REMAJA YANG MENCARI SAWAH DALAM KEPALA IBU

Pertunjukan "Menulis Kenangan" Bale Seni Tarate SMAN 1 Cikande Serang Banten dalam Festival Teater Remaja VI. Foto: Bayu Rekartono


DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (27/4) Segerombolan ramaja dengan keranjang di punggung dan setumpuk jerami kering di dalamnya. Menghirup angin dalam-dalam, dengan mata yang menatap jauh ke langit-langit. Tubuh lapang, dari remaja yang bermain di sawah. Berkejaran bersama angin, berlarian di pematang sawah main gundu, ucing sumput dan lain-lain. Hingga sawah-sawah itu hilang sebab dijual dan tinggalah kenangan masa kecil ibu, jadilah sebuah dongeng sawah yang diceritakan sang ibu kepada anaknya yang bermain smartphone. Sang anak yang tak lagi bermain di sawah seperti ibunya dulu lantas mencari dongeng sawah di sekolah dalam buku–buku pengatahuan alam, mencari kisah nenek-kakek peladang atau siswa berseragam putih abu-abu sebut “aku ingin menuliskan kenangan” Begitulah kisah dalam pertunjukan “Menuliskan Kenangan” Bale  Seni  Tarate SMAN I Cikande Banten selama 30 menit  di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung (27/4). Barangkali satu-satunya yang tersisa dari kebudayaan bertani hanyalah  video game Harvestmoon, Lantas bagaimana remaja tumbuh di era industri selain merawat dongeng sawah?

Pertunjukan "Menulis Kenangan" Bale Seni Tarate SMAN 1 Cikande  Serangn Banten dalam Festival Teater Remaja VI. Foto: Bayu Rekartono

Sebuah bebegig sawah yang bertopi abu-abu dan menggendong tas sekolah yang dibuat oleh segerombolan anak sekolah dari jerami dalam kelas pada adegan akhir. Memperlihatkan bahwa ibu menjual sawah semata-mata  untuk sebuah harapan hidup yang lebih baik termasuk biaya menyekolahkan anak. Sawah yang kini jadi pabrik sepatu dari sebuah merek sepatu yang dipakai anak sekolah dan ibu bapak yang kerja di 
pabrik sepatu itu pula. Suatu yang menghimpit, didesak keadaan terutama kemiskian yang telah menjadikan seorang ibu menjual sawah dan membiarakan anak cucunya bekerja di pabrik sambil merawat dongeng tentang sawah.

Suara kendang yang menghentak-hentak, kecrek dan suling mengalun  hadir sepanjang kisah, dan sepanjang adegan berlangsung . Hadir  lebih hidup ketimbang laku para pelakon  seakan ingin mengatan bahwa kenangan akan sawah  lebih nampak ketimbang yang dilihat di atas pentas.

Melalui pertunjukan  “Menuliskan Kenangan”  Bale Seni Tarate SMAN 1 Cikande Serang mencoba menelisik persoalan agraria yang bergelindan disekitar, yang selalu tak tuntas dan abai.

[John Heryanto, Wartawan Daunjati]

Related

Teater 7833292798130027122

Posting Komentar

emo-but-icon

item