cinta dan Bencana" Bengkel Sastra dan Seni SMAN 1 Majalaya dalam Festival Teater Remaja VI Se-Jabar Banten. Foto: Tim Dokumentasi FTR 6.

DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (26/4) “Banjir datang setiap tahun sehingga warga sudah terbiasa dengan hal itu, tapi tak ada upaya dari siapapun untuk mengatasinya selain cuap-cuap, apalagi dari pemerintah.... Zaman sekarang orang tak bisa menjaga alam.”, keluh seorang pemuda yang berseragam coklat di awal dan akhir pertunjukan dalam “Cinta dan Bencana” dari Bengkel Sastra dan Seni SMAN 1 Majalaya.  Sebuah banjir yang ditunggu Keluarga Tukang Perahu, sebab “..kalau terus-terusan banjir, penghasilan ini meningkat, bisa bikin rumah mewah…. Tak usah merasa tersaingi oleh para relawan banjir, mereka sibuk untuk foto-foto dan mengangkut yang meliput”. Sebuah banjir di setiap musim hujan bagi sepasang muda-mudi kasmaran akan berdiam diri ketika semua orang mengungsi karena “dalam hujan ada rahasia kita”  ada “cinta” meski pada akhirnya tenggelam dibawa arus seperti halnya tukang perahu yang mencari uang di tengah banjir. Begitulah sebuah pertunjukan bergulir selama 65 menit di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (25/4). Dengan membagi panggung menjadi dua ruang. Ruang depan sebagai aliran air dan tepian yang jauh untuk sebuah bangku taman, pacaran dan lalu lintas anak sekolah. Sedangkan ruang belakang menjelma jembatan bambu dengan gambar bulan di layar belakang panggung sebagai tempat lalu lintas pengungsi, rumah, keluarga perahu, keluh kesah dan dataran tinggi melihat kampung.  Lantas bagaimana remaja mengurai habitatnya dalam teritori banjir?

Pertunjukan "Cinta dan Bencana" Sanggar Sastra dan Seni SMAN 1 Majalaya dalam Festival Teater Remaja VI Jabar Banten. Foto: Tim Dokumentasi FTR 6.

“Banjir datang setiap tahun…itu adalah kenangan dan kita tetap ceria”, begitulah nyayian gerombolan remaja membawa tas, koper, dispenser, buntelan, dan televisi sambil bergoyang setelah banjir.  Sebuah adegan yang singkat d imana para pelakon keluar dari kanan; bernyayi dan pergi lagi ke kiri panggung, sebelum kisah cinta muda mudi  bersemi dan tukang perahu bergulir hingga usai. Keceriaan remaja barangkali seperti pula adegan segerombolan tubuh yang dibalut sampah plastik. Mengibarkan kain berwarna coklat seperti pula warna pakaian relawan, meliuk-liuk kanan kiri terombang ambing angin. Sebuah koreografi banjir dari sesuatu yang ditunggu sebagai kenangan sepanjang tahun sekaligus yang dikeluhkan. Remaja pada akhirnya menjadi seorang yang senantiasa meraba ingatannya sendiri sekaligus menjadi cara memelihara kenangan bahwa kampung kita itu banjir?

Lewat “Cinta dan Bencana” Bengkel Sastra dan Seni SMAN 1 Majalaya telah memperlihatkan  upaya remaja dalam mengurai  tubuhnya diantara yang tumbuh dan berlangsung dalam biografi sosialnya. Setidaknya teater menjadi cara lain menelisik banjir.

[John Heryanto, Wartawan Daunjati]

Related

Teater 8219543178004610625

Posting Komentar

emo-but-icon

item