REMAJA DALAM KEMELUT BUDAYA VIRTUAL

Pertunjukan "Jarum Jam Yang Berdetak" Teater Awal SMAN 6 Garut di FTR VI se Jabar Banten. Foto: Aryanti Rani


DAUNJATIONLAINE.COM – Bandung (28/4) Sebuah adegan dalam pentas  “Jarum Jam Yang Berdetak” dari Teater Awal SMAN 6 Garut. Terlihat seorang gadis memakai 'dress casual' berdiam dalam etalese, dengan beragam logo media sosial dibawahnya. Diantara kerumunan orang bebaju tidur.  Bergerak patah-patah antara tangan, kaki, pinggang dan kepala. Tubuh menjadi mesin tatapan, robotik,  remaja yang dijajakan dalam ‘gadget’. Senantiasa dikejar lonceng jam atau ‘postingan’.  Mesti berdandan, cantik dan enak untuk ‘followers’, sebagai yang hits. Remaja yang bermula mencari identitas, bercermin pada 'emak' sebagaimana yang terngiang  berkali-kali “jadilah anak yang bisa melebihi orang tua”. Lantas mencari cermin di ‘cyberspace’. Disana ia menemukan dirinya dalam identitas ‘online’, karena realitas indrawi tidak dapat mengakomodir, tidak mampu mewujudkan impian seorang gadis yang diasuh tontonan televisi seperti pelakon power ranger, robotcop, barby dan lain-lain. Sedangkan dalam realitas virtual, ia menjelma ‘selebgram’ . Namun terperangkap dalam lubang virtual, bagai ‘simulacra’ hingga tak bisa lagi dapat memiliki tubuhnya sendiri meski sekedar menatap. Sebuah kengerian hidup, yang tragis dari tumbuh kembangnya industri budaya dan  salah satunya  bernama media sosial.

Pertunjukan "Jarum Jam yang Berdetak" Teater Awal SMAN 6 Garut di FTR VI se-Jabar Banten. Foto: Aryanti Rani.


Pertunjukan “Jarum Jam Yang Berdetak” berlangsung selama 45 menit di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (28/4). Dunia remaja yang mencari namun juga penuh angan-angan antara kedekatan dengan ibu dan smartphone yang digenggam di tangan. Hadir dengan penuh kehati-hatian, apik dan detail. Lalu  lintas pesan dan citra yang berlangsung dalam virtual, diwujudkan melaui tokoh-tokoh tak bernama. Gerombolan orang-orang berkepala boks, kerumunan gadis-gadis modis, orang-orang tegap dan yang berselancar dengan papan bergambar gadget.  Keluar masuk kanan-kiri panggung, hilir mudik, dengan gerak badan yang mekanik dan cepat. Sebuah perlintasan dalam gelombang dan tanpa teritori sebagaimana lajimnya pertemuan di depan layar monitor.

Pertunjukan "Jarum Jam Yang Berdetak" Teater Awal SMAN 6 Garut di FTR VI se-Jabar Banten. Foto: Aryanti Rani

Sedangkan ruang pentas memetakan dirinya menjadi dua ruang antara rumah dalam realitas indrawi sebagai tempat pulang sang gadis mengadu kepada ibu di bagian belakang panggung sebelah kanan. Sedangkan pada momen lain di semua area panggung merupakan ruang realitas virtual dan angan-angan seorang remaja yang tidak hanya bertemu ibu  yang menjelma  tokoh fiktif dalam pikiran juga bertemu dengan berbagai tokoh-tokoh yang tak bernama, orang-orang berbedak berbaju tidur, orang-orang virtual dan televisi. Pada ruang kedua inilah, si gadis menjadi anda sekaligus melepuh, yang perlahan-lahan sirna, meniada. Seakan menegaskan bahwa realitas virtual telah menggantikan yang indrawi. Sang gadis memang menemukan keberadaanya dalam virtual namun ia menjadi tidak ada dalam indrawi, suatau yang paradoks.

Lewat pertunjukan “Jarum Jam Yang Berdetak” inilah Teater Awal SMAN 6 Garut telah menyibak yang tersembuyi dari yang dekat di gengaman tangan dan bergelindan. Dimana setiap orang meluangkan waktu untuk ‘updet’ dan ‘posting’ layaknya gadis yang “ingin bisa melebihi kedua orang tua” dan jadi hits.

[John Heryanto, Wartawan Daunjati]

Related

Teater 3070108279058634655

Posting Komentar

emo-but-icon

item