REMAJA DI PERSIMPANGAN JALAN

Pertunjukan "Jiwa Gelap Dalam Berlian" Teater Munggaran SMKN 1 Garut dalam Festival Teater Remaja VI. Foto: Tim Dokumentasi FTR 6.

Sebuah meja  plastik berwarna merah dengan berbagai botol berisi cairan kimia di atasnya . Dua orang remaja adik kakak bermana Asep dan Neng membuat sebuah formula bernama “Dadu dilempar berlianpun datang” di atas meja belajar dalam kamar. Hingga membawanya pergi memasuki kumpulan orang-orang pengguna smartphone, berbaju hitam, lampu disko dan cahaya. Dua remaja desa yang gembira berada di kota namun ketika mengakrabi pergi nongkrong ke mall, café shop, club malam, video game dan berbagai tempat  hiburan, merasa menjadi orang asing, kesepian dan gelap. Kehidupan kota nyatanya tidak lah seperti apa yang dibayangkan ketika masih tinggal di kampung, seperti  adegan gerombolan remaja yang berdiri memenuhi panggung dan  menghadap layar monitor, tubuh dari ruang yang sempit  di mana bangunan disusun ke atas dengan pintu rumah yang selalu tertutup. Begitulah kisah “Jiwa Gelap Dalam Berlian” bergulir dari Teater Munggaran SMKN 1 Garut di Gedung Kesenian Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung selama 45 menit. Asep dan Neng barangkali dua pribadi yang mencoba berpaling dari internet, mall dan nongkrong di tempat keramaian seperti pada umumnya remaja kota menikmati waktu luang. Namun, di kampung nyatanya smartphone, berbagai perangkat elektronik, minimarket dan lain-lain juga telah ada sebelum dirinya dilahirkan.  Kemanakah remaja akan berlabuh, ketika peradaban terlanjur dibangun berdasarkan modal?

Pertunjukan "Jiwa Gelap Dalam Berlian" Teater Munggaran SMKN 1 Garut dalam Festival Teater Remaja VI. Foto: Tim Dokumentasi FTR 6.
Pribadi kota dalam “Jiwa Gelap Dalam Berlian” coba dihadirkan dari apa yang dikenakan oleh para pelakon semisal gadis-gadis memaki yukensi yang biasa dipakai Neng sebagai pakaian dalam dengan berbagai warna, yang dibenturkan dengan tubuh Asep dan Neng yang merunduk seakan menutupi sesuatu yang tersimpan layaknya “aku rindu ingin bermain  pencle, ucing sumput bersama teman-teman dulu, bukan android.".  Selain dari prilaku kota yang buruk seperti adegan mabuk-mabukan, main video game, clubbing, berantem dan lain-lain, dan orang kampung yang sopan dan arif seperti sikap Asep dan Neng.

Meski tak seluruhnya dapat terbahas antara desa-kota, setidaknya melalui pertunjukan “Jiwa Gelap Dalam Berlian” Teater Munggaran mencoba untuk menelisik kembali keterkaitan tata ruang dengan remaja di dalamnya.  

[John Heryanto, Wartawan Daunjati]

Related

Teater 5894422404476215928

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item