REMAJA DALAM IDENTITAS YANG LABIL


 
"Bulan Bintang dan Malam" Teater Cikal di FTR 6. Foto oleh Adi Permana
DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (26/4) Layar merah mulai terbuka, dua orang aktor duduk di tengah panggung, tertutup oleh kain putih, keduanya mencoba untuk keluar dari kain itu: tangan, kaki dan kepala perlahan-lahan keluar, sampai akhirnya seluruh tubuh mereka dapat keluar dan yang tersisa hanyalah celana kolor yang mengikat di masing-masing pinggang mereka. Setelah berhasil keluar dari kain putih itu, keduanya berlari berlainan arah. Tetapi ada yang terikat di masing-masing tubuh mereka, seutas tali dan tak bisa dilepaskan. Sampai kemudian, mereka saling mengikatkan tali itu ke leher mereka masing-masing dan akhirnya mati. Segerombolan orang yang memakai baju hitam dan membawa lilin masuk mengitari kedua aktor yang telah mati tadi. Tubuh yang hanya tersisa celana kolor tadi, kini ditutupi kain putih oleh gerombolan hitam, lalu blackout.

Panggung kembali terang dan seorang ibu duduk di atas kursi putih memandangi langit malam, di atas panggung kain-kain putih menjuntai dari atas beten (atap panggung). Lalu datang tokoh suami yang memperingatkan isterinya agar tidak diam terlalu lama di luar. Sementara sang isteri, mencoba untuk menceritakan apa  yang sedang dia pandangi sejak dari tadi diam di luar, tentang malam, bulan dan tiga bintang yang tetap setia menemani sang bulan. Apa yang diceritakan sang isteri, dianggapnya hanyalah sebagai angin yang berlalu dan bukan apa-apa, lantas dia pun pergi meninggalkan sang isteri. Sementara sang isteri menganggap apa yang dia lihat dan dia ceritakan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi dirinya, ada emosi yang tiba-tiba naik ke ulu hati, ketika dia memandangi malam, bulan dan tiga bintang yang menemaninya. Gerombolan aktor yang memakai baju putih tiba-tiba datang dari arah kanan, mereka menamakan diri mereka sebagai pasukan petir yang membawa tokoh isteri ke dalam buaian impiannya, tentang bintang, bulan dan malam.

Di sebuah ruang ‘entah berantah’, Jaka berdiri di tengah panggung, menyampaikan kekesalannya pada dunia yang ia huni. Menanyakan tentang keadilan dan keberadaan tuhan. Lalu muncul seorang aktor yang memakai jubah hitam dan berpenampilan seram, yang selama ini membesarkan Jaka dan kembarannya, Nata, yang berpenampilan serba rapi. Berbeda dengan Jaka yang sedikit acak-acakan. Menurut ramalan tokoh malaikat pembangkang, Jaka ditakdirkan untuk menjadi profesor, tetapi dia kurang keras dalam usaha mengapai cita-citanya. Sementara itu, Nata ditakdirkan menjadi seorang pengusaha, yang sekarang sudah tergapai. Kemudian muncul segerombolan orang yang memakai baju putih dan menamakan dirinya sebagai malaikat berpendidikan yang selalu ditakuti oleh malaikat pembangkang, di dalam gerombolan itu munculah Brata yang masih satu darah dengan Jaka dan Nata.

Sang Isteri pun dibawa oleh pasukan petir ke dunia ‘entah berantah’ itu dan bertemu dengan Jaka dan Nata yang ternyata merupakan anaknya yang telah lama digugurkkan. Lalu setelah itu, mereka pun dipertemukan dengan Brata yang ternyata juga merupakan kakak kandung dari Jaka dan Nata. Ketika lahir, Brata langsung dibunuh oleh bapaknya. Semua anak yang terlahir laki-laki, tidak diinginkan oleh sang suami, karena sang suami menginginkan anak perempuan yang akan memberikannya kasih sayang seorang ibu, yang tidak didapatnya di panti asuhan..
Drama ini pun diakhiri dengan dibawanya Jaka dan Nata oleh Brata yang merupakan pasukan dari malaikkat berpendidikan yang tidak suka pada mereka berdua, dan sang Ibu yang meratapi ketiga kuburan anak-anaknya.

"Bulan Bintang dan Malam" Teater Cikal di FTR 6. Foto oleh Adel Pratiwi

Melihat cerita pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh suami terhadap setiap anak laki-lakinya, saya jadi teringat kisah Firaun yang sering disampaikan oleh guru ngaji di madrasah. Firaun membunuh setiap anak laki-laki yang lahir, karena anak itu kelak akan membunuhnya, tetapi ternyata isteri Firaun, Asiah, memungut seorang anak laki-laki yang ditemukannya di Sungai Nil, yang kelak berhasil membunuh Firaun. Hal yang menjadi keganjilan dalam pertunjukan ini adalah: pertama, kenapa tokoh suami mencari kasih sayang seorang ibu dari anak sendiri?. Kedua, kenapa sang isteri masih saja setia kepada si suami, setelah dia membunuh ketiga anaknya, hanya demi mendapatkan seorang anak perempuan?. Jika dalam kebiasaan masyarakat kita, seseorang biasanya mencari kasih sayang dari orang yang dia cintai. Seorang isteri pasti sudah meninggalkan suaminya yang telah membunuh ketiga anaknya sendiri, hanya demi satu orang anak yang belum tentu adanya!.

Tempat ‘entah berantah’ pun menjadi aneh, tidak jelas posisinya. Di sana terdapat gerombolan malaikat berpendidikan, satu malaikat pembangkang dan nyawa-nyawa yang tergantung. Jika saya boleh bertanya: sebenarnya ini di mana? Dikatakan dalam dialog antara Jaka dan Ibu bahwa “di tempat ini memang agak sedikit berbeda dengan di dunia yang Ibu huni di sana, satu tahun di sini sama dengan delapan belas tahun di dunia sana!”, ucap Jaka, seseorang yang ditakdirkan menjadi profesor tapi tidak bisa membedakan antara Insomnia dan amnesia, pertanyaannya adalah: kenapa tokoh Jaka bisa tahu perbandingan konversi waktu di dunianya dan dunia yang dihuni oleh ibunya? Sementara Jaka dan Nata tidak sempat lahir, karena mereka digugurkan sejak dalam kandungan. Pada dialog sebelumnya antara Jaka dan Nata, dikatakan bahwa Nata telah didiagnosa memiliki penyakit Jantung, tapi Nata menyadari bahwa di sana tidak ada dokter. Lantas siapa yang menyampaikan mendiagnosa Nata? Kemudian para tokoh malaikat yang dibagi menjadi dua golongan, gerombolan malaikat berpendidikan dan malaikat pembangkang, pada tokoh ini saya jadi teringat salah satu puisi Saeful Badar berjudul ‘Malaikat’.

  Malaikat

Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai makhluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru

2007

Tapi sayangnya, malaikat dalam pertunjukan ini tidak memiliki sayap, seperti yang ditulis Saeful Badar. Kemudian tokoh malaikat pembangkang yang lebih mirip seperti tokoh setan dengan kostum dan makeup hitam-hitam justru berprilaku baik terhadap Jaka dan Nata, tokoh ini dibenci oleh gerombolan malaikat berpendidikan karena dianggap membangkang. Jika saja saya menjadi tokoh malaikat lain dalam cerita itu, saya akan bertanya: membangkang karena apa? Apakah karena dia berprilaku baik kepada Jaka dan Nata yang dianggap sebagai nyawa yang tergantung? tokoh malaikat pembangkang pun digambarkan dengan kostum dan makeup yang serba hitam, lebih terkesan seperti setan tapi berprilaku baik dan tokoh malaikat berpendidikan yang digambarkan memakai pakaian serba putih dan berprilaku sebaliknya. Sementara dalam pemahaman masyarakat kita setan digambarkan memiliki perwujudan yang menyeramkan dan selalu berprilaku jahat sementara malaikat digambarkan serba putih dan selalu berprilaku baik.

Saya kira dalam pertunjukan ini, banyak sekali problem identitas, baik itu tokoh, tempat, maupun cerita, yang tidak memiliki identitas yang pasti dan kabur. Mungkin ini lah teater remaja, sesuai dengan karakter remaja yang labil dan identitas yang masih dalam pencarian.

[Pahrul Gunawan, Wartawan Magang Daunjati]

Related

Teater 662698967144022956

Posting Komentar

emo-but-icon

item